SECERCAH ASA DIBALIK SUNSET

SECERCAH ASA DIBALIK SUNSET
STILL ON PANTAI TELUK KILUAN


__ADS_3

Matahari hampir tinggi ketika mereka selesai mendirikan tenda dan perlengkapan lainnya. Dan kini mereka sedang duduk menikmati hamparan laut yang indah di dalam tenda.



"Ternyata pikiran tenang juga ya kalau lihat laut gini," Ucap Tayana sambil menyesap minuman soda dingin yang sudah dibawa Harsen sebelumnya.


"Mulai hari ini, kita ubah panggilan," Ucap Harsen tiba-tiba.


"Hah? Maksudnya?,"


"Coba panggil sayang sekali aja," Lanjut Harsen.


Sontak pipi Tayana memerah mendengar ucapan Harsen.


"Masih canggung, buat manggil sayang,"


"Di biasain pasti bisa, mulai sekarang kalau kamu gak manggil sayang. Kamu bakal dapat hukuman,"


"Tap-,"


"Gak terima penolakan,"


Baru saja ingin protes, Tayana langsung terdiam mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Harsen.


Di sela-sela pembicaraan mereka, terlihat paus dan lumba-lumba dari kejauhan sedang melakukan atraksi yang luar biasa. Sehingga mengalihkan atensi Tayana dari topik obrolan mereka sebelumnya, dan langsung berlari keluar tenda meninggalkan Harsen yang cengo melihat tingkahnya.


"Wahh, sumpah lucu banget," Pekiknya.


Ketika sedang asyik melihat atraksi lumba-lumba dan paus itu, tiba-tiba ia teringat dengan kamera yang ia bawa sebelumnya. Dan berlari kembali ke tenda untuk mengambilnya.


"Ayo kita lihat, mereka lucu-lucu banget,"Rengek Tayana.


"Panggil sayang dulu, baru kita kesana," Pinta Harsen.


"Iih ayo buruan, nanti mereka keburu pergi loh,"


"Ga,"


"Sayang ayo dong," Pinta Tayana dengan pipi yang sudah memerah menahan malu.


Seketika senyum Harsen mengembang mendengar kata sayang yang keluar dari bibir Tayana.


"Good job my baby girl," Ucap Harsen sambil mengecup sekilas bibir Tayana dan mengacak-acak rambutnya.

__ADS_1


"First kiss gue bangsat," Pekik Tayana dan langsung mengejar Harsen karena telah mencuri ciuman pertamanya.


"Eh ga boleh toxic, ga boleh toxic,"


Harsen terus berlari dari kejaran Tayana hingga mereka tiba di bibir pantai dengan nafas terengah-engah.


"Capek gak?,"


"Pake nanyak lagi, ya capeklah. Ini semua gara" kamu. Lihat, paus dan lumba-lumbanya kan udah pergi,"


"Tunggu sebentar lagi sayang, atraksi mereka belum mulai,"


"UDAH SELESAI DARI TADI," Pekik Tayana kesal karena momen langka itu belum sempat ia abadikan.


Tak lama kemudian, tiba-tiba muncul paus dan lumba-lumba melompat ke permukaan air laut beserta kelompoknya masing-masing. Mereka seakan-akan saling berlomba untuk menunjukkan kelincahan dan keindahannya.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Tayana segera mengeluarkan kameranya untuk mengabadikan momen langka itu.


"Sayang aku mau tanya sesuatu, boleh gak?," Tanya Harsen yang membuat Tayana menghentikan aktivitasnya.


"Boleh, anything you want, you can ask to me (Apapun yang kamu mau, kamu boleh tanya kepadaku),"


"Kamu tadi bilang itu first kiss kamu. Aku gak salah dengar kan?," Tanya Harsen.


"Itu benar, aku gak pernah izinin mantan aku untuk menjamah tubuh aku terlalu jauh. At least walaupun itu sekedar ciuman. Paling jauh cuman pegang tangan, cium kening dan pipi doang. Karena aku ingin menjaga semuanya untuk my future husband,"


Harsen tersenyum bangga mendengarnya, karena ia yang mendapatkan first kiss Tayana. Walaupun cuman sekedar kecupan ringan. Dan sekali lagi, ia kagum dengan seorang Tayana yang mempunyai pemikiran seperti itu.


"Makan yuk," Ajak Harsen.


"Oh iya, karena sibuk ngelihat mereka kita jadi lupa makan siang," Ucap Tayana. Dan mereka langsung bergegas ke tenda.


Mereka menikmati makan siang di selingi canda tawa yang membuat mereka selangkah lebih dekat. Awalnya mereka canggung dengan hubungan yang sedang mereka jalani karena terlalu mendadak bagi Tayana. Namun hari ini, mereka mulai ada kemajuan sedikit demi sedikit.


Selesai makan siang, mereka melakukan banyak kegiatan. Mulai dari bermain catur, kejar-kejaran di tepi pantai karena keisengan Harsen, hingga tidur bersama karena kelelahan.


Tepat pukul lima sore, alarm Harsen berbunyi dan membuat mereka berdua terbangun.


"Udah jam berapa sih," Tanya Tayana yang masih menguap karena menahan kantuk.


"Jam 5 sore sayang, ayo kita kemasin semua barang-barang kita. Bentar lagi udah mau maghrib, nanti sampai kos kemaleman," Jawab Harsen lalu mengelus kepala Tayana.


"Tapi kita pulangnya setelah lihat sunset ya sayang. Aku pengen mengabadikan sunset hari ini. Belum tentu yang terjadi hari ini bakal terjadi esok hari,"

__ADS_1


"As you wish sayang," Ujar Harsen singkat.


Kurang lebih setengah jam mereka mengemasi semua barang-barang. Lalu memasukkannya ke bagasi mobil, dan sekarang mereka duduk diatas pasir menikmati suasana sore menjelang malam.


"Jangan jadi seperti sunset ya," ujar Tayana ambigu.


"Hanya menunjukkan keindahan sejenak, lalu menghilang meninggalkan keindahannya yang membekas di hati dan pikiran," Lanjut Tayana.


Harsen hanya dia mendengarkan ucapan Tayana.


"Mungkin ini saatnya Tayana mempercayai gue untuk tahu masalah hidupnya," Batin Harsen.


"Terkadang aku mau seperti sunrise aja. Yang bermanfaat bagi orang banyak, selalu dinantikan semua orang kehadirannya," Lanjutnya.


"Hidup tidak harus sesuai keinginan kita sayang. Apa yang kita inginkan, belum tentu yang terbaik untuk kita. Kalau kamu merasa hidup tidak adil, coba kamu berpikir dua kali untuk mencari dimana letak ketidakadilan yang Tuhan kasih ke kamu," Ucap Harsen mencoba memberi masukan.


Setetes air mata mulai berjatuhan dari pelupuk mata Tayana. Ia merasa lemah saat ini, ia merindukan ibunya, merindukan kenangan bersama daddy dan mommy nya. Ingin berkeluh kesah, tapi tidak tahu ingin menumpahkannya kepada siapa. Bercerita kepada Renzah masih terasa hambar, tidak sepuas bercerita dengan ibu. Ya, ia hanya merindukan sosok ibu yang ia anggap sahabatnya sekaligus.


"Hey, look at me baby. Anggap aja yang sedang kamu rasain sekarang ini adalah tangga untuk kamu mencapai kebahagiaan di masa yang akan datang. Di depan sana pelangi menunggu kamu. Kamu gak tau kan, seberapa indahnya sesuatu di depan sana. Maka untuk mencapai sesuatu di depan sana, kamu harus bisa bangkit dari keterpurukanmu. Kamu terlalu lemah untuk seorang ibu hebat yang telah melahirkanmu ke dunia ini,"


Harsen berusaha menenangkan Tayana semampunya. Memberikan kalimat motivasi dan memberikan pelukan hangat untuk menenangkannya.


"Sekarang, kamu lihat matahari yang hampir tenggelam di depan. Kamu boleh teriak sepuasnya disini. Keluarin semua uneg-uneg kamu, anggap matahari itu sesuatu yang menjadi masalah kamu. Dan kamu katakan padanya, bahwa kamu gak bakal takut menghadapi hari esok," Lanjut Harsen.


"ARGHHHH, LO INGET YA. GUE GAK TAKUT HADAPIN HARI ESOK, KARENA APA? KARENA LO ITU SEKARANG KECIL DIMATA GUE. LO GAK PANTAS HANCURIN HIDUP GUE, DAN LO GAK PANTAS PUTUSIN HARAPAN GUE. MULAI SEKARANG, GUE TAYANA ANATASYA AKAN BANGKIT UNTUK MENGEMBALIKAN HARAPAN GUE YANG TERLANJUR HILANG KARENA LO YANG DULUNYA BESAR DI HIDUP GUE,"


Usai mengeluarkan semua uneg-unegnya, ia pun merasa lega. Dan menenggelamkan kepalanya dipelukan Harsen.


"Thanks, udah ada di samping gue. Terus di samping gue dan jangan pernah pergi," Ucap Tayana.


"Gue orangnya egois. Sekali itu milik gue, gak bakal gue lepas," Lanjutnya.


"Dengan di saksikan sunset. Hari ini gue bakal umumin ke penjuru dunia, kalau lo-," Tunjuk Tayana ke dada Harsen.


"HARSEN ANANDRA HANYA MILIK TAYANA ANATASYA SEORANG,"


Ia berteriak tepat sebelum matahari tergelincir di ufuk barat.


"Yes, i'm yours baby," Ucap Harsen memeluk erat Tayana.


....................


Halo para readers, maafin author ya yang lama update. Semalam lampu disini mati seharian, jaringan gak ada. Dan handphone author lowbet, jadinya hari ini bisa update. Maaf yaa🙏🙏, and happy reading for you guys😊😊😉

__ADS_1


__ADS_2