SECERCAH ASA DIBALIK SUNSET

SECERCAH ASA DIBALIK SUNSET
KERAGUAN


__ADS_3

Di lain tempat, beberapa orang sedang mencemaskan keadaan teman-temannya yang menghilang tidak ada kabar sama sekali.


"Ini mereka pada dimana sih," Steven dari tadi mondar-mandir mencemaskan teman-temannya yang menghilang.


"Iya, gak biasanya mereka acuhin grup," Sahut Syehan seraya mengetukkan jarinya ke dagunya mencoba untuk mengingat tempat-tempat yang biasa mereka datangi.


"Apa jangan-jangan mereka diculik ya?," Celetuk salah seorang anggota Harder Team.


"Logikanya aja bro, seorang Harsen dan Rayyan diculik?," Seru yang lainnya.


"Yang ada penculiknya yang diculik sama mereka," Lanjutnya kemudian sambil melemparkan kulit kacang ke arah salah satu rekannya.


"Ini gak bisa di biarin, kita harus gerak. Perasaan gue gak tenang," Sahut Steven menimpali.


Bak pucuk di cinta, ulam pun tiba. Nama orang yang sedang di bicarakan pun terpampang jelas di ponsel Steven. Ia langsung saja mengangkat telepon tersebut, lalu menghidupkan tombol loudspeaker agar para anggota Harder team dapat mendengar.


"Apa!," Pekik Steven.


"Oke-oke, share lock sekarang juga cepetan," Steven langsung mematikan ponselnya dan bergegas untuk menyusul teman-teman mereka bersama para anggota Harder Team.


................


Mobil Harsen dan Rayyan terus beriringan untuk mengikuti mobil yang membawa Tayana dan Renzah. Namun ketika sampai di perempatan jalan, sebuah mobil truk menghalangi jalan mereka sehingga mereka kehilangan jejak mobil itu.


"Sial, gue udah kehilangan jejak mereka," Umpat Harsen memukul setir mobilnya.


Tak berapa lama, Rayyan langsung mengubungi Harsen untuk menenangkannya agar tidak melakukan hal yang merugikannya.


"Lo tenang aja, kita bakal terus cari mereka sampai ketemu. Tapi besok!,"


"Sekarang kita balik, udah mulai larut malam juga," Sahut Rayyan dari balik telepon.


"Gue gagal Yan. Gue gak becus jagain dia," Desis Harsen, ia terus saja menyalahkan dirinya sendiri seraya menaikkan kecepatan mobilnya diatas rata-rata.


"Sekarang lo turunin kecepatan mobilnya. Berhenti di depan situ!, dan jangan kemana-mana," Titah Rayyan lalu bergegas menyusul Harsen.


..............


Seorang gadis baru saja terbangun di sebuah kamar. Ia menyipitkan matanya ketika netra matanya menangkap sinar lampu yang terasa menyilaukannya. Perlahan ia berusaha untuk duduk bersender di ranjang.


"Gue udah di surga ya?," Pertanyaan konyol tiba-tiba terlintas di benak gadis itu. Ketika ia teringat kejadian terakhir yang menimpanya.


"Ya ampun, syukur deh akhirnya lo siuman juga," Pekik seseorang lalu memeluk gadis itu dengan erat.


"Ini kita dimana Zah?," Renzah yang mendengar pertanyaan Tayana langsung melepaskan pelukannya.


"Kita ada di villa seseorang. Gue juga gak kenal," Ucap Renzah menaikkan kedua bahunya tanda ia tidak tahu.


"Kalau kita di culik lagi gimana," Seru Tayana. Tidak di pungkiri, kejadian itu menyisakan trauma tersendiri bagi gadis itu.


"Ponsel gue juga tinggal di dalam tas kemarin,"


"Udah lo gak usah banyak pikiran. Feeling gue mengatakan kalau sekarang kita aman," Sahut Renzah lalu menyodorkan segelas air putih untuk Tayana.


"Sekarang minum dulu, biar badan lo mendingan,"


"Gue takut Harsen nyariin gue," Bahu Tayana seketika merosot membayangkan kekhawatiran Harsen terhadapnya.


"Oh iya gue baru inget, Harsen dan Rayyan tadi nyusulin juga. Tapi mereka tertinggal jauh dibelakang," Renzah kemudian menceritakan kronologi awal ia, Harsen, dan Rayyan tahu bahwa Tayana di culik.

__ADS_1


Ketika sedang asyik berbincang, tiba-tiba saja pintu terbuka dan menampilkan seorang pria paruh baya penuh wibawa.


"Syukurlah kamu sudah siuman,"Ujar orang itu lalu mengelus kepala Tayana dengan sayang.


Tayana yang mendapat perlakuan seperti itu dari pria tersebut langsung tersentuh. Hatinya menghangat mendapati itu, dan timbul perasaan senang, sedih, dan rasa ingin menangis saat itu juga. Namun sebisa mungkin ia tahan.


"Terima kasih, sudah membantu saya om," Seru Tayana setelah dari tadi membungkam merasakan usapan di kepalanya.


"Sudah jadi kewajiban saya untuk melindungimu," Tayana pun mengernyitkan keningnya mendengar penuturan orang itu.


"Putri om juga ikut di sekap sama orang itu ya?," Tanya Tayana dan mendongakkan kepalanya melihat orang yang sedang berbicara kepadanya itu.


Deg


Mata itu mengingatkannya pada dirinya sendiri. Ia memiliki warna mata yang sama dengan orang itu. Pupil mata abu-abu terang, membuat siapa saja orang yang menatapnya merasa terintimidasi.


"Bodohnya aku telah menyia-nyiakan putriku sendiri. Lihatlah Theo! Delapan puluh persen wajahnya duplikatmu. Dan sisanya mirip denganmu Clarissa," Batinnya terus bergemuruh ingin memeluk putrinya. Namun seperti ada batasan yang menghalanginya.


Tayana saling tatap dengan Renzah karena melihat pria itu melamun dan terus menatap ke arah Tayana. Ia lantas melambaikan kedua tangannya di depan pria itu.


"Maaf, saya jadi teringat putri saya. Ia seumuran dengan kalian," Ujar pria itu seraya tersenyum hangat kepada mereka. Lalu duduk di tepi ranjang itu.


"Beruntung banget putri om ya. Punya Ayah yang bapakable banget hehehe," Canda Tayana untuk mencairkan suasana.


Hati Theo tersentil mendengar ucapan Tayana. Ia jadi merasa tidak pantas untuk mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya pada Tayana.


"Hahaha, kamu bisa aja," Ia berusaha untuk tertawa agar gadis itu senang.


"Oh iya, kita belum kenalan sebelumnya. Perkenalkan nama saya Theodore Wilson, saya seorang raja di salah satu kerajaan negara Eropa," Theo mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Tayana dan Renzah.


"Perkenalkan, nama saya Tayana Yang mulia,"


"Tidak usah terlalu formal sama saya. Panggil om aja,"


"Oh iya, nama kalian sangat bagus, seperti parasnya,"


Mereka bertiga kemudian tertawa bersama mendengar ucapan Theo.


"Maafin saya sebelumnya om, udah sempat salah paham," Renzah tiba-tiba teringat akan sikapnya di awal pertemuan mereka.


"It's ok, saya tidak mempermasalahkannya sama sekali," Senyum hangat tidak luntur sama sekali dari wajah Theo. Ia teramat bahagia bisa bercengkrama dan satu ruangan dengan Putrinya.


"Oh iya, kalian belum makan bukan?. Mari kita makan bersama. Pelayan sudah menyiapkan makan malam untuk kita,"


"Walaupun sudah larut malam, tapi perut harus tetap di isi juga. Ayo,"


Tayana dan Renzah hanya menganggukkan kepala sopan menanggapinya.


Mereka kemudian beranjak dari kamar menuju ruang makan. Theo dan Renzah melangkah duluan meninggalkan kamar itu. Namun ketika Tayana menurunkan kakinya ke lantai, tubuhnya tiba-tiba merasa limbung dan jatuh seketika.


Bruk


Mendengar suara terjatuh dari belakang mereka, Theo dan Renzah langsung bergegas menghampirinya.


"Kamu tidak apa-apa?," Tanya Theo, lalu memindai pandangannya ke seluruh tubuh Tayana.


"Gak apa-apa om, saya cuman merasa lemas. Kaki saya terasa seperti jelly,"


"Maafin gue Tay, gue kira keadaan lo udah mendingan. Jadi gue langsung jalan aja tanpa bantuin lo dulu," Sesal Renzah. Sekali lagi, ia gagal membantu sahabatnya.

__ADS_1


"Lo gak salah, emang gue aja sih yang keras kepala. Sok kuat, padahal aslinya mah enggak hehe,"


Tanpa di duga-duga, Theo langsung menggendong Tayana ala bridal style dan membawanya menuju ruang makan agar putrinya bisa segera istirahat.


Tayana menatap Theo dengan pandangan yang tak bisa di artikan. Ia merasa akrab dengan pria itu, padahal ia tidak punya hubungan apa pun dengannya.


Renzah yang melihat kejadian di hadapannya barusan pun bertanya-tanya dalam benaknya. Ada hubungan apa Tayana dengan orang itu. Namun pertanyaan itu hanya bisa ia pendam. Ia pun segera menyusul mereka berdua.


Sementara Tayana yang berada di gendongan Theo terus saja menatap pria itu lekat.


Para pengawal yang melihat Theo menggendong Tayana lantas mengambilkan kursi roda, namun di tolak oleh Theo. Ia ingin lebih lama mendekap putrinya. Ia bahkan ingin menghentikan waktu saat itu juga.


"Nah kita udah sampai," ucap Theo lalu menurunkan Tayana di kursi ruang makan itu.


"Ayo silahkan di makan semuanya. Jangan sungkan, bila perlu tambah sekalian,"


Para pelayan langsung mengambilkan makanan untuk mereka. Dan kembali berbaris di belakang mereka setelah selesai.


Mereka makan dengan tenang, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang saling beradu di ruang makan itu.


Setelah selesai makan, Theo kembali menggendong Tayana menuju kamarnya dan disusul Renzah.


"Maaf om, apa kita pernah bertemu sebelumnya?. Wajah om sangat familiar bagi saya," Ucap Tayana.


Theo terkejut mendengar penuturan Tayana. Apakah ini yang dinamakan kontak batin antara orang tua, pikirnya.


"Mungkin wajah saya memang pasaran dan mirip dengan banyak orang hehehe,"


"Hahaha bisa jadi ya om," Tawa Renzah.


"Tapi merasa akrab juga," gumam Tayana.


"Kamu bilang apa barusan?," Tanya Theo.


"Ah tidak ada om," Elak Tayana.


"Baiklah, sekarang kalian istirahat dulu. Kalian boleh disini sampai kapan pun kalian mau,"


"Kalau begitu saya permisi dulu. Selamat malam," Pamit Theo lalu keluar dari kamar itu. Ia tidak tahan berada di kamar itu dan menahan sesak di dadanya lebih lama lagi.


...........


"Bagaimana keadaan putriku? Apa dia baik-baik saja? Jangan biarkan penculikmya bebas begitu aja. Dia harus membayar semuanya," Suara seorang wanita terdengar bergetar menanyakan itu.


"Tanya satu-satu sayang, putri kita aman. Dia sekarang bersamaku. Kamu tidak usah khawatir, Robert dan yang lainnya sudah mengamankannya," Jawab Theo. Ia melakukan panggilan video call kepada istrinya. Agar ia tidak mengkhawatirkan putrinya.


"Apa kau sudah mengatakannya kepadanya?," Tanyanya.


"Belum, aku bingung. Aku tidak tahu bagaimana caranya mengatakannya kepadanya," Ia tertunduk dan tanpa terasa buliran bening terjatuh juga dari pelupuk matanya. Bahunya bergetar menahan isak tangisnya.


"Kamu pasti bisa Theo. Katakan saja yang sebenarnya. Aku tidak ingin ia terus bersedih, hatiku sakit membayangkannya. Ia sudah terlalu lama menanggung beban ketika aku meninggalkannya," Terdengar juga isakan tangis darinya.


Malam itu, sepasang suami istri menangis bersama di belahan bumi yang terpisah. Meratapi kesalahan mereka di masa lalu yang berdampak kepada anak mereka.


..............


Maafin Author karena tidak update selama beberapa hari. Author lagi kurang sehat.


Dan jangan lupa bayar cerita aku pakai vote kalian yaa. Jangan lupa di like, komen, dan fav yaa. See u in the next chapter guys 👋👋.

__ADS_1


__ADS_2