SECERCAH ASA DIBALIK SUNSET

SECERCAH ASA DIBALIK SUNSET
TERBUKA


__ADS_3

"Lah, gak ada lift yang rusak. Tadi kata perawat yang disana kalau disini lagi ada orang yang terjebak di dalam lift," seru Niko heran sambil terus celingak-celinguk mencari lift yang dimaksud.


"Mungkin dia lagi kobam kali karena kebanyakan pasien," sahut Ravi.


"Iya juga ya," Mereka berdua pun kembali ke depan ruangan Harsen karena merasa tidak ada yang janggal dengan lift yang ada di lantai itu.


"Mana kopi yang disana tadi?," tanya Ravi pada Niko karena melihat di depan ruangan Harsen tidak ada lagi kopi yang sebelumnya di beli Bagus.


"Ya mana gue tahu. Kan kita tadi sama-sama ninggalin kopinya ege," Tiba-tiba lewat petugas kebersihan.


"Eh maaf pak mau nanya." sahut Niko pada petugas kebersihan itu.


"Iya ada apa?," tanya petugas itu heran.


"Bapak tadi ada lihat kopi disini gak?," tanya Niko sambil menunjuk kursi pengunjung.


"Oh, kopi yang ada logo sturbucknya ya." Niko dan Ravi pun mengangguk antusias.


"Nah iya bener pak. Bapak tahu dimana?," tanya Ravi penuh harap. Karena kalau tidak, bisa-bisa uang jajannya habis mengganti rugi semuanya.


"Sudah saya buang tadi. Saya kirain udah basi hehe," ringis petugas itu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"HAH?," pekik mereka berdua dan langsung terduduk lemas.


"Loh mas, gak apa-apa toh?. Saya panggilin dokter ya," panik petugas itu.


"Gak usah pak, kita cuman syok." sahut Niko lemas.


"Syok dikit gak ngaruh wir," jawab petugas itu sambil melenggang meninggalkan mereka berdua yang terduduk lemas karena harus memikirkan akan mengganti rugi semua kopi yang dibeli tadi.


"Anjay, bapak-bapak tiktok ternyata," celetuk Ravi lalu tertawa.


..........


Semua anggota harder team sudah sampai di markas mereka. Namun tidak ada kejanggalan yang mereka lihat ketika baru sampai halamannya.


"Semua masih aman-aman aja. Dimana yang hancur?," tanya Syehan pada Steven.


"Jangan gegabah. Ayo kita cek ke dalam," timpal Rayyan. Mereka semua pun turun dari atas motor masing-masing, lalu segera memasuki markas. Namun sama saja, masih aman terkendali.


"****," umpat Steven tiba-tiba. Rayyan menoleh padanya.


"You know what i'm thinking," Steven menganggukkan kepalanya. 

__ADS_1


"Jebakan," celetuk Bagus.


"Kita harus segera kembali ke rumah sakit. Takutnya disana kenapa-kenapa," sahut Kavi. Akhirnya mereka semua pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit karena melihat situasi markas yang masih aman.


..........


Tayana dan Renzah saat ini sedang berada di supermarket untuk membeli makanan. Mereka akan membawa makanan itu ke rumah sakit, dan akan dibagikan pada anggota harder team.


"Buah-buahan untuk Harsen perlu gak ya?." tanya Tayana sambil memegang buah pir.


"Perlu, udah lo borong aja. Nanti juga berguna," sahut Renzah menenangkan Tayana yang dari kemarin selalu tampak lesu.


"Tapi dia kan belum siuman. Nanti kalau buahnya busuk gimana," cicit Tayana. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Hust jangan nangis!" Renzah mendekati Tayana dan memeluknya dari samping. Pegawai supermarket yang kebetulan ada di etalase yang sama dengan mereka tampak heran melihatnya.


"Temannya habis putus cinta ya mbak?," seru pegawai wanita itu sambil terus menyusun barang-barang yang baru masuk. Renzah yng tidak suka urusannya dan Tayana di campuri pun menatapnya tak suka.


"Kepo lu, mending susun barang-barang lo itu secepatnya. Sebelum tangan kanan dan kiri lo pindah tempat gue bikin." Pegawai itu melirik Renzah sengit..


"Dih, sombong lu," sahutnya lalu pergi dari etalase itu.


"Pengin gue unyeng-unyeng tuh bibir kunti bogel," pekik Tayana emosi.


"Emang cukup segini doang?," tanya Tayana. Renzah menatapnya speechless.


"Ini udah satu troli full Tayana Anatasya. Gak boleh mubazir, buruan dorong trolinya," Tayana pun segera mendorong trolinya dan mengikuti Renzah menuju kasir. Saat sedang mengantri pembayaran, tiba-tiba seorang pria tampak menyalip antrian mereka.


"Woy, lu gak pernah ngantri ya." tegur Renzah. Pria itu tampak menoleh padanya dengan tatapan datar, lalu berbalik.


"Songong bener dah lu kampret," Tayana memegang lengan Renzah dan meletakkan jari telunjuknya di bibir. Mengisyaratkan Renzah untuk diam.


"Antri dong mas, kita juga dari tadi nungguin disini," celetuk Ibu-Ibu yang juga emosi dibuatnya.


"Mas mau balik antri ke belakang, atau muka mulus lo hilang detik ini juga hmm?" Pria itu tampak menoleh ke sumber suara. Yang ternyata Tayana lah yang mengucapkan itu.


"Ck ribut. Gue cuman mau beli rokok di kasir depan doang, alay banget." Cibirnya sambil menyesap rokok yang terselip di sela jari telunjuk dan jari tengahnya yang tinggal setengah lagi. Tayana tampak menelisik penampilan pria itu. Dibelakang punggung jaket hitamnya terdapat sablon nama Ravier.


...........


Saat Tayana dan Renzah tiba di rumah sakit, yang ada masih Ravi dan Niko saja. Mereka sedang bermain game bersama.


"Yang lainnya kemana?," tanya Tayana heran.

__ADS_1


"Lagi ke markas." sahut Ravi tanpa menoleh pada Tayana. Kening Tayana mengerut, gak biasanya Kavi tampak cuek padanya. Seingatnya Kavi orangnya humoris dan humble.


"Lu sakit Kav?," Ravi menoleh pada Tayana karena mendengarnya menyebut nama Kavi.


"Gue kembarannya, Ravi." sahutnya memperkenalkan diri lalu kembali fokus pada ponselnya. 


"Ayo buruan masuk. Lo katanya udah riber," seru Renzah.


"Riber apaan dah,"


"Rindu berat ahayy," 


"Bacot lo. Nih pegangin satu kantong plastik yang ini. Nanti kalau yang lain udah datang, lu bagi aja ke mereka semua," titah Tayana.


"Oke," Tayana pun memasuki ruangan Harsen. Matanya tiba-tiba mengembun saat baru saja memasuki ruangan itu. Perlahan ia menghampiri Harsen dan menggenggam tangannya.


"Sen, kamu bangun dong. Aku kangen, kamu gak rindu samaku hiks?,"


"Oh, udah berani ya nih bocil panggil gue San Sen, San Sen." batin Harsen. Karena sedari tadi ia hanya pura-pura tidur kembali saat ada yang masuk ke ruangannya.


"Ck, ulang." Tayana yang dari tadi menunduk pun terkejut mendengar suara yang baru saja ia dengar.


"Gak mungkin, ini pasti halu." gumamnya lalu kembali menelusupkan kepalanya di dada Harsen. Harsen menjentikkan jarinya di kening Tayana sehingga membuatnya mengaduh kesakitan.


"Duh, sakit banget sih." kesalnya lalu menoleh ke arah Harsen yang sudah menatapnya datar. Mata Tayana membulat kaget karena melihat Harsen sudah siuman. Hampir saja ia berteriak ingin memanggil dokter, namun bibirnya dibungkam oleh ciuman Harsen. Kembali mata Tayana membulat karena terkejut dengan aksi tiba-tiba Harsen.


"Ha-Har...." Harsen tampak mendecak.


"Sekali lagi lo panggil Harsen, bibir lo habis sama gue," 


"Iih kok pakai lo gue lagi sih," 


"Aku seneng banget, kamu udah siuman sayang." Tayana berhambur ke dalam pelukan Harsen. Tak tega dengan Tayana, ia pun menceritakan semua rencananya pada Tayana. Dan drama yang selama kurang lebih seminggu ini ia lakukan.


"Jadi selama ini kamu dengar dong ucapan aku sebelumnya," terka Tayana. Harsen menganggukkan kepalanya.


"Iih sebel banget,"


"Tapi aku masih marah ya sama kamu. Kamu udah melanggar janji kamu untuk gak ikut balapan itu." Harsen menangkup kedua tangan Tayana yang bersilang di dada.


"Aku paling benci sama yang namanya pengkhianatan. Jadi apa pun jalannya, aku akan berusaha untuk mengungkap pelaku pengkhianatan itu sayang." tutur Harsen. Ia tampak mengusap pipi Tayana.


"Kamu sabar ya, aku akan segera menyelesaikan semua masalah kita," Tayana mengangguk seolah terhipnotis dengan mata teduh Harsen yang berwarna biru.

__ADS_1


__ADS_2