
Suasana rooftop rumah sakit yang semula sunyi berubah menjadi suasana yang menegangkan. Banyak orang berpakaian khas rumah sakit dengan masker yang menutupi sebagian wajah mereka. Mereka sedang menyusun siasat dengan memindahkan seseorang dari rumah sakit itu secara paksa. Sebuah helikopter juga sudah berada diatas sana. Dan tak lupa dengan perlengkapan yang mereka butuhkan. Tampak seorang pria juga sedang mengintruksi mereka semua.
"Kalian harus bisa menyamar sebagai seorang perawat di rumah sakit ini. Kalian alihkan perhatian orang-orang yang berada di sekitarnya. Setelah kesempatan itu ada,kita langsung membawanya menggunakan lift menuju rooftop," jelas pria itu.
"Siap Dok," sahut mereka serempak.
"Baiklah, sekarang cepat laksanakan. Kita harus kerja sama sebaik mungkin," Setelah mendengar intruksi dari pria itu, mereka semua yang berjumlah enam orang itu pun langsung bergegas.
.........
Malam ini hampir semua anggota harder team datang menjenguk Harsen. Rumah sakit pun penuh pengunjung karena kehadiran mereka.
"Whatsapp bro," sapa mereka pada Rayyan, Steven, dan Syehan sambil bersalaman ala cowok.
"Gimana kabar Harsen?. Ada kemajuan gak?," tanya Kavi yang baru datang kembali setelah pulang siang tadi.
"Dokter bilang Harsen mulai bisa merespon sekitar walaupun matanya belum terbuka. Dia bisa dengar apa pun yang kita omongin," sahut Rayyan.
"Siapa yang mau masuk duluan nih?," Mereka semua berebut untuk masuk pertama. Alhasil yang pertama masuk itu Ravi yang merupakan saudara kembar Kavi.
"Jangan lama-lama lo," ucap Kavi.
"Iye-iye," Satu per satu dari mereka masuk menjenguk pasien. Namun tiba-tiba seorang perawat datang menghalau mereka masuk.
"Jangan masuk terlalu banyak. Seharusnya dalam satu hari itu maksimal dua orang dan bergantian dalam waktu yang berbeda,"
"Tapi kami bergantian masuknya. Apa masalah?," celetuk Steven dengan nada tidak bersahabat.
"Iya, khawatir kalian membawa virus dari luar yang menyebabkan proses penyembuhannya jadi semakin lambat," Perawat itu pun masuk ke ruangan ICU untuk memeriksa keadaan Harsen.
"Saya sudah di dalam ruangan pangeran. Tapi saya masih ingin memeriksa keadaannya lebih lanjut," lapornya pada seseorang dengan menggunakan handy talkie sedari tadi tersimpan rapi di sakunya.
"Oke,"
...........
"Kopi?," tanya Bagus pada mereka semua.
"Wah, boleh tuh. Siapa yang jemput?,"
"Gue sama Brian aja," Bagus pun pergi dengan Brian untuk membeli kopi yang ada di seberang rumah sakit.
Ponsel Steven berbunyi membuatnya berdecak. Nomor tak dikenal terpampang disana.
__ADS_1
"Halo," jawabnya malas.
"APA?," pekiknya yang membuat semua orang yang ada di rumah sakit menoleh ke arahnya.
"Siapa yang berani mengusik markas harder team," geramnya. Urat-urat di tangannya sampai keluar ketika ia mengepalkan tangannya.
"Oke kami akan segera kesana. Thanks,"
"Siapa Ven?," tanya Rayyan.
"Ada yang melapor bahwa markas sedang diacak-acak oleh seseorang," Mereka semua terkejut mendengar ucapan Steven.
"Kita harus kesana sekarang juga," sahut Kavi.
"Gak bisa, siapa yang jaga Harsen disini," sahut Rayyan pula.
"Gue sama Ravi yang akan jaga Harsen disini," celetuk Niko anggota harder team.
"Oke kalau gitu kita kesana sebentar,"
"Oke," sahut mereka berdua. Seluruh anggota harder team pun bergegas menuju markas untuk melihat kondisi disana.
"Menurut lo siapa yang udah bermain-main sama kita," seru Ravi.
"Tapi kok gue ngerasa ini kayak suatu siasat ya,"
"Lo kebanyakan nonton upin ipin detektif makanya pikiran lo siasat mulu," cibirnya pada Ravi.
"Sialan lo," Bagus dan Brian sudah datang dengan membawa beberapa cup kopi.
"Kemana yang lainnya," tanya Bagus.
"Markas lagi di serang. Jadi mereka semua kesana untuk lihat situasinya," jawab Niko.
"APA?," ekspresi mereka juga tak kalah terkejutnya dengan yang lain. Mereka pun meletakkan kopi yang sudah mereka beli di kursi tunggu.
"Kami bakal nyusul kesana. Kalian jaga disini, kabari setiap kemajuan Harsen," Niko dan Ravi menganggukkan kepalanya.
.........
"Sebenarnya siapa orang ini. Kenapa dia menyebut nama pangeran?," batin seseorang yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit.
"Gue udah muak baring disini aja bangsat," batinnya.
__ADS_1
"Mana ketiak gue gatel lagi," kesalnya.
"Tapi setidaknya gue sekarang udah tahu, siapa pengkhianat di dalam harder team," Tak berapa lama, ia mendengar kembali orang itu berbicara menggunakan handy talkie.
"Apa kalian sudah mengalihkan perhatian mereka semua?," tanyanya.
"Baik, kita bisa memindahkan pangeran saat ini juga."
"Coba aja lo keluarin gue dari sini. Habis lo," batinnya sambil mengintip sekilas pada orang yang memakai masker di wajahnya itu.
Terdengar suara pintu dibuka. Dua orang perawat tampak masuk dan langsung mengintruksi perawat tadi untuk segera mendorong brankar milik Harsen. Harsen yang sebelumnya sudah mengantisipasi semuanya pun langsung menekan cincin yang melingkar di jari telunjuknya. Tombol itu langsung terhubung ke dokter yang biasa merawatnya. Dan sudah diajak bekerja sama sebelumnya.
"Berarti feeling anak itu benar," batin Dokter itu yang sedang memeriksa pasien di kamar lain. Lalu ia pun bergegas menuju ruang rawat Harsen. Melihat kondisi depan ruangan Harsen yang sunyi, ia pun berdecak.
"Ck, tumben kosong. Biasanya rame kayak antri sembako. Itu kopi siapa lagi yang disitu. Ambil satu gak ngaruh kali ya," Ia pun mengambil kopi yang ada di kursi tunggu, lalu masuk ke dalam ruang ICU sambil meminum kopi itu.
"Hei siapa kalian?," tanyanya ketika melihat tiga orang perawat sedang berusaha melepaskan alat-alat kehidupan yang menempel pada tubuh Harsen.
"Untung aja si sialan ini tepat waktu datang," batinnya geram. Dokter itu tampak mendekati Harsen dan menunduk.
"Sorry lambat sedikit Sen, hehe," bisiknya yang tidak diketahui oleh ketiga perawat itu. Karena ia langsung pura-pura memeriksa kondisi Harsen.
"Siapa kalian?. Dan ada perlu apa kesini?." tanya Dokter itu. Ketiga perawat itu tidak menyangka bahwa mereka akan ketahuan. Damian sudah mengumpat di atas rooftop sana karena dapat kabar kalau mereka ketahuan.
"Sorry," jawab mereka bertiga lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Karena bingung hendak memberi alasan apa.
"Sedetik aja tadi lo telat, gaji lo gue potong," desis Harsen menatap tajam Dokter yang merupakan asistennya di kantor. Ia sudah memperkirakan bahwa semua ini akan terjadi. Lalu ia menyusun siasat sendiri tanpa diberi tahu pada teman-temannya yang lain. Karena ia sudah tahu bahwa salah satu rekannya ada yang berkhianat.
"Hehe, ya maaf. Tadi gue lagi periksa pasien di kamar lain,"
"Cih gadungan," cibir Harsen.
"Gini-gini gue lulusan kedokteran ya. Cuman salah jalur aja sih," Harsen memutar bola matanya malas lalu merampas kopi yang ada di tangan Dokter itu.
"Lo gak pernah ngasih gue minum. Seret tenggorokan gue," kesalnya setelah menenggak habis kopi itu.
"Huu tadi aja gaya lo marahin gue,"
"Mau sampai kapan lo kayak gini. Gue udah bosan ya di rumah sakit ini. Mana gue gak bisa ngedate lagi sama pacar gue," sungutnya.
"Gak lama lagi. Lo tenang aja, gaji lo gue tambahin tiga kali lipat." Mata Agam berbinar mendengarnya.
"Nah gitu dong, kan gue seneng. Lama-lama aja dah lu keluar dari rumah sakit ini," serunya sambil keluar dari ruangan ICU itu.
__ADS_1
"**** buat lo," pekiknya tertahan.