
Di alam mimpi, seorang gadis sedang bercengkrama dengan kekasihnya di sebuah tempat yang indah. Namun tiba-tiba kekasihnya pergi meninggalkannya begitu saja saat ada seorang wanita cantik yang memanggilnya.
"Sayang kamu mau kemana?," tanyanya sambil menahan pergelangan tangan kekasihnya. Tapi kekasihnya hanya menatapnya sambil tersenyum hangat dan perlahan menjauh mengikuti wanita cantik yang memanggilnya tadi.
"Enggak, jangan tinggalin aku. Kamu gak boleh kayak gini Harsen," pekiknya lalu mengejar pria itu namun terlambat. Pria itu sudah memasuki cahaya yang sedari tadi terpancar di ujung sana dan menghilang begitu saja.
"HARSEN," teriaknya, lalu ia pun terbangun dari tidurnya dan melihat jam yang menunjukkan pukul tiga dini hari.
"Hah, cuman mimpi," Ia pun mengambil air minum yang ada di atas nakasnya lalu menenggaknya sampai habis. Perasaannya tiba-tiba tidak enak. Ia terus kepikiran mengenai mimpi yang baru saja ia alami. Tayana Kembali merebahkan diri mencoba untuk tidur kembali, tapi tidak bisa. Ia sudah berusaha untuk merubah posisi tidurnya, dari telentang, miring ke kanan dan ke kiri. Namun kantuknya tak kunjung datang. Renzah yang merasa terganggu dengan pergerakan di sampingnya pun terbangun.
"Lo kenapa belum tidur hmm," tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Gue mimpi buruk,"
"Mimpi hanya bunga tidur, lanjut tidur gih," Renzah kembali menarik selimutnya dan membalikkan badan memunggungi Tayana. Perasaan Tayana masih tidak enak juga, hingga pukul lima subuh, Tayana baru bisa memejamkan matanya.
.........
Para anggota harder team masih saja setia menunggu di depan ruang IGD. Tiga jam lamanya mereka menunggu dari saat Harsen dibawa masuk menuju ruang IGD.
"Lama-lama gue hancurin rumah sakit ini," geram Rayyan karena dokter tak kunjung keluar dari dalam ruang IGD.
"Tenang Yan, kita semua khawatir dengan Harsen. Bukan lo aja," seru Syehan yang diangguki mereka semua.
"Sekarang udah hampir jam enam pagi. Kalian istirahat sana. Biar gue yang jagain Harsen disini," ucap Rayyan sambil melihat kondisi Harsen melalui celah pintu ruang IGD yang terbuat dari kaca tembus pandang.
"Gak, kita tungguin Harsen disini aja," celetuk Kavi. Sehingga membuat Rayyan terdiam.
Tak berapa lama dokter keluar dengan menghela nafas kasar.
"Gimana kondisi pasien dok," tanya mereka serentak.
__ADS_1
"Pasien saat ini dinyatakan koma, karena benturan di kepalanya terlalu kuat. Sehingga tadi terjadi pendarahan hebat, namun syukurnya sudah teratasi dengan baik," Mereka semua tertunduk sedih mendengar kabar buruk yang baru saja mereka terima.
"Apa kami bisa menjenguknya saat ini dok?," tanya Steven.
"Bisa, tapi dibatasi ya. Hanya satu orang yang bisa masuk ke dalam ruangan. Dan jika kalian semua ingin menjenguk, harap bergantian. Dan jangan lupa memakai baju yang sudah disediakan untuk membesuk pasien,"
"Maaf dokter, pasien sudah siap untuk dipindahkan ke ruang ICU," ucap suster yang baru saja keluar dari dalam ruang IGD.
"Baik, dorong brankar pasien segera," titahnya lalu meninggalkan anggota Harder team. Mereka melihat Harsen yang sudah dikelilingi oleh selang-selang kehidupan pun membuat mereka tak kuasa menahan tangis.
"Sen lo harus sembuh. Gue marah sama lo, kalau seandainya terjadi apa-apa," bisik Bagus karena Harsen merupakan sosok penyelamat baginya. Tanpa terasa air mata mengalir dari sudut mata Harsen namun tak disadari oleh mereka semua.
"Jangan halangi jalan, pasien harus segera dibawa ke ruang ICU," ujar Suster memperingati mereka agar tidak menghalangi jalan, karena saat ini mereka sedang mengelilingi brankar milik Harsen. Perlahan mereka menepi dan membiarkan Harsen dibawa oleh suster tadi menuju ruang ICU.
"Kita harus kabarin Tayana soal keadaan Harsen," usul Steven membuat mereka semua teringat dengan kekasih dari sahabat mereka.
"Jangan sekarang, nanti aja," ucap Rayyan.
"Kenapa Yan?. Dia berhak tahu dengan kondisi Harsen sekarang," celetuk Brian anggota harder team yang lain.
"Udah sekarang kalian istirahat, pulang ke rumah. Nanti siang kita bisa gantian buat jagain Harsen," usul Syehan, lalu satu persatu dari mereka pun mulai meninggalkan rumah sakit. Hingga yang tersisa hanya Rayyan, Steven, Syehan, Kavi, dan Bagus.
"Kenapa kalian gak balik?," tanya Syehan heran karena melihat Kavi dan Bagus masih berada disana.
"Kita masih mau nungguin Harsen. Kalau kalian mau istirahat, pergi saja,"
"Kita harus mencari pelaku penyebab ini semua," ucap Steven tiba-tiba.
"Feeling gue kuat banget kalau ini semua ulah si Baron," celetuk Bagus.
"Gue juga. Apalagi Baron itu orangnya sangat licik," sahut Steven.
__ADS_1
"Ambisius," sahut Syehan pula.
"Dan gak akan berhenti sebelum keinginannya terpenuhi," seru Rayyan.
"Kita harus cari tahu semua kejanggalan ini," celetuk Kavi. Yang di setujui oleh mereka semua.
"Tunggu kondisi Harsen membaik, kita cari tahu semuanya," ucap Rayyan lalu masuk ke dalam ruang ICU setelah memakai baju yang di sediakan oleh rumah sakit untuk membesuk pasien.
"Hai Sen," sapa Rayyan namun tak kunjung di gubris olehnya.
"Cih, sombong banget lo gak balas sapaan gue," cibirnya lalu mengambil kursi dan duduk di samping ranjang pasien. Ia terus menatap wajah Harsen yang masih tenang dalam tidurnya. Tiba-tiba tangannya terkepal dengan sorot mata tajam dan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Mereka harus bayar mahal atas semua ini Sen,"
"Gue gak akan biarin mereka hidup bebas setelah buat lo kayak gini," Ia menghapus air matanya dengan kasar.
"Dih cengeng banget gue. Gara-gara lo ini bangsat," sedetik kemudian ia terkekeh.
"Bodoh banget gue bicara sama orang tidur. Saran gue, lo jangan lama-lama tidurnya. Nanti gue gak bisa cari alasan untuk bohongin cewek lo,"
"Gue pamit dulu ya. Nanti gue balik lagi. Bye Senyet (Harsen monyet)," Ia pun keluar dari ruangan ICU. Namun ia melihat teman-temannya sudah tertidur dengan kepala yang menyandar di tembok dan kedua tangan yang terlipat di dada mereka.
"Ckckck," Rayyan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah mereka. Lalu pergi menuju kantin rumah sakit untuk membeli sarapan dan air mineral untuk mereka semua.
.............
"Good Morning dunia tipu-tipu," pekik Renzah saat membuka jendela agar udara pagi hari jam sembilan itu memasuki area kamae mereka.
"Udah siang, mata lo buta," seru Tayana sambil menutup kepalanya dengan bantal agar tak mendengar suara cempereng Renzah.
"Dih, sialan lo," Renzah pun kembali melempar Tayana dengan bantal. Hingga terjadi perang bantal antara mereka berdua.
__ADS_1
"Zah, tumben Harsen gak hubungin gue pagi ini," ucap Tayana sambil menatap plafon kamar itu setelah aksi lempar-lemparan bantal dengan Renzah.
"Masih tidur kali. Udah positif thinking aja," Namun perasaan Tayana tetap merasa tidak enak. Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk menelepon Rayyan, Steven , dan Syehan.