
...HAPPY READING GUYS πΈπΈπΈ...
...Jangan lupa like, vote, dan komen yaaa π€...
.......
.......
.......
Setengah jam lamanya Renzah menunggu Tayana. Namun yang di tunggu tak kunjung keluar. Jengah menunggu, Renzah kemudian bangkit untuk menyusul Tayana ke toilet.
"Kok perasaan gue gak enak ya. Tu anak kenapa lama banget sih, bikin orang khawatir aja," Gumam Renzah.
Ketika memasuki toilet, ia tidak menemukan siapa pun disana. Pintu toilet terbuka semua, menandakan tidak adanya aktivitas didalam toilet. Renzah mulai berpikiran negatif tentang keberadaan Tayana.
"Apa jangan-jangan dia bohongin gue ya. Ngakunya ke toilet, tapi malah pergi bareng Harsen," Batin Renzah dengan pikiran yang tidak sejalan dengan hatinya.
Satu kali panggilan tidak tersambung ketika Renzah mencoba untuk menghubungi Tayana. Sampai 10 kali panggilan, tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Tayana. Lalu ia berinisiatif untuk menelpon Harsen, namun teringat bahwa ia tidak ada menyimpan nomor lelaki itu.
Renzah hanya bisa mendesah kasar karena pikiran dia sekarang sedang kalut.
Disaat pikirannya sedang buntu, tiba-tiba Rayyan menghampirinya dan langsung menarik tangannya.
"Lo apa-apaan sih main tarik-tarik gue. Gue lagi gak pengen becanda ya. Gue juga gak kenal sama lo," Ucap Renzah sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Rayyan.
"Diem, teman lo lagi butuh pertolongan. Dia di culik," Ucapan Rayyan sontak membuat Renzah terdiam dan langsung berpikiran yang tidak-tidak.
"Lo tahu dari mana, apa jangan-jangan lo dan temen lo yang udah sekongkol untuk ngejebak Tayana. Ngaku lo," Tuding Renzah. Sedangkan yang ditanya hanya diam saja dan mendorong Renzah untuk segera memasuki mobil.
"Gak usah banyak bacot. Kalau mau temen lo selamat. Sekarang cepat pakai seat belt lo," Sahut Rayyan sambil memasang seat belt lalu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Flashback on
Harsen tiba-tiba mendapat notif panggilan dan pesan dari Tayana sekitar setengah jam yang lalu. Karena handphonenya di silent, ia sama sekali tidak mendengar panggilan itu karena ia sedang meeting bersama klien. Setelah di telpon kembali, tidak aktif dan hanya operator yang berbicara.
Tidak lama kemudian, Rayyan menelepon Harsen berkali-kali. Dan langsung diangkat oleh Harsen.
"Ada apaan? Tumben lo telpon gue," Tanya Harsen dengan kening yang mengkerut.
__ADS_1
"Buruan datang ke lokasi yang udah gue share. Cewek lo dalam bahaya, tadi kebetulan gue lagi antar adek gue ke sekolah karena dia masuk siang. Nah gue gak sengaja lihat cewek lo di masukin ke dalam mobil sama pria bertopeng. Tapi lo tenang aja, gue udah lempar gps buatan gue tepat di belakang mobilnya. Dan sekarang gue lagi datangin lokasi itu bareng Renzah,"
Setelah mendengar penjelasan dari Rayyan, Harsen langsung bergegas ke tempat lokasi yang udah di share Rayyan.
Flashback off
...........................
"Salam Yang Mulia,"Ujar seorang pria kepada orang yang sedang ia hubungi.
"Ada kabar apa," Sahut pria dibalik telepon tanpa tedeng aling-aling sama sekali.
"Princess diculik Yang Mulia. Kami kecolongan," Ucapnya penuh sesal.
Mendengar ucapannya sontak orang yang dipanggil Yang Mulia mematikan panggilan sepihak karena meluapkan amarahnya kepada orang tersebut juga percuma.
"PRAJURIT, CEPAT SIAPKAN PESAWAT," Teriak pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah Theodore Wilson.
"Ada apa Yang Mulia," Ujar Sang Ratu.
"Putri kita sedang dalam bahaya Adinda. Aku harus memastikan keamanannya secara langsung. Dan aku sudah menitipkan kerajaan untuk sementara kepada orang kepercayaanku," Ucapnya seraya memeluk Ratunya yaitu Clarissa dengan erat.
"Putriku," Isak tangisnya mulai terdengar mendengar ucapan Sang Suami.
"Sekarang pergilah, cepat selamatkan putri kita. Tunjukkan bahwa kau memang seorang Ayah yang melindungi Putrinya. Aku menunggu kalian disini," Ucap Clarissa dengan terisak-isak dan melepaskan pelukan suaminya.
Ketika mereka sedang meluapkan kesedihan satu sama lain. Tiba-tiba datang seorang prajurit memberi tahu bahwa pesawat yang di minta sudah siap. Lalu Theodore langsung berangkat meninggalkan kerajaan untuk menyelamatkan Putrinya.
...................
"Shhhhh pusing banget kepala gue. Perut gue juga nyeri banget. Ini lagi, kenaoa tangan dan kaki gue pakai di ikat segala sih," Kesal Tayana karena menahan sakit ketika kesadarannya mulai pulih.
Ketika melihat lingkungan yang terasa asing baginya, ia lantas mengerutkan keningnya.
"Dimana gue, dan kenapa gue bisa disini?," Batinnya bertanya-tanya karena tidak mengerti dengan apa yang sedang ia alami saat ini.
Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan seorang pria yang sama sekali tidak ia kenali.
"Akhirnya kakak gue bangun juga," Ucap orang itu, lalu berjongkok di hadapan Tayana.
__ADS_1
"Kakak? Sejak kapan lo jadi adek gue," Sinis Tayana.
"Cih, sombong banget gaya lo. Udah mau mati juga," Sahut orang itu mulai tersulut emosinya.
"Cepat lepasin gue. Gue gak kenal lo sama sekali," Ucap Tayana terus memberontak agar ikatan di tangan dan kakinya terlepas.
"Kenalin, nama gue Angga William. Dan gue, anak dari bokap yang udah lo bunuh," Matanya menyorot tajam menatap Tayana.
"Bokap gue udah meninggal? Gak mungkin. Dan gue bahkan gak tahu menahu tentang itu semua," Lirihnya seraya menundukkan kepalanya karena syok mendengar ucapan pria yang mengaku sebagai adiknya.
"Dan lo udah ambil semua kebahagiaan gue dari kecil bangsat," Pekik Angga tertahan.
"Kebahagiaan apa yang lo maksud ha?," Tanya Tayana dengan mata yang sudah menyorot tajam pula.
"Lo inget gak, waktu kecil bokap lo pernah bawa anak laki-laki yang masih berumuran empat tahun ke rumah lo?. Dan si tua bangka itu ngenalin anak laki-laki itu sebagai anak pemulung yang gak sengaja keserempet mobilnya. Dan lo tahu?," Tunjuk Angga ke arah Tayana.
"Anak laki-laki itu gue bangsat. Lo hancurin hidup gue. Nyokap gue pergi ninggalin gue karena malu punya anak di luar nikah. Dan gue," Lanjutnya dengan menunjuk ke dirinya sendiri.
"Gue di tinggal gitu aja di jalanan. Dengan dalih nyokap gue bakal balik lagi. Tapi nyatanya? sampai sekarang dia gak balik-balik,"
"See, tapi gue udah malas ingat wanita itu," ujarnya lalu berdiri kembali dan memasukkan kedua tangannya kedalam kantong celananya.
"Lo tahu apa tujuan gue nyulik lo?," Tanyanya yang tidak di tanggapi Tayana sama sekali.
"Buat habisin nyawa lo. Karena lo, gue gak punya kenangan indah masa kecil gue. Coba kalo lo gak ada didunia ini, pasti si tua bangka yang udah mati itu bakal nikahin nyokap gue. Dan kami hidup bahagia selamanya,"
Setelah mengungkapkan semua uneg-unegnya, ia lalu bangkit gitu aja meninggalkan Tayana. Namun belum sampai tangannya menekan gagang pintu, ia membalikkan badannya mendengar kalimat yang cukup memancing amarahnya.
"Anak hasil zina aja bangga lo anjirr. Berarti nyokap lo yang kegatelan sama bokap gue,"
Tidak tahan mendengar hinaan dari Tayana, Angga reflek menarik keras rambut Tayana hingga ia terdongak karena tarikan keras itu.
"Walaupun wanita itu udah pergi ninggalin gue, tapi dia tetap nyokap gue. Gak bakal gue biarin seorang pun ngehina dia. Termasuk lo," Desisnya lalu melepaskan rambut Tayana begitu saja hingga kepalanya terhuyung ke depan.
"Mati lo," ucapnya lalu meludah sebelum keluar dari ruangan itu.
Ketika Angga sudah keluar dari ruangan itu, sontak air mata Tayana langsung luruh begitu saja.
"Ternyata daddy selingkuhin mommy. Pantas mommy pergi ninggalin aku," Masih terisak karena merasa hidup tidak adil untuknya.
__ADS_1
"Seharusnya tadi gue dengar ucapan Renzah untuk langsung pulang ke kos," Sesalnya.
"Sekarang gak bakal ada yang bisa tolongin gue," Ucapnya lalu kembali tertidur karena lelah jiwa dan raga.