SECERCAH ASA DIBALIK SUNSET

SECERCAH ASA DIBALIK SUNSET
TEROR


__ADS_3

Seorang pria baru saja memasuki sebuah rumah mewah dengan menyampirkan ransel di pundaknya.


"Ma, Iyan pulang," ucapnya ketika baru memasuki rumah itu. Namun tidak ada sahutan sama sekali dari dalam rumah. Tiba-tiba seorang asisten rumah tangga datang menghampirinya.


"Maaf tuan, Nyonya berada di kamar. Dan tidak keluar sejak pagi tadi," 


"Apa?," pekiknya lalu berlari menuju kamar Ibunya yang berada di lantai dua. Dengan terburu-buru ia mengetuk pintu itu berulang kali namun tidak dibuka sama sekali. Dengan kesal, ia pun mendobrak pintu itu. Matanya pun membeliak kaget melihat pemandangan yang baru saja ia lihat. Ibunya sudah bersimbah darah dibagian pergelangan tangannya. Dan terdapat pisau tergeletak tidak jauh dari tempat Ibunya.


"Mama," teriaknya histeris lalu memeriksa denyut nadi di leher Ibunya dan meletakkan dua jarinya di bawah hidung Ibunya. Ia masih merasakan hembusan nafas Ibunya yang mulai melemah. Tanpa berpikir panjang, ia pun merobek bajunya untuk menahan darah agar tidak terus keluar dari pergelangan tangan Ibunya. Dan membopongnya menuju mobil yang ada di garasi.


"Bi, tolong bawakan baju Mama dan susul ke rumah sakit Insani terdekat," suaranya terdengar menggema dirumah itu. Membuat semua asisten rumah tangga kelabakan karena mengetahui bahwa Nyonya mereka terluka.


"Baik tuan," ucap mereka.


Rayyan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Umpatan dari para pejalan kaki dan mobil yang ia terobos begitu saja pun tidak ia pedulikan lagi.


Sepuluh menit kemudian, ia tiba di rumah sakit. 


"Dokter, dokter tolong Mama saya," teriaknya sambil membopong Ibunya. Tak lama kemudian suster pun datang dengan mendorong brankar. Ia pun meletakkan Ibunya di brankar dan di dorong menuju ruang IGD.


"Keluarga pasien dilarang masuk, harap tunggu diluar," setelah mengatakan itu, suster itu pun menutup pintu ruang IGD untuk menangani kondisi Ibunya. Rayyan pun melihat Ibunya dari celah yang terbuat dari kaca dibagian pintu itu. Ia dapat melihat dokter sedang berjuang menghentikan darah yang ada di pergelangan tangan Ibunya. Karena tidak tahan, ia pun duduk di ruang tunggu menanti kabar dari dokter.


...............


Sedangkan di negara Eropa, sepasang suami istri sedang berselisih paham tentang perebutan tahta kerajaan.


"Bagaimana pun juga, Althaf harus naik tahta setelah Theo. Akan aku lakukan segala cara untuk bisa menyingkirkan hambatannya," Ucapnya didalam kamar kepada suaminya.


"Kau harus mematuhi peraturan yang ada Amber. Yang akan naik tahta nanti yaitu hanya anak dari Theo saja," 


"Selagi aku masih hidup, itu semua tidak akan terjadi," sanggahnya dengan berdiri di depan jendela memandangi suasana kerajaan di malam hari serta memegang gelas berisi wine dan menenggaknya perlahan.


"Terserah kau saja. Aku muak dengan pembahasan tahta," acuh suaminya lalu meninggalkan kamar itu.


.............


"Apa Ibu sudah memberikannya kepadanya?," tanya seorang pria kepada orang yang sedang ia hubungi.


"Sungguh aku sudah tidak sabar menunggu permainan selanjutnya," ucapnya lalu ia pun mematikan panggilan sambil tersenyum licik.

__ADS_1


"Bagaimana pun caranya, kau akan tetap jadi milikku sayang," kemudian ia pun tertawa dengan penuh kemenangan sambil merencanakan sesuatu kepada orang yang ditargetkannya.


...........


"Permisi Nona," 


Terdengar ketukan dari luar pintu kamar Tayana dan Renzah.


Ceklek


Pintu dibuka oleh Tayana.


"Ada paket untu Nona," ujarnya sambil menyerahkan paket itu kepada Tayana.


"Dari siapa?," tanyanya sambil membolak-balikkan kotak itu mencari nama pengirimnya.


"Tidak tercantum nama pengirimnya Nona. Saya permisi," setelah mengantarkan paket itu, pelayan itu pun kembali melanjutkan aktivitasnya. Dan Tayana pun menutup pintunya kembali dengan pikiran berkecamuk.


"Wuidih, dapat paket nih," seru Renzah sambil melakukan ritual malamnya dengan memakai skincare di depan meja rias seperti biasanya.


"Gue gak tau dari siapa. Gak ada nama pengirimnya,"


"Buka aja, gue penasaran,"


"Kok dibuang," tanya Renzah heran dan menghampiri kotak itu. Ia juga hampir saja membuang kotak itu, namun ia memberanikan diri untuk melihat isinya secara keseluruhan.


Kotak itu berisi bunga mawar hitam yang sudah dibaluri darah, dan terdapat sepasang burung merpati yang sudah mati. Serta sepucuk surat yang sudah terkena tetesan darah.


"Siapa yang sudah berani teror lo kayak gini," Renzah panik melihat isinya.


"Ini gak bisa dibiarin. Kita harus selidikin ini semua," Tayana hanya berdiri mematung dengan tangan gemetar melihat semua isi kotak paket yang telah dikeluarkan Renzah. Ia pun mengambil ponselnya hendak menghubungi Ayahnya agar bisa membantu menyelidiki orang yang telah berani meneror Tayana, namun dicegah olehnya.


"Kenapa?," tanya Renzah.


"Biar orang suruhan Daddy aja yang urus semua ini,"


"Yaudah sekarang cepat hubungi om Theo. Setelah ini pasti akan ada teror-teror selanjutnya," Tayana pun melawan rasa takutnya dan menghubungi Daddy nya.


"Ha-halo Dad," Ia kemudian menceritakan semuanya kepada Daddynya.

__ADS_1


"Kalian jangan khawatir. Daddy tidak akan membiarkan teror ini berlanjut. Sekarang kalian istirahatlah," Tayana mengaktifkan tombol loudspeakernya sehingga Renzah pun dapat mendengar semuanya.


"Iya Dad,"


"Iya om," sahut mereka bersamaan. Lalu mematikan panggilan.


"Bentar gue panggilin maid dulu untuk bersihin ini semua," ucap Renzah yang diangguki oleh Tayana. Ia pun turun ke lantai bawah untuk memerintahkan maid membersihkan kamar mereka. Namun sayup-sayup ia mendengar suara orang sedang berbicara. Lalu ia pun menajamkan pendengarannya dan menghampiri sumber suara.


"Dia sudah menerimanya. Pasti dia sedang syok saat ini," ucap seorang wanita dengan tersenyum senang.


"Kita harus merencanakan sesuatu yang lebih dari hari ini. Besok Ibu akan menghubungimu kembali," Buru-buru Renzah bersembunyi agar tidak ketahuan oleh wanita itu.


"Gila, kayaknya tinggal disini gak aman. Gue harus kasih tau Tayana," batinnya lalu kembali memanggil maid untuk membersihkan kamar. Setelah Renzah pergi, Tayana mengambil gambar isi kotak itu. Lalu mengunggahnya di instastorynya.


...........


"Sekarang kamu tarik nafas lalu hembuskan. Lakukan berulang biar lebih tenang," Harsen saat ini sedang melakukan panggilan video call dengan gadisnya. Perasaannya mendadak tidak enak tadi, sehingga memutuskan untuk menghubunginya.


"Sudah mendingan hmm," tanyanya yang diangguki oleh Tayana.


"Sekarang kamu masuk gih, jangan di balkon. Angin malam gak baik untuk kesehatan. Kamu jangan risau, ada aku dan yang lainnya disini. Kalau ada apa-apa segera hubungin aku oke," tuturnya menenangkan Tayana.


"Tadi aku udah bicara sama Daddy. Orang suruhannya akan mengurusnya," jelasnya dengan hidung yang sudah memerah, dan mata sedikit membengkak karena menangis.


"Tay, lo dimana?," Harsen mendengar suara Renzah memanggil Tayana.


"Balkon Zah," Tayana sedikit mengeraskan suaranya agar didengar oleh Renzah.


"Hai Sen," sapa Renzah kepada Harsen setelah melihat Tayana sedang video call dengannya. 


"Hai," jawabnya singkat.


"Sekarang kalian jangan takut. Ada banyak orang disini yang menjaga kalian. Sekarang pergi istirahat, aku mau bicarain ini sama anak-anak dulu," Setelah mendengar persetujuan dari Tayana, akhirnya panggilan pun selesai.


............


"Udah aman semua?," tanya Tayana kepada Renzah.


"Aman, tapi tadi gue gak sengaja dengar pembicaraan salah satu maid lo," Ia pun menceritakan apa yang ia dengar tadi kepada Tayana.

__ADS_1


"Disini gak aman untuk lo yang notabene nya adalah seorang pewaris tahta kerajaan. Mending kita pindah dari sini, gue khawatir sama lo," Suara Renzah bergetar mengatakan itu. Lalu Tayana pun memeluk Renzah untuk saling menguatkan.


"Gue gak takut apapun lagi sekarang. Ada lo, kakak gue yang selalu ada disamping gue," Tayana tersenyum hangat yang disambut tangisan dari Renzah. Hingga malam itu mereka berpelukan di balkon saling menguatkan satu sama lain.


__ADS_2