
Siang ini Tayana baru saja terbangun setelah semalaman tidak bisa tidur karena takut dan memikirkan tentang siapa orang yang telah menerornya. Renzah pun menemaninya, hingga pagi menjelang, baru mereka tertidur. Perlahan ia pun meraba nakas yang ada di dekat ranjang untuk mencari ponselnya. Setelah mendapatkan ponselnya, ia pun terkejut melihat banyak pesan masuk dari instagramnya. Semua followersnya mempertanyakan tentang kebenaran mengenai instastory yang diunggahnya tadi malam. Bahkan ada yang mengaku anak indigo untuk membantu Tayana. Ia pun menghembuskan nafas kasar dan kembali meletakkan ponselnya diatas nakas tanpa berniat untuk membalasnya.
"Tuhan, capek banget," pekiknya, ia membekap kepalanya dengan bantal agar suaranya tidak membangunkan Renzah.
Ponsel Renzah berdering, Tayana pun membangunkannya. Sehingga membuatnya mau tidak mau membuka matanya yang terasa berat.
"Halo Ma," Renzah mengusap matanya untuk menghilangkan rasa kantuknya.
"Hari ini Renzah gak ada kelas, jadi gak masuk," jawabnya sambil memejamkan matanya yang masih terasa berat.
"Hmm, nanti Renzah hubungin Papa,"
"Bye Mam," Ia kembali melanjutkan tidurnya dan menjatuhkan ponselnya diatas ranjang.
"Lapar gak?," tanya Tayana.
"Hmm,"
"Go food aja ya,"
"Hmm," Matanya masih saja terpejam menjawab pertanyaan Tayana. Tayana yang kesal karena tidak digubris pun memukul Renzah dengan bantalnya. Sehingga membuat kesadarannya kembali seketika dan membalas Tayana.
..........
Saat ini Harsen sedang diskusi dengan teman-temanya di dalam markas mengenai teror yang telah diterima oleh Tayana. Namun anggota minus satu, yaitu Rayyan. Membuat mereka semua bertanya-tanya.
"Ini Rayyan kemana. Tumben gak datang, biasanya paling gercep," celetuk salah satu dari mereka.
"Sibuk bikin penemuan baru kali," sahut Steven.
"Bisa jadi ya, dia kan ilmuan yang salah jalur hahaha," mereka tertawa mendengar celetukan dari Syehan.
__ADS_1
Harsen merasa ada yang tidak beres dengan Rayyan pun segera menghubunginya. Sekali ia menghubunginya namun tidak ada jawaban. Sampai panggilan ketiga, akhirnya Rayyan pun menjawab panggilan darinya.
"Lo tu kemana aja sih. Dari tadi di hubungin gak jawab sama sekali," bentak Harsen sambil menekan tombol loudspeaker agar semua dapat mendengarnya.
"Sorry, gue lagi ada urusan urgent Sen,"
"Sepenting apa sih urusan lo sampai gak bisa datang kesini," tanya Harsen. Sementara yang lain hanya menyimak.
"Sepenting apa lo bilang. NYOKAP GUE DIRAWAT DI RUMAH SAKIT BANGSAT. NYAWANYA SEDANG DI PERTARUHKAN. GAK ADA YANG LEBIH PENTING DARI DIA, CAMKAN ITU" teriaknya lalu mematikan panggilan sepihak membuat Harsen bersama yang lainnya menunduk frustasi.
"Masalah datang bertubi-tubi. Sekarang kita jenguk nyokap Rayyan dulu. Pasti dia lagi butuh kita," Harsen segera melihat lokasi terakhir Rayyan, lalu segera menuju rumah sakit bersama anggota Harder team yang berjumlah 20 orang.
...........
Rayyan memukul kaca toilet umum rumah sakit dengan keras hingga pecah setelah memutuskan panggilannya. Air mata menetes dari matanya saat ia menunduk. Dan darah segar mengalir dari punggung tangannya. Namun ia tidak memperdulikannya.
"Gak ada yang bisa ngertiin gue, hiks," Baru kali ini ia merasa lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa saat melihat Ibunya terbaring tak berdaya dirumah sakit. Ponselnya kembali berdering, ia pun melihat siapa penelepon lalu segera menerima panggilan itu.
"Kamu yang tenang disana. Kakak segera menyusul kesana," Buru-buru ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya dan berlari tanpa memperdulikan peringatan dari suster dan orang yang berlalu lalang untuk menyuruhnya berhenti berlari. Ia pun membuka pintu ruang inap dengan kasar lalu bergegas memeluk adiknya yang masih saja terisak ditemani oleh dokter yang masih memeriksa Ibunya.
"Bagaimana keadaan Mama saya dok," tanyanya.
"Pasien saat ini membutuhkan banyak darah. Pergelangan tangannya terus mengeluarkan darah tanpa henti. Salah satu urat nadi Ibu kamu sudah terpotong sehingga menyebabkan keluarnya darah dalam jumlah banyak. Jika pendarahan dibiarkan, pasien tidak akan tertolong dan meninggal secara perlahan," tutur dokter membuat kedua kakak beradik itu menangis.
"Sebelumnya saya ingin memberitahu kalian bahwa rumah sakit ini kekurangan kantung darah. Silahkan cari donor darah dalam waktu kurang dari tiga jam. Jangan sampai lebih dari tiga jam. Kalau sampai lebih dari tiga jam, saya tidak akan bisa menjamin keselamatan Ibu kalian,"
"Kalau gitu saya permisi dulu. Jangan lupa tetap berdoa dan serahkan semuanya pada Tuhan,"
"Terima kasih dok," sahut mereka berdua membuat dokter itu menganggukkan kepalanya.
"Kamu disini jaga Mama. Kakak mau pergi cari pendonor Mama," Ia mengusap surai rambut adiknya.
__ADS_1
"Ambil darah aku aja kak. Golongan darahku sama dengan Mama,"
"Gak, kamu masih di bawah umur dan belum bisa mendonorkan darah," tegasnya.
"Sekarang kamu dengar apa kata kakak. Tetap disini jaga Mama dan terus berdoa agar Mama bisa selamat oke," Ia berusaha menenangkan adiknya terlebih dahulu.
"Kakak gak punya banyak waktu lagi. Jaga diri baik-baik," Ia pun kemudian berlari tak tahu arah untuk mencari pendonor darah Ibunya. Namun baru saja ia sampai di teras rumah sakiit, ia berpapasan dengan Harsen dan yang lainnya.
"Lo mau kemana," tanya Harsen menahan pergelangan tangannya saat melihat Rayyan hendak menghindari mereka.
"Bukan urusan lo," acuhnya lalu hendak pergi. Namun lagi-lagi tangannya dicekal oleh Syehan dan mengelilinginya.
"Minggir," bentaknya pelan agar tidak mengganggu kenyamanan di rumah sakit.
"Jawab pertanyaan kami maka lo lepas," celetuk Steven dengan tatapan intimidasinya.
"Gue mau cari pendonor darah untuk nyokap gue,"
"Udah puaskan, sekarang minggir," lanjutnya.
"Apa golongan darah nyokap lo," tanya Harsen membuat Rayyan ingin mengumpati mereka saat itu juga karena telah membuang waktunya.
"AB plus," jawabnya singkat tanpa menoleh melihat mereka.
"Gue yang akan donorin darah buat nyokap lo," seru Harsen.
"Dan buat yang lainnya, apa ada yang bergolongan darah sama dengan gue?," Ada lima orang tunjuk tangan membuat Rayyan mendongakkan kepalanya melihat mereka semua.
"Thanks," lirihnya yang masih dapat didengar oleh Harsen. Lima orang tadi pun sedang di uji kelayakan darah sebelum didonorkan. Setelah menunggu setengah jam, akhinya hasil tes pun keluar. Beruntungnya mereka berlima layak untuk mendonorkan darahnya sehingga saat ini tersedia banyak kantung darah untuk Ibunya Rayyan. Dan mereka saat ini berada di ruangan yang sama melakukan transfusi darah. Setelah dilakukan proses transfusi darah, mereka pun diberi makanan empat sehat lima sempurna, segelas susu pasteurisasi untuk mengembalikan zat besi, beserta puding sebagai dessert.
Sementara mereka berlima sedang istirahat, Rayyan segera menuju ruangan dokter di temani oleh teman-temannya untuk memberitahukan kepada dokter yang menangani Ibunya bahwa darah sudah ia dapatkan. Setelah memberitahukannya, akhirnya mereka pun menuju ruang inap Ibu Rayyan. Lalu segera melakukan transfusi darah kepada Ibunya Rayyan. Mereka menunggu dengan cemas, tangan Rayyan tak sedetik pun lepas dari genggaman adiknya. Mereka semua tak hentinya berdoa agar Ibu Rayyan selamat. Apalagi kelima teman mereka tadi sedang istirahat setelah darahnya diambil lumayan banyak.
__ADS_1