SECERCAH ASA DIBALIK SUNSET

SECERCAH ASA DIBALIK SUNSET
BERUSAHA MEMECAHKAN TEKA-TEKI


__ADS_3

Rayyan bersama teman-temannya masih saja menunggu di depan ruang inap Ibunya Rayyan. Hingga tepukan di bahunya menyadarkannya.


"Nih makan dulu," Syehan menyodorkan dua bungkus nasi beserta air mineral kepada Rayyan.


"Gue gak laper,"


"Lo enggak, tapi liat adik lo," Ia menatap adiknya yang sudah pucat dan mata sembab karena terus menangis. Tak punya pilihan lain, ia pun mengambil bungkusan itu dan mengajak Alea adiknya untuk duduk di kursi tunggu sambil menyuapinya. Steven meraih satu bungkus nasi yang diletakkan Rayyan di sampingnya.


"Buka mulut," titah Steven. Rayyan yang melihat Steven menyodorkan sesuap nasi ke hadapannya pun membuatnya membuka mulut dan menerima suapan itu. Terjadilah mereka suap-suapan di depan ruang inap Ibunya Rayyan.


Semua anggota yang melihat Rayyan si kutub kedua setelah Harsen sedang dalam keadaan lemah pun tanpa sadar menitikkan air mata dan buru-buru menghapusnya agar tidak ada yang lihat.


Harsen yang merasa tenaganya sudah kembali pulih pun menurunkan kakinya dari ranjang dan menuju ruang inap Ibunya Rayyan untuk melihat kondisinya. Namun langkahnya terhenti melihat adegan suap-suapan antara Steven dan Rayyan. Senyumnya pun tersungging melihatnya. Lalu segera melangkah mendekati mereka dan duduk di samping Alea.


"Ceritain semua," ucap Harsen membuat Rayyan pun menceritakan awal mula ia menemukan Ibunya yang sudah bersimbah darah ketika ia baru pulang dari pantai teluk kiluan kemarin.


"Nanti kita cari tahu kebenarannya. Dan sekarang masalah sedang menimpa kita bertubi-tubi," tutur Harsen sambil mendesah pelan.


"Maksud lo?," tanya Rayyan heran.


"Tayana diteror oleh orang tak dikenal. Dan sekarang nyawanya dalam bahaya. Banyak yang incar dia,"


"Sekarang kalian boleh pergi. Makasih udah nolongin nyokap gue,"


"Ngusir?," tanya Syehan.


"Bukan, bukan gitu. Pasti sekarang Tayana membutuhkan kalian. Gue gak apa-apa kok, ada Alea yang nemenin,"


"Dimana pun kita berada, dan dalam situasi apapun, kita harus saling merangkul," celetuk Bagus membuat Alea pun menitikkan air matanya terharu melihat pertemanan kakaknya.


"Thanks," Rayyan menatap mereka satu persatu. Dan menatap Harsen lekat lalu berdiri dan memeluknya erat. Tumpahlah air matanya di pelukan Harsen membuatnya menepuk-nepuk bahunya untuk memberinya ketenangan.


"Keluarga pasien," sahut Dokter saat baru membuka pintu ruang inap itu.


"Saya dok," sahut Rayyan lalu melepaskan pelukannya.


"Syukurlah keadaan pasien sudah stabil. Pergelangan tangannya juga tidak mengeluarkan darah lagi. Saya sudah memberikan obat bius kepada pasien agar istirahat. Dan tidak lama lagi pasien akan segera siuman," tutur dokter membuat mereka semua mengucap syukur secara bersamaan.


"Terima kasih banyak dok," Rayyan sampai menjabat tangan dokter itu untuk mengucapkan rasa terima kasihnya.


"Itu sudah tugas saya untuk mengoptimalkan keselamatan pasien, kalau begitu saya permisi. Jika Ibu kamu sudah siuman, tolong segera hubungi saya agar kita bisa memerika kondisinya lebih lanjut," 


"Baik dok,"

__ADS_1


Rayyan dan Alea pun segera memasuki ruang rawat inap Ibunya. Tangis Alea kembali pecah, tidak tega melihat kondisi Ibunya.


"Sudah jangan nangis. Mama baik-baik aja kok,"


"Kenapa Mama bisa kayak gini sih kak. Sebelum Lea pergi sekolah juga kondisi Mama masih baik-baik aja,"


"Nanti kita cari tahu ya. Sekarang Lea istirahat gih di sofa. Kalau di samping Mama, nanti infusan mama lepas. Kamu kan kalau tidur tidak bisa diam,"


"Kakak juga jangan lupa istirahat,"


"Hmm," Ia kembali keluar ruangan menghampiri teman-temannya.


"Gue gak tau mau ngomong apa lagi sama kalian,"


"Gaya lu Yan, santai aja kali," sahut salah satu dari mereka.


"Gue minta maaf sama kalian semua,"


"Gue gak terima," Harsen berdiri dari duduknya setelah mengatakan itu.


"Lo maunya apa," Rayyan paham jika Harsen bukan tipe orang yang mudah memaafkan.


"Terus jagain nyokap lo. Dan jangan pernah tinggalin dia," Rayyan yang sudah pasrah dengan ucapan Harsen yang tidak menerima maafnya pun langsung memeluknya dengan erat.


"Makasih Sen, semoga masalah lo semua cepat selesai. Maaf gue belum bisa bantu,"


"Semangat bro," mereka pun melakukan fist bumb dengan Rayyan sebelum betul-betul meninggalkannya berdua dengan Alea.


..........


Saat ini Tayana dan Renzah sedang berada di taman belakang setelah menerima orderan Go-food nya. Mereka menikmati makan siang disana sambil menatap hamparan berbagai jenis bunga.


"Gue masih penasaran, siapa sih yang tega neror gue yang imut gini," Ucap Tayana sambil terus memakan nasi dengan satu porsi ayam Richeese yang sedang viral dengan keringat yang sudah bercucuran sangkin pedasnya.


"Feeling gue orang yang betul-betul tahu seluk-beluk tentang lo sih," Renzah pun sama, namun bedanya air matanya ikut bercucuran karen tidak tahan memakan ayam Richeese yang pedas.


"Jangan dipaksa, bila semua telah berbeda," Tayana tiba-tiba bernyanyi melihat ekspresi Renzah yang sangat lucu menurutnya. Wajah yang sudah merah padam, keringat yang terus bercucuran dari dahinya, air mata yang tak berhenti luruh, dan jangan lupakan ingus yang sudah keluar tanpa diundang.


"Hah, akhirnya habis juga. Nyerah gue makan ayam Richeese ini," seru Renzah sambil mengeluarkan lidahnya agar merasa enakan. Dan membersihkan wajahnya yang sudah tidak tahu bentuknya seperti apa menggunakan tisu.


"Berarti gue yang menang dong. Gue gak nangis tuh,"


"Heh sejak kapan ada peraturan kayak gitu. Jadi sekarang kita back to topic aja,"

__ADS_1


Tiba-tiba terlintas satu nama di benaknya.


"Aldi," lalu menjentikkan jarinya diatas kepala seperti baru saja mendapatkan jackpot.


"Gagal move on lo, tiba-tiba nyebut nama Dajjal itu?,"


"Istighfar Tay, ingat Harsen yang saat ini ada di samping lo,"


"Hus berisik, dengarin dulu makanya,"


"Hmm gue dengerin,"


Feeling gue kuat banget nih ke Aldi. Apa mungkin dia tersinggung kali sama gue karena insiden di toko bunga kemarin.


"Masa sih dia senekat itu," ragu Renzah.


"Dia tu orangnya ambisius banget Zah. Apapun yang dia mau, harus di dapetin dengan cara apapun,"


"Ngeri banget tu anak. Keturunan psycopath kali ya," Renzah bergidik ngeri membayangkannya.


"Lo artiin aja sendiri maksud dari isi terornya. Mulai dari bunga mawar, kemarin kan gue pesen bunga mawar tapi gak jadi karena penjualnya dia. Yang kedua, sepasang burung merpati yang udah mati. Logikanya nih ya, burung merpati itu kan lambang kesetiaan. Sedangkan kata setia itu gak ada lagi diantara kami berdua. Dan yang ketiga itu darah, yang artinya pengorbanan. Ia siap melakukan apapun untuk bisa mewujudkan keinginannya," Tutur Tayana sambil terus memikirkan teka-teki tentang pelakunya.


"Masuk akal juga. Tumben otak lo encer hihihi," 


"Sialan," umpatnya sambil memukul lengannya pelan.


"Tapi kita gak bisa asal nuduh aja. Harus ada bukti, dan semoga aja kita bisa dapatin bukti itu dengan cepat,"


"Bila perlu nanti gue minta bantuan sama bokap,"


"Jangan," pekik Tayana reflek.


"Kenapa?,"


"Jangan libatin polisi atau semacamnya dalam kasus ini. Aldi orangnya nekat, dia bakal ngelakuin apapun sama orang yang berani halangin tujuannya,"


"Anjir the real punya kepribadian ganda tuh,"


"Hmm," Mereka berdua meminum minuman yang di pesan juga untuk mendinginkan otak dan hatinya.


Tanpa mereka sadari, seorang wanita sudah mendengar pembicaraan mereka.


"Kurang ajar, bocah itu pintar juga untuk membaca keadaan di sekelilingnya. Aku harus segera memberitahunya," batinnya.

__ADS_1


"Hey kamu ngapain disana," teriak salah satu bodyguard yang berjaga di sekitar Tayana dan Renzah. Membuat ia segera berlari dan bersembunyi di salah satu ruangan yang ada di Vila itu.


"Kemana larinya wanita itu, aku harus segera mengabari yang lain," batinnya lalu kembali ke posisi dimana Tayana dan Renzah berada.


__ADS_2