
Seorang wanita tampak berdiri mematung di depan jendela kamarnya, memandang dengan tatapan kosong dan sesekali terdengar helaan nafas darinya.
"Aku tidak bisa begini terus. Ada dua anak yang sedang membutuhkan aku. Ayo bangkit Sekar, jangan menyerah. Kita bisa lawan Aryo dengan kekuatan yang kita punya," batinnya. Ia berusaha untuk melawan sesuatu yang ada di hatinya.
"Ma, ayo makan dulu," Pintu terbuka menampilkan Alea yang sedang memegang nampan berisi sepiring nasi dan segelas air.
"Letakkan saja disitu nak, nanti Mama makan," sahutnya dengan posisi masih menghadap jendela.
"Lea suapin ya Ma," Alea mengambil kursi agar Mamanya bisa makan sambil menatap pemandangan luar rumah dari jendela kamar. Melihat effort anaknya, ia pun membuka mulutnya dan menerima suapan demi suapan yang diberikan Alea.
"Lea gak sekolah?," tanyanya sambil terus menatap wajah Alea yang lebih mirip dengan Papanya.
"Lea lagi meliburkan diri Ma hehe, kemarin kan terakhir ujian. Jadi tinggal pertandingan-pertandingan aja. Lea malas pergi ke sekolah kalau cuman lihat pertandingan doang," sungutnya sambil meletakkan piring bekas makan Mamanya di atas nakas.
"Ga boleh gitu dong sayang, kamu harus rajin sekolah walaupun kegiatannya cuman itu aja," Sekar membelai surai rambut Alea dengan lembut. Mendapat perlakuan seperti itu dari Mamanya, air matanya luruh seketika.
"Lea kenapa nangis nak. Sakit rambutnya ketarik atau apa sayang?," Sekar panik tiba-tiba melihat putrinya menangis. Semakin ditanya, maka semakin terdengar isakan kecil darinya.
"Lea rindu sama Mama," Ia berhambur ke dalam pelukan Mamanya menikmati kehangatan yang ia dapatkan kembali setelah beberapa hari yang lalu mengalami kejadian yang dapat memacu adrenalinn dan Rayyan.
"It's oke sayang. Sekarang Mama gak kemana-mana lagi. Kita hadapin semuanya bareng-bareng ya," pintanya sambil mencium pucuk kepala Alea. Membuat Alea hanya menganggukkan kepalanya.
"Wuidih, pelukan gak ngajak-ngajak," celetuk Rayyan yang baru membuka pintu kamar langung disuguhi pemandangan yang mampu mengejutkannya.
"Sini nak," panggil Sekar sambil merentangkan tangannya. Membuat Rayyan berhambur dengan cepat ke dalam pelukan Mamanya.
"Mulai sekarang kita mulai lagi dari nol ya. Jangan pernah tinggalin Mama. Kalian lah harta Mama satu-satunya saat ini,"
"Iya Ma," jawab mereka serempak.
............
Ponsel Tayana berdering berkali-kali namun tak kunjung di terima olehnya.
"Kenapa lo gak angkat teleponnya?," tanya Renzah yang baru memasuki kamar karena baru pulang dari supermarket.
"Bokap gue Zah,"
"Ya di angkat ege, siapa tau penting,"
"Gue tau apa yang mau di tanyain. Pasti tentang kejadian semalam," pekiknya sambil menggigit ujung kukunya.
"Coba aja diangkat dulu," Namun baru saja ia hendak menerima teleponnya, sambungan panggilan pun mati seketika.
"Mati hehe," Tak berselang satu menit, ponselnya kembali berdering. Ia pun menarik nafas pelan lalu menghembuskannya untuk menghilangkan kegugupannya.
"Hai Dad, Mom," sapanya di panggilan video call yang menampilkan kedua orang tuanya.
"Bagus, kamu disana gak pernah ngabarin Mommy ya. Kalau Mommy disana, udah habis telingamu Mommy tarik,"
__ADS_1
"Hehe maaf Mom, Tayana sibuk ngampus. Iya sibuk ngampus hehe," Ia berusaha mencari alasan agar kedua orang tuanya percaya dengan kebohongannya yang setengah-setengah itu.
"Daddy dan Mommy tau semuanya Ana," sahut Theo yang dari tadi hanya melihat interaksi keduanya.
"Mulai sekarang kamu di awasi secara ketat oleh pengawal khusus dari istana,"
"Gak bisa gitu dong Dad, nanti Ana dan Renzah gak bebas mau kemana-mana," bantah Tayana. Ia paling anti dengan kata 'kekang'.
"Tidak ada bantahan, itu sudah menjadi keputusan kami berdua," ucap Theo lalu pergi meninggalkan kamar mereka.
"Lo harus mengerti gimana khawatirnya orang tua lo saat ini. Dan lo sebagai anak hanya bisa menerima apa yang diberikan oleh mereka. Hidup itu hanya perlu take and give. Tapi kalau lo pengen ngasih feedback, lo harus mampu berdiri sendiri. Buktiin sama om dan tante kalau lo bisa," Renzah berusaha memberikan masukan kepada Tayana agar menerima saran yang diberikan oleh orang tuanya.
"Tuh dengerin kata Renzah Ana. Kelak kamu akan menjadi Ratu di negara ini. Dan sebagian orang yang tidak terima dengan informasi ini semakin tidak terkendali. Mereka melakukan pemberontakan dibelakang kami," tutur Clarissa.
"Dan Mommy harap, kamu cepat selesaikan pendidikanmu. Kami disini membutuhkan Ana untuk menjadi penerus Daddy. Kamu juga akan dilatih agar pantas menjadi penerus Daddy nantinya," Tayana menenggelamkan kepalanya diantara kedua kakinya. Ponselnya ia sandarkan di atas nakas. Renzah yang melihat itu pun mengambil alih panggilan.
"Oke tante, nanti Renzah kasih pengertian ke Tayana ya,"
"Iya nak, terima kasih ya,"
"Siap tante," Panggilan selesai.
"Tay, lo gak boleh egois. Lo harus bener-bener kuat untuk menghadapin semuanya. Tanggung jawab lo besar,"
"Gue pengen hidup normal kayak gadis-gadis pada umumnya. Tapi kenapa gak bisa, selalu aja ada batasan ini itu,"
"Ada waktunya lo bisa menikmati itu semua. Tapi untuk saat ini, lo harus di tempah habis-habisan agar bisa bertanggung jawab dengan kewajiban lo," Tayana terdiam mendengar penuturan Renzah. Ia mulai menyadari bahwa ia terlahir spesial dengan orang tua yang hebat juga. Memiliki seorang Ayah yang notabene nya merupakan seorang Raja mungkin menjadi impian segelintir orang. Dan ia beruntung mendapatkan itu semua di kehidupan ini. Tanpa aba-aba ia langsung memeluk Renzah hingga mereka terjatuh di lantai yang beralaskan karpet berbulu.
"Makasih tayang ululu," Tayana mencubit pipi Renzah gemas dengan posisi memeluk Renzah seperti guling.
"Aw makin sakit. Awas lo ya," Ia pun balik memeluk Tayana seperti guling lalu menggelitiknya hingga Tayana menangis minta ampun.
"Zah ke mall yuk. Gue mau beli hadiah untuk Harsen,"
"Emang Harsen ulang tahun?,"
"Enggak, besok dia seminar proposal. Jadi gue mau ngasih hadiah biar dia makin semangat hehe,"
"Halah bucin," Ia menoyor kepala Tayana.
"Gue sumpahin lo kalau dapat cowok lebih bucin dari gue," sinis Tayana seraya menatapnya bombastic side eye.
"Bacot, f**k cinta-cintaan. Akan ku hadapi semuanya dengan menjomblo everyday,"
............
Saat ini mereka berdua sedang berada di mall terbesar di kota itu. Mereka sibuk mencari barang apa yang cocok untuk seorang Harsen. Namun mereka menyadari seperti ada yang mengikuti. Akhirnya mereka mengalihkan perhatian orang itu dengan berpencar membuat orang-orang itu kelimpungan mencari mereka.
"Kemana perginya Princess?," tanya salah satu dari mereka kepada rekannya yang lain.
__ADS_1
"Tadi aku melihat mereka berpencar, tapi kehilangan jejak karena ramainya orang di mall ini,"
"Gawat," ucap mereka semua yang berjumlah sepuluh orang. Mereka saat ini memakai pakaian casual agar tidak terlalu mencolok.
Sedangkan di balik tembok dekat mereka berdiri, Tayana dan Renzah menguping pembicaraan mereka.
"Oalah orang suruhan bokap lo cok," bisik Renzah.
"Ho oh, yaudah kita kejutin aja gih," bisik Tayana pula membuat Renzah menganggukkan kepalanya. Mereka berdua pun keluar dari tempat persembunyiannya tadi.
"Ekhem," Tayana berdehem agar mereka mendengarnya. Berhasil, mereka semua menoleh ke arah sumber suara.
"Salam princess," Mereka semua membungkukkan badannya membuat Tayana risih karena dilihat oleh semua pengunjung.
"Maaf sebelumnya tidak memperkenalkan diri kami terlebih dahulu,"
"Berdiri, jangan terlalu formal. Jaga jarak, jangan terlalu dekat. Nanti semua orang curiga," titah Tayana dengan penuh wibawa.
"Baik princess," Sahut mereka semua.
"Silahkan dipakai earpiece ini Princess. Untuk memudahkan kita saling berkomunikasi," Salah satu pengawal itu memberikan earpiece kepada Tayana.
"Baiklah, terima kasih,"
"Huh, hampir saja," batin mereka serempak.
"Ma, mereka lagi syuting jadi anggota kerajaan ya?," celetuk salah satu pengunjung yang melihat mereka.
"Mungkin iya, dan kameranya sembunyi. Ayo kita segera pergi, nanti tertangkap kamera," ucapnya.
"Kan bagus Ma kalau ketangkap kamera. Kita kan cantik, siapa tau bisa jadi artis juga," celetuk anak itu.
"Rugi, gak dibayar. Perawatan kita kan mahal," jawabnya pula. Lalu mereka pun segera pergi menjauh dari Tayana.
Tayana dan Renzah kembali menyusuri mall mencari barang untuk hadiah Harsen. Dan akhirnya mereka menemukan sebuah hoodie keluaran terbaru dengan harga yang lumayan. Setelah mendapatkan barang itu, mereka pun menyempatkan untuk makan di tempat food court yang ada di mall itu.
"Lo pesen apa?," tanya Tayana sambil memegang buku menu.
"Gue pesen pepper lunch sama just one bite aja deh," Tayana pun menulis pesanan Renzah.
"Gue pesen apa ya," gumam Tayana sambil terus membolak-balik buku menu. Akhirnya ia memesan Choco Icibanya dan just one bite. Lalu memberikan kertas pesanannya kepada pelayan.
"Terima kasih,silahkan ditunggu Nona," ucap Pelayan itu lalu pergi dari meja Tayana dan Renzah.
"Silahkan kalian pesan juga," titah Tayana berbicara dengan bodyguard nya menggunakan earpiece.
Setelah makan siang di food court itu, mereka pun bermain di time zone untuk menghilangkan suntuk.
"Princess kita lucu sekali," celetuk salah satu bodyguard itu ketika melihat tingkah Tayana.
__ADS_1
"Kita beruntung memilikinya di kerajaan," celetuk mereka pula.
Setelah lelah bermain di mall mereka pun kembali pulang setelah matahari tidak terlihat lagi.