SEGEL TERLARANG

SEGEL TERLARANG
Ratu Selenmayang dan Raja Grandiya


__ADS_3

Matahari pun mulai terbenam ketika mereka semua melanjutkan perjalananya dari hutan belantara menuju jembatan gantung merah. Mereka semua tidak kenal lelah dan berniat langsung melanjutkan perjalananya.


Angin berhembus kencang hari arah timur ketika mereka berjalan menuju jembatan gantung merah, daun-daun berguguran disaat mereka menginjakan kakinya dipintu masuk jembatan. Semuanya merasakan hawa aneh ketika mau memasuki jembatan gantung merah. Auranya berbeda dengan situasi yang mereka hadapi pada saat masih dihutan belantara.


Mereka semua memberanikan diri melewati pintu masuk jembatan gantung merah.


“Kenapa tiba-tiba hawanya berubah jadi aneh seperti ini, apa yang dibicarakan oleh Thobi sebelumnya sepertinya ada benarnya” bathin Shin Yan sambil berjalan ke arah pintu masuk jembatan gantung merah dengan julukan kematian.


“Semuanya behati-hati! Jembatan ini sangat tua sekali, aku merasakan hawa yang aneh ketika berhasil masuk melewati jembatan ini.” Ujar Thobi kepada para pasukan kerajaan yang berjalan disampingnya.


“Benar apa kata katamu Thobi, jembatan ini dipenuhi oleh darah bekas pertempuran yang masih membekas di tiang-tiang ini.” Ucap Lan Ji sambil memegang salah satu tiang yang dia lewati.


Suatu ketika dimana perjalan mereka telah sampai pada setengah dari perjalanan, tiba-tiba sesosok perempuan dengan selendang berwarna merah terbang dari atas mereka berjalan. Sosok perempuan itu melintas di atas mereka dengan cepatnya dan hanya Lan Ji yang melihatnya pada saat itu.


“Tunggu! Aku merasakan ada yang aneh dengan jembatan ini, aku melihat sesosok perempuan dengan selendang merah ditubuhnya, dia cepat sekali, aku tidak tau dia siapa, aku yakin itu bukan manusia biasa. Dengan kecepatanya saat dia terbang tadi, aku yakin itu adalah arwa dari medan pertempuran yang terjadi 100 tahun yang lalu.” Ucap Lan Ji dengan ekspresi terkejut melihat penampakan yang ia lihat.


Semuanya berhenti seketika mendengar perkataan dari Lan Ji yang mengagetkan mereka semua. “Apa katamu! Perempuan dengan selendang merah ditubuhnya, tidak mungkin. Dia adalah ratu dari desa Pasai yang sudah mati akibat dari pertempuran terdahulu.” Ucap Thobi yang masih tidak percaya dengan perkataan dari Lan Ji.


Tiba-tiba kabut putih datang dari arah depan mereka semua. Kabut putih itu berhembus sangat kencangnya berbarengan dengan datangnya hembusan angin.


“Kenapa tiba-tiba ada kabut asap disituasi seperti ini? Disuasana malam yang begitu panas begini, aneh sekali” tanya Shin Yan dengan ekspresi terkejut.

__ADS_1


Hawa yang awalnya panas berubah menjadi dingin seketika dengan datanganya kabut asap putih dari arah depan mereka. Jembatan gantung merah tiba-tiba bergetar dan bergoyang.


Datang dari arah depan mereka, ribuan pasukan dengan senjata lengkap ditanganya berjalan mendekati tempat mereka semua. Arwa pasukan Desa Pasai yang telah lama mati muncul dihadapan mereka semua.


“Ada apa ini, kenapa tiba-tiba jembatan ini bergetar?” tanya Thobi. “Apa mungkin legenda dari buku yang aku baca itu benar-benar ada, jangan-jangan jembatan kematian itu juga ada, gawat!” tambahnya sambil berpegangan pada tiang jembatan dan menahan getaran yang sedang terjadi dalam jembatan tersebut.


“Lihatlah didepan sana bukanya itu para pasukan kerajaan. Mereka membawa senjata lengkap ditangan mereka. Jangan-jangan mereka adalah arwa dari pasukan yang sudah lama mati.” Ujar Lan Ji yang masih tidak percaya melihat apa yang nampak didepanya.


"Jangan bicara yang aneh-aneh, mana mungkin makhluk seperti itu ada." Jawab Shin Yan sambil memegang tiang jembatan.


“Bukan itu saja Lan Ji! Lihatlah dibelakangmu mereka juga ada disana, kita sedang dikepung! Apa yang harus kita lakukan sekarang.” Ujar Thobi yang melihat dari arah belakang mereka semua telah datang ratusan prajurit dengan beberapa kereta kuda yang bejalan ke arah mereka juga.


Tidak lama kemudian datanglah Ratu memakai selendang merah terbang dari atas mereka dan mendekat kepada pasukan yang berjalan didepan mereka.


“Sebenarnya mereka ini siapa? Bukankah mereka sudah lama mati, tapi kenapa arwah mereka bisa bangkit lagi?” tanya Lan Ji dengan ekspresi kaget.


“Bukankah itu Ratu Selenmayang pemimpin mereka, dia ada didalam buku yang aku baca dan ada sangkut pautnya dengan pertempuran yang terjadi 100 tahun yang lalu.” Ujar Thobi sambil menunjuk ke arah datangnya Ratu Selenmayang bersama para pasukanya.


Tidak lama kemudian datang juga dari arah belakang, muncul dari arah tengah-tengah dari para pasukanya. Dia adalah Raja Grandiya, pemimpin dari kerajaan Desa Rosai.


“Gawat mereka semua adalah legenda yang dibicarakan dalam buku yang aku baca, tidak salah lagi yang ada dibekang kita juga. dia yang menaiki kuda hitam itu, dia adalah Raja Grandiya pemimpin kerajaan dari Desa Rosai.” Tutur Thobi sambil menunjuk ke arah belakang mereka.

__ADS_1


Dari pasukan kerajaan Desa Pasai yang dipimpin langsung oleh Ratu Selenmayang telah sampai dihadapan Thobi dan yang lainya.


“Siapa kalian! Mundur dan keluarlah dari jembatan kematian ini, aku Ratu Selenmayang penguasa dari Kerajaan Desa Pasai akan menghabisi kalian jika kalain menghalangi jalanku.” Ucap Ratu Selenmayang sambil terbang dengan sayap dari selendang merahnya.


“Tujuanku adalah menghabisi Raja Grandiya yang ada dibelakang kalian, kalau kalian tidak mau ikut campur menepi saja, jangan halangi jalanku!” tambahnya dengan terbang di atas mereka semua.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Ratu Selenmayang kepadanya, Thobi sebagai pemimpin mereka semua tidak mau mengambil resiko lagi dan mempersilahkan saja Ratu Selenmayang dan para pasukanaya untuk lewat.


“Biarkan saja, Aku sendiri tidak tahu apa sebenarnya tujuan dari arwa-arwa ini datang, lebih baik kita tidak usah ikut campur!” bisik Thobi kepada Shin Yan dan Lan Ji yang ada disampingnya serta menyuruh mereka dan para pasukanya untuk menepi dan mempersilahkan Ratu Selenmayang dan para pasukanya melewatinya.


Ratu Selenmayang beserta ribuan para pasukanya pun melewati mereka. Anehnya mereka semua berjalan tidak menapak ke tanah dan disertai kabut asap hitam yang menyelimuti mereka semua.


“Aura ini, aku bisa merasakan dengan mata Sheijuku bahwa ini adalah aura kegelapan berisikan balas dendam dari Ratu Selenmayang kepada Raja Grandiya.” Bisik Lan Ji kepada Shin Yan dan Thobi yang ada disampingnya ketika Ratu Selenmayang beserta pasukanya melewati mereka semua dan menuju ke arah datangnya Raja Grandia.


“Apa ini semua mimpi? Kita semua dipertemukan oleh dua pemimpin kerajaan yang hebat dari zaman 100 tahun yang lalu lamanya.” Ucap Thobi sambil menepuk pipinya sendiri, dan mengira kalau kajadian ini adalah mimpi.


“Inikah Jembatan kematian itu? Lebih sadis dari apa yang aku kira sebelumnya, mereka semua membawa ribuan pasukan bersamanya.” Tanya Shin Yan.


“Roh kegelapan balas dendam yang membuat mereka tetap bertarung walaupun sudah mati. Aku masih penasaran apa penyebab dari pertempuran besar ini?” tanya Lan Ji dengan menggunakan mata kirinya.


Thobi, Shin Yan dan Lan Ji dibuat penasaran oleh kemunculan Ratu Selenmayang dan Raja Grandiya. Mereka sudah lama mati dan dibangkitkan kembali oleh roh kegelapan berisikan balas dendam antara keduanya.

__ADS_1


“Apakah ini ada hubungan dengan Dewa Hashijin? Roh kegelapan selalu berkaitan denganya, aku yakin kakak dari Dewa Hosikinshi itu ada kaitanya dengan kejadian ini.” Tanya Shin Yan sambil menepuk pundak dari Thobi dan Lan Ji.


__ADS_2