
***
Revan membuka pintu kamar Lisa dengan sangat perlahan. Tampak Lisa yang duduk membelakanginya, menghadap cermin rias yang ada di kamar itu.
"Humaira ...." Lisa terkejut dan segera menutup bahunya yang terbuka. Dia tak menyadari kedatangan Revan, "kamu baik-baik saja?" tanya Revan sambil mendekat.
"Y.ya, aku baik-baik saja."
"Aku akan membantumu ...." Lisa segera berdiri saat Revan hampir menyentuh bahunya.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri," tolaknya. Pandangannya teralih menatap peralatan make up yang ada di atas meja rias.
"Tapi aku ingin membantu." Lisa menggeleng cepat. Mengeratkan genggaman tangannya didepan dada, meremas bajunya.
"Ja.jangan mendekat." Astaga, apa yang Lisa katakan. Lisa segera membelakangi Revan, "a.aku bisa sendiri."
"Maira, aku suamimu. Kenapa kamu terlihat takut seperti ini?" Revan menarik bahu Lisa agar wanita itu menghadapnya. Pria itu kaget begitu melihat wajah Lisa yang basah, apa istrinya ini menangis? "Maira, apa yang terjadi?" Revan memegang kedua lengan Lisa, menatap Lisa dengan khawatir.
"Lepaskan." Lisa mengundurkan langkahnya. Menatap Revan sambil menghapus air matanya, "aku sudah bilang. Aku baik-baik saja."
"Tidak, duduk di sini. Aku akan mengobatimu!" Revan menarik lengan Lisa dan mendudukkan wanita itu di kursi yang berada di depan meja rias.
"Mas ...." Lisa memejamkan matanya. Tubuhnya beraksi berlebihan, kenapa sekarang dia merinding? Seakan semua bulu kuduknya berdiri, memejamkan mata saat Revan menarik lengan baju Lisa ke samping, agar memudahkan pria itu untuk mengobati luka yang ada di bahu Lisa.
"Lukanya cukup dalam. Ini bisa infeksi, tahan sebentar." Revan mengambil kapas dan baskom air yang sebelumnya sudah Lisa siapkan. Dengan perlahan membersihkan darah yang keluar dari luka yang ada di bahu istrinya.
Lisa justru diam membatu, seakan tubuhnya sulit digerakkan. Hembusan nafas Revan bahkan terasa di tengkuknya, tubuh Lisa semakin bergetar, dan Revan menyadari hal itu. Pria itu terdiam, melihat Lisa yang diam tanpa bicara.
"Maira ... apa kamu ...."
__ADS_1
"Sudah? Terima kasih, aku akan kembali memasak." Lisa buru-buru memakai kembali bajunya, dengan segera berlari keluar sambil menunduk. Revan terdiam, menatap tangan kanannya. Di sana ada kapas yang sudah terkena darah, Revan belum mengobati Lisa, hanya membersihkan lukanya. Kenapa Lisa seperti ketakutan?
****
Revan melangkah turun bersama kedua anaknya. Asha dengan semangat menggandeng tangan Revan, sedangkan Ezha berjalan di belakang mereka.
"Pagi Bunda ...," sapa Asha sambil berlari ke arah Lisa dan memeluknya. Lisa tak membalas sapaan Asha, justru melirik suaminya yang sejak turun tadi terus menatapnya.
"Lisa ...," panggil Zara. Lisa tersadar.
"Ahh maaf." Lisa buru-buruengelap meja yang basah, Lisa tak fokus hingga mengakibatkan air yang sedang ia tuangkan ke gelas malah tumpah.
"Kamu kenapa?" tanya Zara bingung. Terlebih, melihat suaminya yang terus memperhatikan Lisa. Ada apa ini?
"Hari ini aku akan pergi," ucap Revan setelah dia duduk di kursi makannya.
"Kemana Mas?" tanya Zara.
"Lalu ... bagaimana chack up-nya?" tanya Zara lagi.
"Nanti sore kita bertemu Dokter Sintia. Kamu istirahat saja dulu." Zara mengangguk. Sepertinya urusan yang akan Revan katakan tadi itu sangat penting.
***
Revan melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah rumah. Tuan rumah sudah mempersilahkannya, pria itu mengangguk dan tersenyum.
"Maaf, jika boleh tau, ada apa Pak Sanjaya datang kesini?" tanya seorang pria.
"Saya ingin bicara mengenai Humaira," jelasnua.
__ADS_1
"Lisa? Ada apa dengan Lisa?" Nindi. Wanita itu muncul dari arah dapur membawa dua gelas kopi.
"Sebenarnya, saya ingin tau langsung dari Maira. Tapi, setiap kali saya ingin bertanya, dia selalu menghindar. Jika boleh, saya ingin tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Maira?" tanya Revan, ya. Saat ini, pria itu sedang berada di rumah Nindi dan Akbar, suami Nindi.
"Kamu ingin tau?" tanya Akbar.
"Iya, maaf jika saya lancang bertanya. Saya hanya ingin tau, kalaupun saya tidak mendapatkan jawaban hari ini saya ...."
"Dia mengalami trauma," potong Nindi. Ditatapnya Revan yang juga menatapnya dengan raut kebingungan.
"Trauma? Trauma apa?"
"Androfobia. Sejak kejadian dimana dia bangun di kamar hotel kosong, sendirian. Lisa mengalami Androfobia, trauma terhadap laki-laki. Aku sudah beberapa kali membawa Lisa ke psikologi. Hasilnya nihil, dia selalu ketakutan bahkan sampai demam jika tak sengaja bersentuhan atau berpas-pasan dengan pria di jalan." Revan tertegun. Penjelasan yang Nindi berikan barusan ... bohong 'kan?
"Tapi ... bagaimana mungkin, lalu kenapa dia setuju menikah dengan saya?" Revan tidak mengerti.
"Demi anak-anaknya tentu saja. Aku sangat tau bagaimana Lisa membesarkan kedua anaknya tanpa Ayah. Bahkan, Mas Akbarpun selalu di hindarinya." Nindi menggeleng pelan, "aku tau, tidak mudah bagi Lisa untuk memutuskan menikah, apalagi menikah dengan suami sahabatnya!" Revan menunduk, menatap gelas kopi yang masih mengepulkan asap.
"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Revan.
"Yang kamu lakukan? Apa maksudnya?" Akbar kali ini yang menggeleng, "tentu saja itu adalah tanggung jawabmu. Kamu yang membuatnya seperti ini!"
"Apa dia akan menerima saya?" Revan benar-benar merasa bersalah. Alasan mengapa setiap malam Revan tak menemukan Lisa di sampingnya sudah terjawab. Selama ini, Revan memang sering bangun tengah malam, dan setiap terbangun Revan tak pernah melihat Lisa yang sebelumnya tidur bersamanya.
"Aku tidak tau. Tapi, selama ini Lisa selalu menunjukkan gejala yang sama, bahkan pada Mas Akbar sekalipun," jelas Nindi. Revan mengerti.
"Saya mengerti, saya akan ...," ucapan Revan terhenti kala ponselnya berdering, "maaf," ucapnya sambil mengangkat panggilan yang berasal dari istri keduanya.
"Halo waalaikumsalam." Revan terdiam, mendengarkan apa yang Lisa ucapkan. "Astagfirullah. Kamu tunggu di sana, aku akan pulang sekarang."
__ADS_1
To be continue ....