
****
Suasana di sekolah cukup tenang. Tentu saja karena sekolah itu berisi anak-anak dari keluarga terpandang, jarang anak yang di kucilkan dan juga di sekolah itu tidak menerapkan sistim beasiswa. Yang mana artinya, tidak ada siswa yang kurang mampu di sekolah itu.
Revan dan Faisal berjalan diikuti empat orang yang berjas lengkap mengikutinya.
"Tuan, lewat sini." Revan mengikuti Faisal yang menunjukkan jalan. Asha yang sedang duduk di kursi depan kelasnya, segera berdiri lalu berlari dan memeluk Revan.
"Ayah, kok lama?" protes Asha.
"Maaf, sayang. Tadi Ayah agak sibuk." Revan menggandeng Asha untuk menuju ke kelas gadis itu.
"Semua udah masuk. Cuma Ayah yang belum!"
"Iya maaf." Revan tersenyum hangat.
"Silahkan Tuan." Faisal membuka pintu untuk Revan. Revan masuk ke ruang kelas Asha, di sana sudah ada orang tua wali murid. Hanya dirinya yang terlambat. Faisal dan empat orang lainnya berjaga di depan pintu. Asha mendekati Faisal dan bertanya.
"Di kelas Kak Ezha, belum ada yang ke sana?" tanya Asha.
"Tuan akan mengurusnya Nona."
"Bentar lagi selesai. Ayo, Aku anter Om buat ke kelas Kakak!" Faisal terkejut saat Asha tiba-tiba menariknya dan membawanya ke kelas Ezha. Mendorong pria itu agar masuk ke dalam kelas kakak kembarnya.
"Nona ...." Faisal tidak punya pilihan selain menuruti permintaan Asha.
"Tuan ...."
"Faisal! Saya Faisal," jawab Faisal saat pria yang Faisal tau itu adalah wali kelas Ezha menyapa.
"Oh, Tuan Faisal, silahkan duduk. Anda wali dari Arezha?" tanya sang guru wanita.
"Iya, benar, saya wali Tuan Muda Ezha." jawab Faisal.
"Silahkan duduk, Tuan." Faisal duduk di kursi bagian tengah.
__ADS_1
"Saya tidak akan bicara panjang lebar lagi. Saya akan langsung membagikan raport dan surat pengumuman kenaikan kelas kepada Ibu dan Bapak sekalian." Maryam, selaku wali kelas Ezha tersenyum, lalu mengambil sebuah map yang tergeletak di atas mejanya.
"Saya akan langsung membagikan raport para siswa-siswi. Nilai tertinggi tahun ini dapat oleh siswa pindahan di tengah semester, putra dari tuan Emirkan Mustafa, yaitu Arezha Zakky Mustafa." Suara tepukan tangan terdengar, "silahkan wali dari Arezha untuk mengambil raport." Faisal segera berdiri. Berjalan dengan tegas menuju ke meja guru.
"Prestasi Arezha sangat bagus. Nilainya sempurna tanpa cacat, dia sudah sangat bekerja keras. Semoga kedepannya Arezha semakin giat untuk belajar."
"Ahh iya, terima kasih."
"Silahkan anda sebagai walinya, untuk menandatangani surat kehadiran."
"Bu, sebetulnya, Tuan saya ada di ruangan sebelah, boleh menunggu sebentar untuk menandatangani suratnya."
"Maaf Pak. Sebetulnya, kami sudah menunggu perwakilan dari Arezha sejak tadi." Faisal ragu. Bagaimana jika Tuannya itu nanti marah.
"Lima menit Bu, beri waktu lima menit."
"Baiklah Pak, selagi menunggu orang tua Arezha, saya akan langsung ke siswa lainnya." Faisal mengangguk.
"Terima kasih, Bu."
"Nyonya akan segera datang, beliau sedang ada di parkiran," sang wali kelas menahan nafasnya sesaat, lalu tersenyum.
"Baiklah. Selanjutnya, perwakilan dari Annisa Adzaradi," kali ini seorang pria paruh baya berjalan ke depan, "silahkan anda ...."
"Saya supir Nona Anni, Tuan akan datang segera," wali kelas kembali menahan nafasnya, sebenarnya ini sekolah apa? Kenapa sulit sekali menjadi guru dari para calon pewaris ini.
"Perwakilan dari Archer Reuji?"
"Tuan, akan datang."
"Baiklah, selanjutnya ...."
"Maaf saya terlambat." Revan bergegas masuk, menatap Faisal yang langsung berdiri dari duduknya.
"Tuan, silahkan." Revan mengangguk. Pria itu langsung duduk di kursi yang tadi di tempati Faisal.
__ADS_1
"Silahkan anda menandatangani surat hadir."
"Ahh baik." Revan benar-benar baru pertama kalinya hadir di sekolah dan menandatangani surat hadir wali murid begini. Biasanya, dia hanya menandatangani dokumen-dokumen saja.
"Ini rapor milik Arezha, putra anda sangat berbakat Pak. Semua nilainya sempurna, dan selama ujian, pengawas mengatakan bahwa Arezha mengerjakan ujian dalam waktu 10 menit pertama setelah ujian di mulai." Revan tersenyum bangga.
"Terima kasih, atas bimbingan anda selama putra saya belajar."
"Itu sudah menjadi tanggung jawab saya, Pak."
"Kalau begitu saya permisi."
"Silahkan." Revan berjalan meninggalkan ruang kelas, diikuti Faisal di belakangnya. Saat melewati pintu, dua orang pria berjalan hampir masuk ke dalam, sayangnya Revan terlebih dahulu berjalan keluar.
"Tuan Emirkan," sapa seorang pria.
"Ahh, Tuan Demian," balas Revan.
"Sudah selesai?"
"Ya, silahkan anda masuk."
"Ya!" pria bernama Demian itu segera masuk di ikuti pria lainnya di belakangnya.
"Demian Kasela. Sejak dulu dia sangat senang karena tau aku tidak punya anak," kekeh Revan. Faisal tersenyum kecil.
"Saya senang jika anda senang."
"Di mana Ezha?" tanya Revan.
"Saya tidak tau Tuan. Saat saya datang, Tuan muda sudah tidak ada. Bahkan Lion juga tidak ada."
"Kenapa Lion tidak memberi tahuku?" Revan menghentikan langkahnya, membuat Faisal ikut menghentikan langkahnya, "hubungi Lion, katakan aku mencarinya."
"Baik, Tuan."
__ADS_1
To be Continue ....