
***
"Sebagaimana yang tertera dalam Pasal 105 Kompilasi Hukum Islam (“KHI”) dalam hal terjadi perceraian, pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya, sedangkan pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih di antara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaan. Itu artinya, Lisa berhak mendapatkan hak asuh anak-anak." jelas Akbar. Akbar memang seorang pengacara, dan kali ini. Akbar menjadi pengacara untuk kasus perceraian Lisa dan Revan.
"Tapi mereka tidak akan membiarkan itu terjadi." Nindi membuka map milik suaminya.
"Tentu saja, jangan cemas, kita memiliki banyak bukti untuk mendapatkan hak asuh anak-anak."
"Maksud Mas?" Akbar hanya tersenyum. Nindi menatapnya bingung, memang apa yang sudah Akbar dapatkan.
***
Lisa duduk menatap pemandangan tanpa minat. Udara pagi begitu menyejukkan, angin menerpa wajahnya. Menerbangkan beberapa anak rambut Lisa yang tergerai.
"Udaranya tidak terlalu baik untuk kesehatanmu." Lisa tak menoleh, hanya mendengar suaranya saja, dia tau. Pria yang mendekatinya itu adalah Azman, putra pertama Nindi yang tahun ini genap berusia 28 tahun.
"Lucu ...." Lisa terkekeh hambar. Menatap bangunan-bangunan yang ada di hadapannya.
"Kakak tenang saja, aku yakin, Ayah pasti mendapatkan Asha dan Ezha." Azman duduk di kursi yang ada di depan Lisa.
"Entahlah," wanita cantik itu menatap tangannya, di sana tersemat cincin berlian berwarna putih cantik dengan ukiran nama suaminya.
"Jangan terlalu di pikirkan, Kak. Suami brengsekmu itu pasti tidak akan bisa berbuat apa-apa. Semua bukti dan saksi sudah kita punya."
"Bagaimana jika anak-anak bisa mereka dapatkan."
"Tidak! Tidak akan, maksudku mereka tidak akan bisa menyentuh anak-anak selama kami ada.
"Aku pasti sangat kehilangan."
"Kak ... jangan menyerah, mereka tidak tau apapun. Bahkan, mereka hanya bicara. Mereka tidak akan bisa mendapatkan anak-anak, aku janji." Lisa tersenyum. Hari ini tepat lima hari setelah Lisa keluar dari rumah sakit, dan besok adalah sidang pertama perceraian dirinya dan Revan. Lisa gugup, tentu saja. Dia akan mempertaruhkan kedua anaknya, apa itu nyata!
"Istirahatlah Kak, besok kita harus mulai perang." Azman mengangguk sekilas, lalu meninggalkan Lisa di teras rumah keponakannya itu. Lisa memang dibawa ke Bandung setelah keluar dari rumah sakit. Alasannya, tentu saja karena Nindi ingin Lisa jauh-jauh dari keluarga Revan.
Lisa menghela nafasnya, sebaiknya dia tidak terlalu memikirkan dulu tentang Revan. Dia harus memulihkan kesehatannya.
"Maira ...." Lisa mengerjapkan matanya. Menatap tidak percaya pria yang kini berdiri tidak jauh darinya.
__ADS_1
"Mas Revan ...." Lisa segera mengalihkan pandangannya, "jangan ganggu aku lagi. Lebih baik kamu pergi."
"Nggak!" tolak Revan. Pria itu berlari dan langsung bersedeku di depan Lisa, menggenggam tangan wanita itu dengan erat.
"Lepas Mas, jangan seperti ini!" Lisa berusaha menghindar. Walaupun itu sia-sia.
"Maira, aku mohon dengarkan aku."
"Untuk apa aku mendengarkan Mas. Toh semua sudah terjadi, kita akan bercerai sebentar lagi dan ...." Revan menggeleng dengan kuat, menelungkupkan kepalanya di pangkuang sang istri.
"Maira, apa kamu akan percaya jika aku berkata aku mencintaimu." Lisa terdiam. Revan mengangkat kepalanya, menatap Lisa yang juga menatapnya.
"Jangan bercanda Mas."
"Tidak! Aku tidak bercanda, aku serius."
"Mana mungkin. Kita bahkan sebentar lagi bercerai."
"Jangan katakan itu, aku mohon." Revan kembali menelungkuplan kepalanya di pangkuan Lisa, "jika kamu pergi, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri."
"Mas, Ibumu tidak menyukaiku, dia sudah mengirimkan surat perceraian itu. Dan aku sudah menandatanganinya." Revan menggeleng.
"Tidak!" Lisa menarik tangannya, "Ibumu menginginkan anak-anakku, dia ingin mengambilnya dariku. Apa aku tetap harus diam?" Revan terdiam. Entah mengapa dia merasa nyaman berada di dekat Lisa.
"Zara kritis." Lisa yang kali ini terdiam.
"Lalu?'
"Lalu? Apa kamu tidak ingin menemuinya! Dia sahabatmu."
"Mas, bolehkan sekali saja aku egois! Aku kehilangan bayiku, dan orang yang seharusnya bertanggung jawab masih belum di temukan. Semua berantakan dan Ibumu menginginkan kedua anakku. Semua itu terjadi karena siapa!" Revan tertegun. Menatap Lisa yang kini tak bisa menehan air matanya, benar. Jika sejak awal Zara tidak menmintanya menikah dengan Lisa, mungkin Lisa tak akan seperti sekarang.
"Dia ingin bertemu denganmu," dan untuk kali ini, Revan juga ingin egois. Dia tak akan kehilangan Lisa begitu saja.
"Mas ... kamu tidak mendengarkan aku!"
"Bisakah kamu menemuinya ... untuk yang terakhir kali."
__ADS_1
"Mas ...."
"Aku mohon ...."
"Mas, itu mustahil. Aku bahkan tidak tau, apa yang harus aku katakan pada Zara."
"Katakan apa yang ingin kamu katakan. Aku mohon, untuk terakhir kalinya."
"Maaf Mas, sebaiknya kamu pulang. Zara lebih membutuhkan mu dari pada aku."
"Tidak! Kamu juga prioritasku, selama statusmu masih menjadi istriku!"
"Mas, tolong dengarkan aku."
"Maria, aku tidak meminta banyak. Cukup kamu temu Zara, sekarang."
"Tidak bisa ... itu bukan urusanku lagi, aku tidak akan berurusan dengan sesuatu yang akan memisahkan ku dengan anak-anakku."
"Kamu tidak akan berpisah dengan mereka, tidak! Aku tidak akan membiarkannya, kita akan merawat mereka bersama."
"Lebih baik kamu pulang." Lisa berdiri dari duduknya. Revan masih menggenggam tangan Lisa dengan erat, dia benar-benar tidak akan melepaskan Lisa dengan mudah.
"Maira aku mohon."
"Mas ...." Lisa terkejut saat Revan tiba-tiba berdiri dan langsung memeluknya, "Mas, lepaskan."
"Aku merindukanmu Maira, kamu menghilang dan aku seperti orang gila mencarimu kemana-mana. Hingga kemarin. Ornagku menemukan mu di sini, aku ingin sekali kesini kemarin, tapi saat melihatmu, aku tidak bisa mengontrol diriku. Aku takut, aku marah pada diriku karena membiarkan kamu pergi, bahkan saat kita kehilangan bayi kita. Aku merasa hancur Maira, aku tidak tau harus berkata apa. Aku tak ingin kehilanganmu, aku sudah terlanjur mencintaimu Maira, Istriku." Lisa tak berniat menghentikan tangisnya. Air matanya berjatuhan membasahi kemeja abu-abu yang Revan kenakan kala itu. Pria itu semakin memeluknya erat.
"Aku tidak perduli, entah kamu setuju atau tidak. Tapi yang jelas, aku tidak akan melepaskanmu."
"Bagaima dengan Zara, Ibumu tidak menyukaimu Mas. Aku tidak bisa membiarkan siapapun menyakiti anak-anakku."
"Selama kamu berdiri di sampingku, tidak akan ada yang terjadi. Aku akan melindungimu, walaupun aku harus menentang keluargaku sekalipun!" kepala Lisa berdenyut sakit, mendengar penuturan Revan yang secara tiba-tiba itu selama melemaskan semua otot-otot sarafnya.
"Zara membutuhkanmu sekarang, kenapa kamu malah di sini. Aku tidak akan merubah keputusanku."
"Maira. Apa yang harus aku lakukan supaya kamu tidak meninggalkanku?"
__ADS_1
To be Continue ....