
***
Lisa menggandeng tangan kedua anaknya, mereka baru saja sampai di bandar udara Adnan Menderes, berlokasi di Gaziemir di dekat İzmir. bandar utama di İzmir tersebut berlokasi 18 km di barat daya kota di jalan menuju Selçuk, Ephesus dan Pamukkale.
Jam 2 siang mereka sampai di kota Izmir. Revan berjalan di samping Asha, menggandeng satu tangan gadis kecil itu. Sedangkan satu tangan lagi di gandeng oleh sang Bunda.
"Bunda Asha capek," keluh Asha.
"Mau Ayah gendong?" Revan mengulurkan kedua tangannya.
"Nggak! Asha 'kan udah gede, masa masih di gendong. Malu tau." Lisa tersenyum. Mengusap hijab berwarna abu-abu yang Asha pakai.
"Ayah pengen gendong Asha," pinta Revan. Asha masih menolak dan menyeret Lisa agar cepat. Revan sedikit kecewa, tentu saja. Setelah bertahun-tahun dia ingin mendapat keturunan, dia sama sekali belum memeluk anaknya sendiri.
"Casluhim Emirkan Mustafa, gerçekten siz misiniz? (Casluhim Emirkan Mustafa, benarkah Anda?)" tanya seorang pria berjas lengkap.
"Evet,(ya,)" jawab Revan.
"benimle gel, büyük usta bekliyor.(Ikut dengan saya, Tuan besar sedang menunggu.)" Revan mengangguk.
"Ayo," katanya sambil merangkul Lisa. Beberapa pria berjas menyambut kedatangan keluarga itu.
"Ayah gendong," pinta Asha tiba-tiba. Revan yang terkejut langsung menuruti permintaan putrinya.
"Kenapa sayang?" tanya Revan sambil mengusap punggung putrinya.
"Asha takut," sang Ayah mengernyit. Apa yang di takutkan putrinya.
"Kan ada Ayah, Asha nggak perlu takut."
"Iya Ayah." Asha menyembunyikan wajahnya di bahu Revan. Ezha hanya memperhatikan orang-orang yang menjemput dirinya dan kedua orang tua juga adiknya itu. Sesaat terdiam, Ezha lalu menggandeng tangan Lisa.
"Aku ngantuk," ucapnya. Lisa tersenyum hangat lalu merangkul bahu putranya.
"Iya sayang, nanti tidur ya," bisik Lisa. Ezha mengangguk mengerti.
***
Asha semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Lisa. Rumah besar dengan gaya modern itu berdiri menjulang dihadapan mereka.
"Silahkan Tuan," ucap salah seorang pria.
"Ayo, masuk." Revan merangkul Lisa untuk masuk. Suasana sunyi menyambut mereka, barisan pelayan disisi kanan dan kiri membuat Asha ketakutan.
__ADS_1
"Anne ...." Revan berucap lirih. Menatap seorang wanita tengah berdiri diujung tangga sambil bersedekap dada. Para pelayan membungkuk.
"Jadi, kamu benar-benar membawa wanita itu ke rumah ini!" sinis Arzhu. Revan menghela nafasnya.
"Aku antar kalian ke kamarku dulu, kalian istirahatlah." Revan tak memperdulikan perkataan sinis Arzhu. Justru merangkul Lisa agar mengikutinga.
"Baik Mas ...," bukan saatnya membantah, atau hanya sekedar bertanya. Lisa mengikuti Revan yang berjalan sambil menggandeng tangannya. Masuk ke sebuah kamar yang sangat luas, dekorasi yang begitu apik.
"Kalian istirahatlah, aku akan meminta seseorang untuk mengantarkan makanan." Revan mengusap kepala istrinya, lalu mengecupnya singkat.
"Bunda, Asha ngantuk," rengek Asha.
"Iya sayang, Asha tidur sama Bunda ya." Revan mengangkat Asha dan membaringkannya ke tempat tidur.
"Iya Ayah." Asha mengangguk mengerti.
"Maira, aku pergi dulu."
"Iya ... Mas."
Lisa menatap kedua anaknya, Asya yang langsung tertidur, sedangkan Ezha yang masih berdiri di dekat tempat tidur sambil menatapnya.
"Aku nggak suka rumah ini." Ezha melepas tas ransel hitamnya, lalu meletakkannya di atas meja didekat sofa.
"Kenapa?" Lisa mengikuti sang anak dan duduk di sofa.
"Kita cuma sebentar di sini, jadi Kakak nggak usah khawatir, nanti kita pulang lagi ke Indonesia." Ezha mengangguk. Lalu mengambil buku dari dalam tasnya. "Kakak beli buku baru?" tanya Lisa. Wanita itu baru melihat buku itu.
"Aku beli waktu kita jalan-jalan ke pantai sama Ayah." Lisa mengangguk, tersenyum. Tentu saja dia senang, akhirnya putranya mau membaca buku anak-anak. Lisa mengusap kepala Ezha lalu segera berdiri untuk membereskan barang-barang mereka, yang tadi diantar lebih dulu oleh pelayan.
Ezha menatap Lisa, membuka buku yang ada di tangannya, buku dengan sampul yang sudah dia ganti dengan gambar lumba-lumba itu adalah buku milik Revan yang Ezha ambil diam-diam. Buku itu adalah buku tentang pengelolaan perusahaan, entah kenapa Ezha tertarik dengan buku itu, dan membuatnya penasaran.
****
"Pakai ini untuk makan malam nanti." Revan memberikan beberapa paper bag untuk Lisa.
"Makan malam?"
"Iya, Kakek mengadakan makan malam untuk menyambut kalian." Lisa lalu diam, menerima paper bag yang Revan berikan.
"Mas, apa kamu lihat Ezha? Aku tadi membereskan barang-barang, dan Ezha pergi. Aku tidak tau kemana."
"Aku akan mencarinya."
__ADS_1
"Aku takut dia kenapa-kenapa."
"Tenang saja, dia pasti baik-baik saja, aku akan mencarinya." Revan segera pergi. Mencari putranya yang entah pergi kemana.
Sementara itu, Ezha sedang berhadapan dengan seorang pria yang menatapnya dengan penuh menyelidik.
"Dari mana kamu masuk? Apa itu kamu, anak Kak Emir?" tanya pria itu.
"Kamu bicara denganku, paman?" tanya Ezha.
"Ya, tentu saja. Aku bicara denganmu bocah," pria itu terkekeh, "kamu sangat mirip dengan Kak Emir, sudah jelas kamu adalah anaknya," pria itu tampak berfikir.
"Apa yang paman pikirkan? Aku akan pergi." Ezha menutup bukunya, saat akan pergi, pria itu menahan Ezha dengan mengambil buku yang bocah itu pegang.
"Aku ingin tau bagaimana kamu sampai di sini?"
"Tentu saja bertanya, untuk apa ada mulut jika tidak untuk bertanya."
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Menurut paman, perpustakaan itu untuk apa?" pria itu semakin tersenyum. Dia menyukai anak ini.
"Namaku Isac, siapa namamu?"
"Arezha, Paman bisa panggil aku Ezha."
"Baiklah Ezha. Karena kesukaan kita sama, bisakah kita berteman?" pria bernama Isac itu mengulurkan tangannya. Ezha mengangguk, lalu menjabat tangan Isac.
"Apa Paman juga suka membaca?"
"Ya, tentu."
"Buku apa yang paling Paman suka?"
"Kamu tidak akan mengerti. Aku bercita-cita jadi pengacara, tapi Ayah tidak mengizinkan aku menjadi pengacara. Jadi aku suka membaca tentang hukum."
"Kenapa? Bukankah pengacara juga hebat?" Isac terkekeh pelan.
"Aku jadi penasaran, siapa Ibumu. Kamu begitu pintar."
"Ezha!"
"Ayah ...."
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?"
To be Continue ....