Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)

Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)
24. Seseorang, dari masa lalu.


__ADS_3

***


"Asalamualaikum ... selamat pagi Mas ...." Revan yang baru saja membuka mata langsung tersenyum.


"Waalaikum salam," balas Revan. Lisa sedang membereskan beberapa buku yang tergeletak di atas meja, Ezha yang memberantakinya kemarin.


"Aku sudah buatkan kopi." Lisa meletakkan beberapa buku ke dalam rak, lalu mendekati suaminya yang sudah duduk di tepi ranjang.


"Hari ini, kita akan pergi jalan-jalan. Kasihan Ezha dan Asha, pasti mereka bosan." Revan menarik Lisa dan memeluk pinggang istrinya.


"Sepertinya, hanya Asha yang bosan. Ezha malah lebih suka di perpustakaan." Lisa terkekeh. Mengusap rambut Revan yang mulai memanjang, "rambut Mas udah panjang," komentar Lisa.


"Nanti sekalian potong rambut." Lisa mengangguk saja. Hari ini sudah dua minggu tepat mereka berada di Turki. Lisa sudah mengurus kepindahan kewarganegaraannya seminggu lalu. Sekarang, Alisa Humaira atau Humaira Mustafa adalah warga negara Turki.


"Mas mandi dulu, aku mau cari anak-anak."


"Baiklah, kita berangkat setelah sarapan." Revan berdiri dari duduknya, lalu mencium kening sang istri yang hanya diam saja.


    Revan melangkah menuju kamar mandi. Sedangkan Lisa langsung duduk di tepi temoat tidur, memegang dadanya yang berdebar. Lisa tak tau kenapa? Tapi. Akhir-akhir ini, Lisa merasa selalu gugup jika berada di dekat Revan.


   Lisa memilih pergi dari kamar, sebaiknya dia menengkan diri dengan mencari kedua anaknya.


"Nggak mau, Asha 'kan udah cantik!" Lisa menghentikan langkahnya, dia mendengar suara Asha barusan.


"Tapi kalo di dandanin, jadi makin cantik," perlahan Lisa mengikuti asal suara. Ternyata suara itu berasal dari ruang kamar yang terbuka.


"Asha!" panggil Lisa.


"Bunda ...." Asha tersenyum. Berjalan cepat mendekati Lisa, "Bunda lagi ngapain?" tanya Asha.


"Bunda cariin Kakak sama Adek. Ayah mau ajak jalan-jalan, Asha mau?"

__ADS_1


"Mau! Aku mau, aku mau!"


"Ya udah, Asha siap-siap ya."


"Iya Bunda." Asha berlari menuju ke kamarnya, Lisa hanya menggeleng pelan.


"Apa kabar Alisa ...." Lisa terdiam, sebelum membalikkan tubuhnya dan menatap seseorang yang baru saja bertanya padanya.


"Baik, aku buru-buru, permisi." Lisa hampir pergi, sayangnya seseorang menahan tangannya.


"Apa kamu masih membenciku, Alisa?"


"Isac, aku tidak ingin membuat keributan."


"Aku hanya ingin tau Alisa! Kamu tau, hubungan kita tidak bisa di bilang sebentar."


"Maaf, sepertinya aku harus pergi. Mas Revan nanti mencari ku." Lisa melangkah pergi.


"Alisa! Katakan, apa yang harus aku lakukan supaya kamu mau memaafkanku?" Lisa menghentikan langkahnya, tanpa menoleh berkata.


***


    Revan tersenyum, menatap Lisa yang sedang membantu kedua anaknya mengambil makanan. Seharian ini, mereka habiskan untuk berkeliling, banyak tempat yang mereka kunjungi. Asha yang paling bersemangat, Revan terus menuruti permintaan si kecil Asha. Apapun yang dia minta Revan langsung memberikannya.


"Mas, nggak makan?" pertanyaan yang Lisa ajukan membuat Revan tersadar. Pria itu tersenyum lalu mengangguk.


"Anak-anak, apa kalian senang?" tanya Revan penuh perhatian.


"Ya, Aku seneng Ayah. Lain kali kita jalan-jalan lagi ya," pinta Asha sambil tangannya sibuk mengaduk makanan.


"Aku capek." Ezha tidak mengerti kenapa Asha sangat bersemangat membuat kaki mereka lelah seperti itu.

__ADS_1


"Tapi seru!" protes Asha.


"Nggak! Mendingan di rumah, belajar."


"Bosen!"


"Kamu pemales."


"Enak aja! Bunda, aku nggak males 'kan?" Asha menatap Lisa dengan penuh pengharapan.


"Iya, princess Bunda, mana mungkin males."


"Tuh 'kan aku nggak males tau."


"Udah-udah, sekarang kita makan dulu, ributnya di tunda dulu." Revan mengacak rambut Ezha dan mencubit hidung mancung Asha. Kedua anak itu menurut dan segera makan kembali.


    Lisa tampak tenang, menatap pemandangan yang ada di luar. Mereka ada di atas dermaga sambil duduk menikmati senja yang akan datang. Melihat kapal-kapal yang berlalu lalang. Sambil menikmati hidangan yang tersaji.


"Ada apa?" pertanyaan yang di ajukan Revan membuat Lisa segera menatap suaminya.


"Tidak." Lisa kembali menatap keluar jendela, sejak pagi. Tepatnya setelah perkataan Isac, Lisa sama sekali tidak bisa fokus. Walau bagaimanapun, Isac adalah orang dari masa lalunya yang tiba-tiba muncul setelah sekian lama. Seseorang yang pernah Lisa berikan cinta dengan setulus hatinya, tapi malah di hianati begitu saja tanpa perasaan.


    Revan mengetahui perubahan Lisa. Walaupun dia tau Lisa jarang tersenyum atau bereaksi. Tapi hari ini, Lisa sangat aneh. Revan perhatikan, hari ini Lisa banyak melamun.


"Maira ... apa kamu tau kita sudah menikah?" Lisa kembali menatap Revan.


"Apa maksudnya? Tentu saja kita sudah menikah."


"Tapi aku merasa, kamu selalu menyembunyikan sesuatu dariku. Kamu tau 'kan, aku percaya padamu, tapi kenapa sepertinya hanya aku yang percaya. Kamu tidak?" Lisa terdiam. Menghela nafasnya lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


"Apa aku punya pilihan untuk tidak menikah?" pertanyaan yang Lisa lontarkan membuat Revan terdiam.

__ADS_1


"Kamu ... apa tidak bahagia?"


To be Continue ....


__ADS_2