Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)

Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)
37. Humaira.


__ADS_3

***


"Yeeeay, liburan!" Asha berseru senang. Gadis berusia 8 tahun itu tampak bersemangat, melompat-lompat kecil menuruni anak tangga.


"Nona hati-hati!" Nina berlari turun dari lantai atas. Mengejar Asha yang sudah hampir sampai di anak tangga terakhir.


"Aku bisa kok!" Asha masih melomoat-lompat kecil, sambil bersenandung menyanyikan lagu milik Tasya yang berjudul 'Libur telah tiba' dengan suara imutnya.


"Khm!" Asha langsung berhenti melangkah, begitupun nyanyiannya. Asha menatap wanita yang di kenalinya sebagai Nenek Arzhu itu dengan takut, "Ashakira! Kamu itu dari keluarga terpandang. Bisa tidak kamu jaga sikap!" Arzhu bersedekap dada, menatap Asha sambil menggeleng pelan. "Mulai besok, kamu harus ikut pelajaran tata Krama."


"Nyonya, tapi Nona Asha masih kecil," ucap Nina pelan.


"Justru karena dia masih kecil. Dia harus belajar tata Krama sebelum dia mempermalukan keluarga ini nantinya!" Arzhu berlalu begitu saja. Meninggalkan Asha dan Nina yang masih berdiri di dekat tangga.


"Kak Nina, pelajaran tata Krama itu apa?"


"Aduuh, gimana ya jelasinnya?" Nina tampak kebingungan, "oh ya. Pelajaran tata krama itu, seperti Nona harus belajar lebih sopan dan juga mandiri, mungkin," ucap Nina semakin lemah. Asha tidak puas dengan jawaban Nina.


"Ya sudahlah, terserah Nenek saja. Kenapa dia nggak suka sama aku? Tapi suka sama Kakak! Nyebelin!" Asha bejalan sambil menghentakkan kakinya ke lantai. Nina hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Nona kecilnya.


***


    Revan duduk di sofa sambil melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Menara tinggi bercahaya keemasan itu menjadi pemandangan yang membosankan bagi Revan. Bagaimana tidak, walaupun ini adalah liburan pertamanya bersama kedua buah hatinya, tapi justru Revan merindukan Lisa yang sampai saat ini belum tau di mana keberadaannya.


   Revan bisa membayangkan bagaimana menyenangkannya liburan kali ini bersama istri dan anak-anaknya. Tapi sayang, kata-kata yang sudah diucapkan tidak bisa ditarik kembali. Revan pernah berkata untuk menyelamatkan Lisa tanpa perduli pada anak yang ada di dalam kandungannya. Sekarang, bahkan keduanya tak ada kabar. Tidak Lisa, tidak juga anak yang ada di dalam kandungan itu.


"Ayah ...." Suara pelan Asha terdengar samar. Revan tersadar segera tersenyum menyambut putrinya yang sudah berusia 8 tahun. Gadis kecil itu membalas dengan tersenyum manis.


"Ada apa, sayang?" tanya Revan sambil menatap Asha yang berdiri sambil menatap Revan penuh harap.


"Aku bosen," bisik Asha pelan. Revan mengernyit, menggerakkan tangannya agar Asha mendekat ke arahnya. Asha berjalan mendekati Revan lalu duduk di sampingnya.


"Ini udah malem, besok Ayah ajak jalan-jalan."

__ADS_1


"Janji?" Asha mengulurkan jari kelingkingnya.


"Janji!" Revan menakutkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Asha.


"Yeeeay!" Revan tersenyum saat Asha memeluknya dengan erat. Pria itu membalas pelukannya sambil sesekali mengusap rambut Asha yang tergerai.


"Asha, apa kamu nggak kangen sama Bunda?" pertanyaan yang Revan ajukan membuat Asha tampak murung.


"Aku kangen banget sama Bunda. Ayah, tau nggak Bunda di mana?" Revan menggeleng. Lalu melepas pelukan dari putrinya.


"Ayah lagi cari Bunda, nanti kalo Bunda udah ketemu, pasti Ayah kasih tau kamu."


"Bener ya Ayah, nanti kalo Ayah ketemu sama Bunda, bilangin sama Bunda kalo Asha kangeen banget sama Bunda." Revan mengangguk.


"Iya, sayang."


***


"Buah, tidak akan jatuh, jauh dari pohonnya!" pria berkumis tipis itu tersenyum, lalu memberikan sebuah map kepada Murat. Pria setengah abad itu terkekeh pelan.


"Bukankah sama seperti anda?"


"Zayan, setelah dia lulus dari sekolah dasar. Aku akan mengirim dia ke sekte yang kamu kelola!" ucap Murat.


"Anda yakin Tuan? Tuan muda Arezha sangat berbakat dalam bidang bisnis? Mengapa anda ingin beliau menjadi seorang agen?"


"Kamu tidak tau? Aku ingin dia belajar cara bertahan hidup di dunia gelap, sebelum dia merangkak ke dunia bisnis."


"Tuan, bukankah terlalu gegabah mengambil keputusan sekarang?"


"Menurutmu begitu?" Murat membuka berkas yang di sodorkan Zayan padanya.


"Tuan, menurut saya, Tuan muda Arezha lebih baik mendalami dunia bisnis."

__ADS_1


"Tidak! Bagiku, Ezha adalah calon pewaris dari bisnis keluarga dan juga pewaris untuk menjalankan kantor keamanan elit perusahaan."


"Sebaiknya anda berfikir kembali mengenai itu. Terlebih, Nyonya Humaira juga sudah memiliki putra lain selain Tuan muda Arezha."


"Bagaimana jika dia, tidak memenuhi kriteria?"


"Anda yang harus membentuknya. Anda yang harus membuat Tuan muda Athala seperti yang anda inginkan!"


"Tidak! Aku tidak ingin membuat dia menjadi bonekaku. Tapi, untuk usulanmu barusan. Akan aku pikirkan!" Zayan tersenyum.


"Saya harus kembali bekerja. Maaf mengganggu waktu anda, Tuan Murat."


"Ya, kembalilah bekerja. Ingat, kemanan keluargaku tergantung pada kantor kemanan Elit yang kamu kelola sekarang."


"Iya Tuan. Saya mengerti, saya permisi." Zayan meninggalkan ruang kantor Murat. Sedangkan si pemilik ruangan langsung menatap pintu kamar yang sejak tadi tertutup.


"Keluarlah!" perintahnya. Seorang wanita yang memakai baju kantoran itu muncul dari dalam kamar.


"Maaf, aku datang di saat yang tidak tepat."


"Apa yang membuatmu berani keluar dari mansion dan datang kesini?"


"Kakek, aku tau aku salah. Tapi, aku ingin tau alasan anda menculik saya," wanita itu berdiri di depan meja kebesaran Murat.


"Kamu pikir ...?" wanita itu terdiam.


"Apa karena Mas Revan?" tanyanya. Murat tergelak. Lalu mengusap sudut matanya yang berair.


"Kamu tidak merasa, kamu tidak dibutuhkan di keluarga ini?" Murat berdiri dari duduknya. Mengambil ponselnya lalu memberikannya pada wanita itu.


"Ini ... apa?"


"Kamu tidak tau? Itu foto bayi. Anakmu!"

__ADS_1


"Apa?"


To be Continue ....


__ADS_2