Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)

Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)
41. Seni Seviyorum.


__ADS_3

***


Lisa tersenyum saat melihat Revan yang tampak sibuk menenangkan Athala yang sedang menangis. Lisa sendiri sibuk membuat susu untuk Athala, walaupun Athala juga mengonsumsi ASi. Tapi, dokter juga menganjurkan untuk Athala meminum susu formula. Tentu saja karena tubuh Lisa masih harus beradaptasi setelah mengalami koma selama 5 bulan.


"Mas, ini susunya!" Sebenarnya, Lisa bisa saja meminta dua perawat yang menjaga Athala untuk membuatkan susu untuk putranya. Tapi, Lisa sejak dulu memang sudah terbiasa merawat anaknya sendiri. Bahkan, saat itu lebih merepotkan, tentu saja karena anaknya kembar.


"Kayaknya dia agak demam deh? Badannya anget!" Revan tampak panik. Athala di gendong menggunakan lengan kirinya, sedangkan tangan kanannya menepuk-nepuk punggung Athala kecil itu.


"Biar aku cek, Mas." Lisa meletakkan botol susu di meja, lalu mengambil alih Athala dari gendongan Revan.


"Enggak kok. Tangan mas dingin kali!" Lisa menarik tangan suaminya. Dan memang benar, tangan Revan terasa dingin.


"Aku baru pertama, gendong bayi!" Revan benar-benar tampak khawatir.


"Mas, mau gendong lagi?" Revan mengangguk cepat. Lisa tersenyum, memberikan Athala pada Revan.


   Pria itu kembali duduk di sofa, menepuk-nepuk punggung Athala sambil sesekali mencium pipi tembam bayi mungil itu.


"Asha sama Ezha belum ngabarin, Mas?" Lisa duduk di samping Revan. Membantu memegang botol susu Athala.


"Belum, tapi tadi suami tantemu menelfon. Katanya, Asha ingin menginap. Besok baru pulang." Lisa menatap Revan serius.


"Mas ijinkan?" Revan kali ini balas menatap Lisa.


"Memang kenapa? Dia ingin menginap di sana." Lisa menggeleng pelan.


"Asha itu sangat manja. Pasti nanti merepotkan Tante lagi!" Lisa mengambil ponselnya. Dan segera menghubungi Nindi.


"Tante, apa kabar?"


"..."


"Aku juga baik. Aku belum bisa datang, mungkin baru besok!"


"..."

__ADS_1


"Tapi, nanti Tante repot?"


"..."


"Baiklah, terima kasih, Tante."


"..."


"Iya, baiklah!"


 


Lisa meletakkan ponselnya kembali ke meja. Revan masih sibuk menciumi pipi Athala yang tampak tak nyaman dengan perlakuan Revan.


 


"Mereka menginap, besok kita jemput, sekalian mengunjungi, Tante. Boleh kan?"


"Tentu saja boleh!" Revan menepuk sisi sofa yang ada di sebelahnya. Meminta Lisa untuk duduk di sana. Lisa mengerti dan segera duduk.


"Mas, aku ada permintaan."


"Katakan?"


"Bolehkah kita di sini saja? Kita tidak perlu kembali ke sana?"


"Maksudmu, kita akan tinggal di sini selamanya?" Lisa mengangguk.


"Sebenarnya, aku tidak suka tinggal di sana!"


"Kenapa? Apa keluargaku memperlakukannya dengan buruk?" Lisa menggeleng dengan cepat.


"Tidak, bukan itu. Mas ... sebenarnya, dulu aku dan sepupumu memiliki hubungan. Aku tidak bermaksud membohongimu. Hanya saja, aku tidak ingin keadaan menjadi rumit. Jadi aku menyembunyikannya." Revan sudah tau semuanya. Tapi, entah mengapa. Saat Lisa mengatakannya dengan sendirinya. Dia merasa senang sekaligus lega.


"Hubungan seperti apa?" jika Lisa ingin jujur. Apa dia akan mengatakan semuanya?

__ADS_1


"Aku dan Isaac pernah menjalin hubungan saat Kuliah, selama 2 tahun. Aku tau, seharusnya aku mengatakannya padamu, Mas. Tapi, saat itu, aku merasa tidak harus mengatakannya. Itu akan membuatnya menjadi rumit. Jadi aku tidak memberi tahumu. Maafkan aku!" Revan sama sekali tidak marah. Justru, dia senang karena Lisa akhirnya mau mengatakan kejujuran padanya.


"Tidak apa-apa. Aku tidak marah, terima kasih karena sudah mau jujur!" Revan menarik kepala Lisa agar mendekat. Lalu mencium kening istrinya dengan sayang. Athala yang masih dalam delapan Revan hanya diam sambil memainkan botol susu yang berada di mulutnya.


"Maafkan aku karena tidak memberi rahimi sebelumnya." Revan hanya tersenyum. Lisa mengambil alih Athala dari gendongan Revan.


"Dia sangat mirip denganmu, Mas." Revan terkekeh.


"Benarkah?"


"Mn, dia seperti Ezha saat masih bayi." Lisa mengingat sesuatu. Wanita itu mengambil ponselnya dengan sebelah tangan, lalu menunjukkan sebuah foto pada Revan, "lihat. Ini Ezha saat masih bayi. Dia sangat mirip dengan Athala!" Revan membandingkan foto itu dengan Athala. Dan memang benar, keduanya sangat mirip.


"Benar, mereka seperti bayi kembar. Walaupun jarak lahirnya sangat jauh!" Revan terkekeh. Lisa meletakkan kembali ponselnya. Lalu mengusap pipi tembam Athala. Bayi mungil itu tampak tertawa pelan saat sang Ibu memainkan pipinya.


"Maira ... aku ingin tau sesuatu?"


"Apa itu?"


"Tentang perkataanmu saat di pemakaman ..." Lisa tersenyum. Di harapnya Revan dalam diam lalu mengangguk.


"Itu benar, mungkin aku baru menyadarinya akhir-akhir ini. Tapi, aku sepertinya sudah mencintaimu, Mas." Revan balas tersenyum, lalu menarik Lisa kedalam pelukannya. Walaupun ringan, karena ada Athala di antara mereka.


"Aku juga ... semi seviyorum!" Revan menghapus jarak di antara mereka. Awalnya, dia hanyaAingin mengecil singkat bibir istrinya. Tapi, sepertinya, dia juga terbawa suasana. Sampai, tangisan Athala menyadarkan keduanya.


"Sepertinya dia cemburu!" Revan terkekeh pelan sambil mencubit pelan pipi Athala. Lisa tersenyum malu dan segera menenangkan putranya.


"Sudah mas, jangan menggodanya!" Lisa menjauhkan Athala dari tangan Revan yang tidak bisa diam.


"Dia sangat menggemaskan, aku tidak tahan untuk mencubitnya!" Revan kembali mencium pipi Athala dan mencubit pipinya.


"Sudah-sudah!" Lisa tertawa pelan sambil kembali menjauhkan Athala dari Revan. "Mas, berbahaya bagi Athala!" Revan ikut terkekeh mendengarnya.


Ternyata, kebahagiaan saat perasaanmu bernapaskan sangat menyenangkan. Itu yang Revan rasakan saat ini. Lisa kini sudah balas mencintainya, Revan sangat bahagia sekarang. Tidak perduli bagaimana kedepannya nanti, yang sekarang dia rasakan, akan dia jaga sampai kapanpun!


The End.

__ADS_1


__ADS_2