
***
"Katakan!" Revan menatap Isac dengan tatapan penuh amarah.
"Apa?"
"Katakan di mana istriku, Agrisac!" bentak Revan tak sabaran. Isac terkekeh pelan, mendekati Revan dan menepuk bahunya.
"Kamu yang menikahinya, kamu yang tinggal bersamanya, kenapa sekarang mencarinya padaku?" Revan mengepalkan tangannya.
"Kamu pura-pura lupa!" Revan mendorong bahu Isac setelah itu menarik kerah bajunya, "8 tahun lalu, kamu yang memberikan aku obat sialan itu dan akhirnya aku menidurinya. Kamu pikir, aku tidak tau! Hah!" Isac terdiam.
"Apa maksudmu, siapa yang kamu maksud."
"Kamu bekerja sama dengan Maira bukan! Kamu ingin menghancurkan aku? Maaf saja, aku tidak sebodoh itu."
"Tunggu! 8 tahun lalu, bukankah kamu tidur dengan Sintia?" Revan tertawa.
"Jangan naif Isac! Kamu sendiri yang membawa Maira ke kamarku bukan?" Isac menggeleng. Tidak, itu salah! Apa yang sudah Isac lakukan?
"Tidak, tidak mungkin!"
"Apa kamu sedang acting? Actingmu payah sekali!"
"Kamu bohong!" Isac mendorong Revan agar melepaskan tubuhnya dari cemgkaraman tangan Revan.
"Rencana kalian sungguh sukses! Kamu membawa Maira ke kamarku, lalu memberikanku obat sialan itu. Dan sekarang setelah aku menikahinya, kamu menculiknya! Apa maumu!"
"Tidak!" Isac terhuyung-huyung dan jatuh terduduk di lantai. Apa yang telah dia lakukan? Jadi, 8 tahun lalu, saat dirinya menjebak Revan, ternyata wanita itu Lisa? Kenapa bisa seperti itu?
"Katakan di mana istriku! Agrisac!"
"Aku tidak tau!" teriak Isac frustasi.
"Kalian bekerja sama bukan? Mana mungkin kamu tidak tau!"
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak tau, aku tidak bekerja sama dengannya. Dia hanya teman di kampusku dulu!" Revan mengernyit.
"Kebohonganmu tidak diterima! Cepat lepaskan Maira sekarang juga, Agrisac! Dia sedang mengandung, akan bahaya jika dia tertekan!" Isac mengepalkan tangannya. Lalu meninju lantai dengan sangat keras.
"Aku dan dia sudah tidak bertemu selama lebih dari 15 tahun. Kamu pikir siapa yang melakukan itu!" Revan mengernyit.
"Aku tidak ingin mendengar omong kosongmu itu! Cepat, lepaskan saja istriku dan biarkan aku pergi sebelum aku bertindak lebih."
"Emir! Kamu jangan berpura-pura, apa kamu lupa siapa yang sudah membuat aku kembali lebih awal saat kuliah di Indonesia?" Isac mendongak, menatap Revan dengan tatapan bencinya, "Ayahmu yang membawaku pergi! Ayahmu dan Ayahku bekerja sama membuat aku kembali lebih cepat!"
"Aku tidak tertarik dengan ceritamu!"
"Memisahkanku dari Alisa! Kalian semua membuatku seperti monster di matanya! Kalian pikir kalian siapa!" Revan terdiam. Jadi benar, Isac memiliki hubungan khusus dengan Lisa.
"Sudah selesai actingnya Agrisac. Sekarang, bawa Maira kesini, dan kita selesaikan dengan cepat."
"Aku tidak tau! Aku tidak tau dia di mana!"
"Bohong!"
"Jadi benar, kalian punya bubungan di belakangku 'kan?" Isac mengepalkan tangannya. Revan itu pintar sekali, dia bahkan menginterogasi sepupunya sendiri.
"Dia mantan pacarku, saat kuliah. Dan kami tidak saling menghubungi setelah belasan tahun."
"Jangan bercanda!"
"Aku tidak bercanda! Ayahmu yang sudah menghancurkan hubungan kami!"
"Maka dari itu kamu menjebakku sebelum hari pernikahanku?"
"Benar! Aku sangat membecimu Emirkan!"
"Kamu menjebakku bersama mantan pacarmu? Wah, hebat sekali kamu."
"Tidak! Seharusnya bukan Alisa! Kenapa jadi Alisa?" Isac mengacak rambutnya.
__ADS_1
"Kamu masih berpura-pura!"
"Emir! Aku bersumpah, aku bahkan tidak bisa menghubunginya setelah Ayahmu dan Ayahku membuat scenario palsu untuk memisahkanku dengan Alisa. Kami tidak saling menghubungi."
"Ayahku sudah meninggal! Jangan bawa-bawa orang tak bersalah Isac!"
"Aku bersumpah Emir! Seharusnya bukan Alisa, seharusnya bukan dia!"
"Lupakan semua itu! Dan katakan di mana Maira!"
"Aku tidak tau!"
"Brengsek!" Revan kembali menarik kerah baju Isac. "Aku benar-benar akan membunuhmu jika terjadi sesuatu dengan Maira ataupun bayinya."
"Aku ... aku tidak tau! Aku akan membantumu mencarinya!"
"Berhenti Isac! Berhenti berbohong dan cepat bawa Maira kesini!" Revan sudah tak tau lagi harus apa? Dia mencurigai Isac karena dia pikir Isac dan Lisa memiliki hubungan khusus dan merencanakan sesuatu terhadapnya.
"Demi Tuhan Emir! Aku tidak tau, kami sudah berjanji untuk tidak saling menghubungi."
"Lalu ... dimana dia sekarang?" Revan melepaskan cengkeraman tangannya di kerah baju Isac. Lalu mengusap wajahnya.
"Tidak tau! Aku benar-benar tidak tau."
"Agrisak!" teriak Revan. Tangannya terkepal kuat, rahangnya mengeras dengan sorot mata yang tajam seakan bisa membunuh siapa saja.
"Demi Allah Emir! Aku tidak tau Alisa dimana."
"Jika semua ini ada hubungannya denganmu, aku pastikan sebelah tangan dan kakimu akan lepas dari tempatnya!" Revan melangkah pergi meninggalkan kediaman sang adik sepupu. Emosinya belum juga reda, mengingat tentang rekaman CCTV yang memperlihatkan Lisa sedang berusaha memberontak dan ingin berlari ke arahnya. Sayangnya, Revan terlalu bodoh hanya untuk menoleh dan melihat apa yang terjadi pada istrinya.
Revan mengambil ponselnya, menghubungi seseorang lalu berkata.
"Hubungi Jacob, aku ingin memberinya pekerjaan."
'Baik, Tuan!'
__ADS_1
To be Continue ....