
***
"Agrisac! Lepaskan!" Lisa mendorong Isac yang berusaha memeluknya. Tiba-tiba saja Lisa merasa ketakutan, padahal kemarin Lisa baik-baik saja saat Isac memegang lengannya.
"Alisa ... jika kamu mau mendengarkan aku. Lima menit saja, aku tidak akan memaksamu." Isac berucap pasrah. Lisa terdiam sesaat, mendengar apa maksudnya?
"Aku beri waktu lima menit. Katakanlah." Isac mengangguk, perlahan duduk di kursi taman yang ada di samping mereka.
"Aku ... tidak pernah mengkhianatimu. Semua yang terjadi pada kita dulu, adalah rencana Ayahku. Aku tidak pernah mengkhianatimu Alisa, aku sangat mencintaimu, kamu tau itu. Di hari di mana aku mencarimu, kamu sudah pergi. Aku tidak tau harus mencarimu kemana, 2 tahun kita bersama, apa itu tidak cukup membuat kamu bertahan! Hanya karena sebuah kebohongan kamu meninggalkanku." Isac berdiri dari duduknya. Berdiri persis di belakang Lisa yang kini tubuhnya semakin gemetar.
"Aku berusaha mencarimu, aku hanya tidak menyangka, apa yang kita lewati selama 2 tahun kamu lupakan begitu saja. Seandainya kamu tau aku ...."
"Sudah!" Lisa langsung memutar tubuhnya menghadap Isac.
"Apa?"
"Waktu 5 menitmu sudah habis."
__ADS_1
"Alisa ...."
"Sekarang, biarkan aku menjawab." Suara petir terdengar, bersamaan dengan hujan yang mulai turun, Lisa masih bertahan di posisinya, berdiri kaku menatap Isac yang juga tengah menatapnya.
"Pertama. Kamu bilang, semua yang terjadi adalah rencana Ayahmu. Aku tidak perduli lagi, toh kita sudah tidak punya hubungan apapun, kamu sudah menjalani kehidupan mu dan akupun begitu. Kedua, kamu bilang bahwa kamu tidak pernah mengkhianatiku. Benarkah? Aku ragu akan hal itu, karena apa yang sudah kamu lakukan terlalu bisa di bilang mengkhianati. Kamu juga bilang, kamu mencariku. Jujur saja, aku tak pernah pergi kemanapun, jika kamu mengenalku, kamu tau harus mencari ku di mana," tubuh Lisa semakin bergetar. Wanita itu mengepalkan kedua tangannya, dia harus bertahan sebentar lagi.
"Ingat satu hal, aku ... tidak pernah sekalipun meninggalkanmu, dalam keadaan apapun. Karena dari awal, kamulah yang berniat pergi. Bukan aku." Lisa menunduk, "aku sudah tidak mencintaimu lagi, Isac."
"Bohong! Kamu melupakan Visi dan Misimu sendiri!" Isac mengguncang kedua bahu Lisa. Di bawah guyuran hujan yang menyakitkan, Isac menarik Lisa kedalam pelukannya, "aku tidak percaya. Kamu hanya mencintai sekali dalam hidupmu, dan kamu mencintaiku."
"Aku sudah melupakanmu! Lepaskan aku."
Lisa berharap hari ini tak pernah ada, berharap bahwa dia tak akan bertemu dengan Isac lagi. Selamanya, sampai Saatnya nanti Lisa merasa yakin bahwa dirinya mencintai Revan.
Lisa merasa tubuhnya semakin lemah, kakinya tak mampu untuk dia gerakkan sesukanya. Kepalanya berdenyut sakit, apa yang terjadi padanya? Kenapa tubuhnya terasa aneh. Lisa berusaha berpegangan pada kursi taman, sayangnya keseimbangannya tak bisa ia pertahankan. Lisa jatuh tak sadarkan diri setelah berusaha untuk tetap sadar walaupun sia-sia.
***
__ADS_1
"Tuan! Nyonya tak sadarkan diri di taman!" Revan yang tengah duduk di ruang keluarga sambil bercanda dengan putrinya langsung bangkit berdiri.
"Di mana Istriku sekarang?" tanya Revan khawatir.
"Masih di belakang Tuan!"
"Jaga Asha!" Revan segera berlari dengan sangat cepat. Setelah sampai di taman belakang, Revan terkejut melihat kondisi Lisa. Seorang pelayan sudah hampir mengangkat tubuh Lisa.
"Biar aku saja!" Revan langsung mengambil alih tubuh sang istri, "hubungi dokter, aku akan sampai segera ke rumah sakit."
"Baik Tuan."
Revan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak ingin membuat keduanya dalam bahaya, sesekali Revan mencium tangan Lisa yang tak sadarkan diri duduk di sampingnya.
"Bertahan, sayang. Aku mohon!" Revan tak tau apa yang terjadi. Yang jelas, Revan sangat takut sekarang.
Revan segera menggendong Lisa dan membaringkannya di brankar yang sudah tersedia. Dokter yang sudah di hubungi langsung membawa Lisa ke ruang UGD. Revan menunggu dengan cemas, berdiri di depan pintu, berharap pintu itu segera terbuka, dan Dokter mengatakan kabar baik. Semoga saja.
__ADS_1
To be Continue ....