
***
Sepuluh hari pasca operasi yang dijalani Lisa. Kini, wanita itu sudah mulai melakukan pekerjaannya kembali. Bedanya, saat sebelumnya Lisa berangkat membawa mobil sendiri, kini Revan selalu mengantar jemputnya. Tepatnya selama tiga hari ini.
"Saya ingin bicara ...," ucap Lisa saat keduanya ada di dalam mobil. Revan pagi ini menjemput Lisa dan akan mengantarnya ke kantor wanita itu. Tentu saja itu perintah istrinya.
"Katakan saja, sepertinya anda ada sesuatu?"
"Aku menerima lamaran anda." Tidak! Ini bukan untuk dirinya. Ini untuk kedua buah hatinya, ya. Lisa tidak boleh egois, sebagaimanapun kemarahannya pada Revan, pria itu tetap Ayah kandung dari kedua anaknya.
Revan tersenyum, pria keturunan Turki itu melirik Lisa sesaat. "Boleh saya meminta sesuatu?" Lisa mengernyit. Apa yang diinginkan pria itu.
"Apa itu?"
"Bolehkan aku memanggil anda dengan nama Humaira? Anda lebih cocok di panggil dengan nama itu." Lisa mengalihkan tatapannya keluar jendela, "jika anda tidak suka, saya tidak akan ...."
"Terserah."
"Apa?"
"Terserah, anda ingin memanggil nama saya dengan sebutan apa!"
***
Revan berjalan berdampingan dengan Lisa dan Zara. Didekapan pria itu, Zara tampak tersenyum begitu bahagia. Akhirnya, apa yang dia inginkan terwujud, Lisa akhirnya menerima lamaran dari suaminya. Walaupun Zara sempat terkejut dan menangis semalaman, tapi itu semua keputusan yang dia ambil. Zara harus menerimanya.
"Mau minum sayang?" tawar Revan. Zara menggeleng, lalu menyodorkan air yang tadi diberikan Revan kepada Lisa.
"Terima kasih." Lisa benar-benar tidak suka keadaannya saat ini.
"Zara, kamu yakin ingin ikut?" tanya Revan khawatir.
"Aku yakin Mas, aku juga ingin lihat persiapan pernikahan kalian!" ucap Zara semangat. Revan tersenyum, mengusap bahu istrinya. Lisa sejak tadi hanya diam, entah mengapa dia merasa keputusan yang dia ambil kali ini salah.
"Lisa ...." Lisa menoleh, Zara menariknya mendekat, "bagaimana? Kamu suka dekorasinya?" tanya Zara. Lisa tak menampilkan ekspresi apapun.
"Zara ...."
"Ya."
__ADS_1
"Bisakah kita tidak perlu melakukan semua ini." ucap Lisa serius.
"Apa maksudmu?"
"Tidak perlu membuat pesta."
"Aku seuju." Revan menimpali.
"Tapi ...." Lisa menggeleng.
"Ini pernikahanku Zara, aku yang akan menentukan!" Lisa berjalan menjauh. Dia benar-benar tidak suka keadaan ini, kenapa sema orang menatapnya seaskan dia adalah manusia paling rendah di dunia ini. Lisa tidak sua tatapan orang-orang itu.
***
"Ne yaptin! (Apa yang kamu lakukan!)" bentak seorang wanita paruh baya pada Revan. Revan hanya mampu menusuk.
"Anne Zara'nın isteği. lütfen evliliğimi onayla.(ini semua permintaan Zara, Ibu. Tolong restui pernikahan saya.)" Arzhu menggeleng pelan, di tatapnya putra sematawayangnya itu dengan perasaaan tak menentu.
"Kamu benar-benar tidak punya hati Revan!"
"Bu, saya tau. Tapi, saya juga harus bertanggung jawab terhadap Humaira!"
"Revan!" bentak Arzhu. Revan hanya diam, menunduk dalam. Dia sangat tau bagaimana sifat keluarganya.
Revan menghela nafasnya, sejak pernikahannya dengan Zara 8 tahun yang lalu, Arzhu sudah tidak pernah lagi menunjukan amarahnya, Revan sangat tau, Arzhu sangat menyayangi Zara. Tapi, Revan tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Terlebih, Zara sendiri yang meminta pernikahannya dengan Lisa di percepat.
***
"Bunda mau menikah?" tanya Asha dengan ekspresi menggrmaskannya.
"Iya sayang ...."
"Sama Om Revan?" tanya Asha lagi.
"Iya. Asha suka dengan Om Revan 'kan?" Asha mengangguk senang.
"Nggak boleh!" Ezha menatap Lisa tajam.
"Ezha ...."
__ADS_1
"Nggak boleh! Pokoknya Bunda nggak boleh sama Om Revan! Ayah belum pulang Bunda!" Lisa terdiam. Bagaimana sekarang? Semua yang di butuhkan sudah siap. Bahkan tinggal menghitung hari menuju pernikahannya bersama Revan. Tapi, beberapa hari ini, Lisa semakin meragukan keputusannya. Apa ini keputusan yang benar?
***
Lisa menap pantulan diriny a di depan cermin. Wajah penuh make up baru kali ini dia lihat, beberdapa saat lalu, akad nikah telah dilangsungkan. Kini, Lisa sudah sah menjadi istri dari Revan Sanjaya. Atau nama kelahirannya Adzkhan Alv Coskun itu masih belum menampakkan diri dihadapan Lisa, entah apa yang terjadi, jelasnya. Lisa sangat lelah hari ini.
Lisa langsung membersihkan riasan di wajahnya. Dia tak suka berdandan berlebihan begitu, setelah wajahnya bersih dari make up, Lisa langsung bergegas mandi. Dia harus pulang membawa kedua anaknya.
Revan memasuki kamar Lisa ketika wanita itu tengah menjalankan ibadahnya. Tersenyum, Revan menatap punggung istri mudanya itu dengan kagum. Walaupun pria itu sedikit resah, sepanjang acara tadi, Lisa tak tersenyum sedikitpun. Dan Zara bilang, Lisa memang jarang tersenyum. Tapi itu yang membuat Revan penasaran. Kenapa Lisa tampak jarang untuk tersenyum.
"Mas Revan?" Revan tersadar dari lamunannya. Ternyata Lisa sudah mengulurkan tangannya yang berbalut mukena. Revan tersenyum lalu menjabat tangan Lisa, wanita itu mencium punggung tangan sang suami.
"Sudah malam, kamu belum tidur?" tanya Revan.
"Aku harus mengantarkan anak-anak pulang. Mereka pasti kelelahan."
"Asha sedang bermain dengan Zara, dan Ezha ...."
"Aku tau, aku akan membawanya pulang malam ini."
"Apakah itu berarti kamu tidak tinggal?"
"Aku tidak berhak tinggal!"
"Kenapa begitu?"
"Zara hanya memintaku untuk menyetujui pernikahan ini. Bukan untuk tinggal bersama kalian." Lisa melepas mukena yang ia pakai. Rambut kecoklatan bergelombangnya membuat Lisa tampak cantik bak barbie.
"Tapi ini sudah menjadi rumahmu juga!" Lisa menggeleng.
"Ini rumah kalian, aku tidak bisa tinggal di sini." Lisa melipat sajadah, lalu meletakannya di atas sandaran sofa. Revan menarik lengan Lisa agar mebghadapnya.
"Kamu berhak! Kamu istri sahku sekarang, dan kamu berhak tinggal di sini." Lisa melepaskan tangan Revan perlahan dari lengannya.
"Maaf, aku akan menolaknya. Permisi!" Lisa bergegas pergi, meninggalkan Revan yang langsung mengikutinya dari belakang.
"Humaira ...." Lisa menghentikan langkahnya. Revan mendekat, menggenggam tangan Lisa lalu menatap mata istrinya.
"Kamu akan tinggal di sini, setuju atau tidak."
__ADS_1
"Bunda ...." Revan refleks melepas genggaman tangannya begitu Ezha datang dan memanggil Lisa.
"Iya sayang ...," senyuman Lisa terbit. Membuat Revan tertegun, bukankah sejak tadi Lisa tak terlihat menampilkan senyumannya?