Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)

Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)
18. Permintaan Terakhir Zara.


__ADS_3

***


    Entah sejak kapan, prinsip, visi dan misi yang selama ini tertanam dalan kehidupan Lisa berantakan? Semenjak bertemu Revan, kehidupannya tak pernah lagi sama. Semua prinsip-prinsip yang dia bangun selama ini hancur begitu saja. Apa yang dia tau tentang cinta? Tidak ada, dia hanya pernah mencintai sekali dalam hidupnya, belasan tahun yang lalu. Memberikan seluruh cinta dan perhatian yang ia punya. Dia curahkan semuanya pada pria itu. Pada akhirnya pria itu justru meninggalkannya.


     Lisa tak ingin lagi mencintai, atau sekedar menafsirkan arti cinta. Yang dia tau,  dia merasa seakan tidak butuh lagi yang namanya cinta. Tapi, hari itu, seorang pria datang menemuinya, di pagi hari yang cerah, dengan tubuh tegap berbalut kemeja abu-abu, tiba-tiba dia berlutut di depannya, mengatakan hal mustahil bernama cinta. Lisa hampir tak percaya. Namun, pria itu mengatakannya berulang kali, memeluknya dengan erat sekaan takut kehilangan dirinya.


"Aku tak mengerti ...," semua terjadi begitu cepat. Pernikahan yang tidak pernah dia sangka akan terjadi, keluarga suami yang tak menerimanya. Dan juga, dia bahkan kehilangan buah hatinya. Lisa tak mengerti mengapa kehidupan begitu kejam.


"Hiduplah dengan bahagia ...." Lisa menggeleng pelan, air matanya mengalir. Bagaimana sahabatnya berkata seperti itu di saat-saat terakhirnya. Lisa menggenggam kuat tangan Zara, menatap mata sahabatnya yang mulai sayu, dengan wajah pucat.


"Kamu, tidak akan kemanapun."


"Maaf ... aku sudah tau segalanya, semua yang kamu alami. Aku sudah membuatmu kehilangan anakmu ...." Zara berucap lemah. Siapa yang memberi tahunya? Apa Revan? Tidak mungkin. Tapi siapa?


"Zara ...."


"Jaga suamimu, aku mengikhlaskannya untuk mencintaimu." Zara memejamkan matanya, bersyahadat sebelum mata itu tak lagi bisa terbuka.


"Zara! Zara! Bangun, suster!" Lisa panik. Dia tidak mungkin kehilangan sahabatnya. Tidak lagi.


"Zara ...." Revan berlari dan langsung mendekati Zara. Dia memang tidak di perbolehkan masuk oleh istrinya tadi. Alhasil dia menunggu di luar.


"Mas ...." Revan menarik Lisa sedikit menjauh saat dokter memeriksanya. Lisa memeluk Revan sambil menangis, dia tak mampu melihat sahabatnya pergi begitu saja. Bahkan di depan matanya.


"Tenang, tenangkan dirimu." Revan mengusap kepala Lisa dengan sayang. Tubuh istrinya bergetar hebat, entah mungkin shock karena Zara tiba-tiba pergi. Atau karena perbincangan kedua istrinya. Revan tidak tau.


"Kami sudah berusaha Pak, tapi seperti yang sudah saya katakan sebelumnya. Kanker serviks stadium lanjut sudah tidak bisa disembuhkan. Maaf," ucap Dokter. Lisa menggeleng dalam dekapan Revan. Dia tak tau mengapa Zara tak mengizinkan dirinya berpisah dengan Revan.


"Wanita terkutuk! Apa yang kamu lakukan pada menantuku!" Lisa mendapat tarikan cukup kuat dengan tiba-tiba. Revan yang juga tak menyadari keberadaan Arzhu itu terkejut.


"Anne!" Revan langsung menarik Lisa untuk berada di belakang tubuhnya, "jangan menyentuhnya."


"Berani kamu berkata seperti itu, setelah dia membunuh menantuku!"

__ADS_1


"Anne! Aku mohon, ini bukan saatnya menyalahkan siapapun!" Revan kembali memeluk Lisa.


"Tenanglah Maira, selama aku ada. Kamu akan baik-baik saja."


"Dengar wanita tidak tahu diri! Kamu seharusnya ...."


"Anne!"


"Maaf Bu, anda tidak boleh membuat keributan di sini." Arzhu menatap Lisa tajam. Lalu segera mendekati menantu kesayangannya.


"Maafkan Anne, sayang."


***


    Lisa duduk di sebuah kursi yang ada di ruang makan. Menatap beberapa sajian untuk di suguhkan kepada tamu yang akan melakukan tahlil di rumah itu. Suara pengajian terdengar di ruang tamu. Lisa tidak ikut karena sedang berhalangan, tentu sjaa efek keguguran. Dokter bilang itu wajar, kemungkinan pendarahan akan terjadi selama satu bulan. Seperti orang datang bulan. Lisa bahkan harus meminum suplemen penambah darah agar dia tak kehabisan darah.


"Sedang apa?" Lisa terkejut, Revan sudah berdiri tak jauh di depannya.


"Tidak melakukan apa-apa," jawab Lisa sedih. Jujur saja, dia ingin membantu. Tapi Revan melarangnya dengan alasan yang cukup logis. 'Kamu baru saja operasi, bagaimana jika jahitannya terbuka,' dan itu memang patut di waspadai. Walaupun sudah dua minggu pasca operasi, Lisa harus terus menjaga kesehatannya.


"Aku tidak lapar."


"Setidaknya, makanlah sesuatu. Aku tidak mau kamu sakit." Lisa tak menanggapi, wanita itu justru berdiri dari duduknya.


"Aku lelah," hanya itu yang Lisa katakan. Revan memakluminya, pasti Lisa sangat tertekan.


"Aku akan mengantarmu ke kamar."


"Tidak perlu."


"Ayo," keras kepala. Itu adalah sifat Revan, Lisa tak mau ambil pusing, lebih baik dia beristirahat.


"Bener 'kan, mereka sudah menikah." Revan menoleh saat suara berisik terdengar di telinganya.

__ADS_1


"Padahal Bu Zara baik dan cantik. Tapi kasihan, suaminya malah berselingkuh, bahkan sampai menikah lagi."


"Iya-ya, Bu Zara itu, udah baik, ramah terus jarang marah. Istri idaman sekali, sayangnya malah di selingkuhin."


"Nggak tau malu wanita yang jadi selingkuhannya itu."


"Sudah tidak asing sih, merebut suami orang begitu."


"Seharusnya dia malu, Bu Zara sampai meninggal, itu pasti karena dia tertekan." Revan tidak tau banyak rumor yang beredar seperti itu.


"Benar, ku dengar wanita yang menjadi madu Pak Revan itu sahabatnya Bu Zara."


"Masa sih?"


"Bener-bener ya, wanita rendahan sekali."


"Maira ...."


"Biarkan saja, aku sudah biasa." Revan tersentak, apa maksud dari kata 'sudah biasa' itu. Apa mungkin selama ini Lisa mengalami hal seperti ini tanpa dia tau?


"Tapi mereka keterlaluan."


"Mereka benar 'kan." Lisa tersenyum. Revan menatapnya tanpa berkedip, bibir yang jarang tersenyum itu kini menampilkan sebuah senyuman. Senyum kepasrahan yang entah mengapa membuat Revan terusik.


"Apa yang mereka katakan tidak benar."


"Aku merebutmu dari sahabatku. Apa yang lebih buruk dari itu."


"Kamu tidak bersalah. Jika bertanya siapa yang bersalah. Itu sudah pasti aku."


"Sudahlah, Mas aku mau istirahat." Lisa memasuki kamarnya dan Revan. Revan menghela nafasnya, mengikuti Lisa masuk ke dalam kamar.


"Aku akan mengurus di depan, beristirahatlah. Jangan terlalu banyak memikirkan hal yang tidak perlu. Jika butuh sesuatu, panggil aku." Revan membantu Lisa berbaring, menyelimuti istrinya lalu mencium kening sang istri yang langsung memejamkan matanya.

__ADS_1


"Maafkan aku sudah membuatmu seperti ini, Humairaku."


To be Continue ....


__ADS_2