Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)

Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)
12. Ibu Mertua.


__ADS_3

***


    Sudah genap satu bulan Zara di rawat di rumah sakit. Wanita berusia 33 tahun itu tampak bosan dan ingin segera keluar dari rumah sakit. Revan melarangnya, dengan alasan kesehatan juga melihat kondisi tubuh sang istri yang kian hari kian menyusut. Membuat Revan takut.


"Aku baik-baik saja. Jadi, izinkan aku pulang," ini adalah permintaan entah yang keberapa puluh kali di minggu ini. Revan selalu menjawab tidak dan tidak. Membuat Zara semakin bosan.


"Sejauh ini kesehatan Ibu Zara semakin membaik, tubuhnya menerima obat yang kami berikan," jelas Dokter sambil menunjukkan hasil pemeriksaan Zara minggu ini.


"Jadi, apa istri saya boleh pulang?" tanya Revan.


"Istri anda boleh pulang, asalkan tidak lupa jadwal pemeriksaannya." Revan mengangguk mengerti.


"Baik Dokter, terima kasih."


***


"Alhamdulillah ...." Zara tersenyum terlewat lebar mendengar penuturan suaminya. Dia sudah sangat rindu rumah.


"Hati-hati!" peringat Varah sambil membantu putrinya itu turun dari tempat tidur.


    Revan membantu Zara, membimbing wanita itu duduk di kursi roda. Sedangkan Varah membereskan barang-barang yang ada.


"Zara ...." Zara menoleh saat ada yang memanggil namanya.


"Lisa, kamu datang juga." Zara mendorong kursi rodanya mendekat ke arah sahabatnya, "aku sudah boleh pulang." Zara berucap senang. Lisa mengangguk dan tersenyum, memeluk Zara dengan erat. Revan yang melihat itu bingung, Lisa baik-baik saja 'kan?


"Ada apa Lisa, apa kamu ada masalah?" tanya Zara bingung.


"Ahh, tidak. Aku hanya ingin minta maaf." Revan terdiam, apa ini ada hubungannya dengan kejadian tiga minggu yang lalu? Jika iya, maka Revan tidak bersalah, Lisapun begitu. Mereka adalah sepasang suami-istri, wajar bila mereka 'tidur bersama' dalam artian lebih.


"Maaf untuk apa? ... jangan cerita dulu, hari ini aku ingin makan masakan kamu," pinta Zara dengan semangat. Lisa mengangguk sekilas, lalu melirik suaminya yang berdiri di belakang kursi roda Zara, menenteng beberapa tas.


"Biar aku bantu." Lisa mengambil salah satu tas yang ada di tangan Revan, lalu membawanya keluar.

__ADS_1


"Mas, menurut kamu, apa Lisa punya masalah?"


"Tidak, dia tidak cerita apapun," jawab Revan.


"Aneh, Lisa tidak akan meminta maaf begitu saja jika tidak ada sesuatu." Zara menoleh, menatap suaminya yang masih terlihat sedang menatap pintu. Zara mulai tak tenang. Benarkan suaminya sudah mencintai Lisa? Jika benar, bagaimana jika Revan meninggalkannya. Apa yang akan dia lakukan?


****


"Anne(ibu dalam bahasa Turki)!" Revan mendorong kursi roda Zara masuk ke dalam rumah.


"Kalian sudah pulang?" senyuman Arzhu tampak tulus menyambut Zara. Dengan penuh perasaan memeluk sang menantu kesayangan.


"Dimana Humaira?" tanya Revan.


"Siapa yang kamu tanyakan?" Arzhu menatap tajam sang putra yang masih berada di belakang kursi roda Zara.


"Anne ...."


"Ayah ...!" Asha berlari sambil menangis. Dengan cepat memeluk pinggang Revan.


"Bunda, Bunda habis di marahin sama tante itu." Asha menunjuk Arzhu lalu kembali memeluk Revan.


"Anne! Apa yang Anne lakukan?"


"Di rumah ini, menantuku hanya ada Zara. Tidak ada yang lain!" tegas Arzhu.


"Anne ...."


"Mas ...." Zara mengusap lengan Revan. Menenangkan suaminya dari kemarahan. Varah baru masuk setelah mengambil beberapa barang di mobil.


"Besan ...," sapa Arzhu ramah. Varah yang terkejut dengan kedatangan Arzhu sempat terdiam. Yang dia tau, Arzhu sedang berada di Turki mengurus sesuatu di sana.


"Ahh ya, kapan datang?" Varah menyambut besanannya itu dengan pelukan hangat.

__ADS_1


"Kemarin, tapi baru sempat kesini," jelas Arzhu. Revan meletakkan beberapa tas ke sofa.


"Aku akan mengantar Zara ke kamar!" pamit Revan. Mengendong Zara ke kamar mereka, di ikuti si kecil Asha di belakangnya.


    Sementara itu, di dalam kamar Lisa, wanita itu sedang duduk di depan meja rias. Di tatapnya pantulan dirinya dengan bekas memerah di pipi sebelah kirinya. Sakit memang, perih, tapi Lisa harus bertahan demi kedua anaknya. Arzhu yang menamparnya beberapa saat lalu, meninggalkan rasa perih di pipinya. Kenyataan bahwa suaminya adalah suami sahabatnya sudah membuatnya terguncang, sekarang di tambah kenyataan lain, bahwa orang tua suaminya tak menerimanya. Sekarang dia harus apa?


    Yang ada dipikirannya hanya pergi dari rumah itu, meninggalkan semuanya. Menjalani kehidupannya sendiri.


"Maira ...." Lisa tersentak kaget. Dengan cepat mengusap pipinya yang basah karena air mata, "maaf karena sikap Ibuku." Revan mendekat. Berdiri di belakang Lisa yang mulai ketakutan seperti biasa. Walaupun Lisa sudah kembali mendatangi Psikiater beberapa minggu ini, tapi tetap saja, Lisa masih mengalami serangan panik jika berada didekat Revan. Revan menatap Lisa melalui pantulan cermin, memegang bahu istrinya itu dari belakang.


"Aku tidak akan bertanya apa kamu baik-baik saja, karena aku tau, kamu tidak baik-baik saja." Revan menghela nafasnya, menunduk dan mensejajarkan kepalanya di samping kepala Lisa, "Asha bilang, Ibuku memarahimu, benar 'kan?" Lisa hanya diam. Wanita itu tengah mengatur kesadarannya agar tetap terjaga, Revan terlalu dekat dengannya.


"Aku mohon, apapun yang Ibuku katakan, tolong jangan dengarkan." Revan meneggakan tubuhnya. Pria itu tau Lisa tengah ketakutan setengah mati sekarang.


"Mas ...." Lisa menahan tangan Revan saat pria itu akan pergi. Revan menoleh dan tersenyum.


"Apa ... aku merebutmu dari Zara? Aku sangat terganggu," pertanyaan Lisa membuat Revan berjongkok di depan wanita itu. Menggenggam kedua tangannya dan menatap mata sang istri.


"Tidak. Apa Ibuku yang mengatakan itu?" Lisa mengangguk, "jangan dengarkan dia, aku tidak merasa kamu telah merebutku. Dan juga, kalian berdua punya tempat tersendiri di sini." Revan mengarahkan tangannya ke dada, lalu tersenyum.


"Seharusnya, kita tidak perlu bertemu."


"Apa maksudmu, aku harus bertanggung jawab atas apa yang sudah aku perbuat padamu."


"Bukan itu, seharusnya kita tidak bertemu ... 8 tahun lalu." Revan langsung diam. Pria itu tersenyum, dia tidak akan terpengaruh, justru Revan senang. Lisa sudah mengalami banyak kemajuan.


"Tidak, Allah sudah memberikan jalan untuk kita bertemu, kenapa kita harus menghentikan ini semua." Lisa menunduk, menatap tautan tangannya dengan sang suami. Revan mengangkat tangannya dan mengusap pipi kiri Lisa. Saat itulah dia baru menyadari ada bekas merah di sana.


"Apa Ibuku yang melakukan ini?" tanya Revan. Lisa tak menjawab, dan Revan tau apa yang dia tanyakan itu benar. "Maaf atas apa yang sudah Ibuku lakukan." Lisa menggeleng.


"Kenapa Mas minta maaf, itu bukan kesalahan Mas."


"Tetap saja, aku akan Bicara pada Ibu, tetap di sini dan kompres ini." Revan mengusap pipi Lisa yang memerah. Lisa hanya mengangguk, memperhatikan punggung tegap suaminya yang mulai menjauh. Lisa menunduk, mengusap perut ratanya.

__ADS_1


"Maaf nak, Bunda belum bisa kasih tau Ayah tentang kamu. Maaf."


To be Continue ....


__ADS_2