Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)

Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)
14. Kecelakaan.


__ADS_3

***


    Zara menatap pemandangan taman belakang dari jendela kamarnya. Sudah satu minggu berada di rumah, tapi dia hanya berada di kamar saja. Sangat membosankan, Zara ingin menghirup udara segar.


     Zara mengambil tas slempang kecil dan membawa beberapa lembar uang, juga ponsel. Dia akan berjalan-jalan sore, dia sangat bosan hanya duduk diam di kamar saja. Membosankan.


****


"Rapat dewan direktur segera dilakukan. Berkas sudah disiapkan, anda sudah di tunggu Pak." Revan mengangguk, menerima beberapa map yang langsung di bawanya ke ruangan rapat.


    Rapat di mulai tepat pukul 3 sore, Revan memulainya dengan pembahasan mengenai pembangunan apartemen baru yang akan dilakukan beberapa bulan lagi. Semua sudah disiapkan termasuk para infestor dan juga lainnya.


"Pak, ada telfon." Sekertaris Revan. Fitra berbisik pada Revan.


"Katakan aku sedang rapat."


"Darurat Pak, istri Bapak mengalami kecelakaan." Revan langsung berdiri.


"Maaf semuanya, rapat kita tunda sampai besok. Saya ada urusan, terimakasih atas kehadirannya."


***


    Lisa membawa belanjaannya keluar dari mini market. Beginilah tugasnya sejak dulu menjadi Ibu tunggal, setiap pulang kerja harus mempersiapkan makan malam dan juga beberapa cemilan agar anak-anaknya tak terlalu bosan saat dia tinggal bekerja esok harinya.


   Hari ini tepat  satu bulan setelah dia mulai kembali memeriksakan diri ke psikiater. Profesor Anna yang menangani Lisa bilang, perkembangan kesehatan Lisa semakin membaik. Lisa merasa senang, terlebih beberapa saat lalu dia baru saja berbicara dengan sedikit lancar dengan salah satu dokter pria di sana.


"Zara?" Lisa menghentikan langkahnya. Dia tak salah lihat, yang sedang berjalan diujung jalan sana itu adalah Zara.


    Lisa mempercepat langkahnya, menyebrang jalan dengan hati-hati, dia harus membawa Zara pulang. Angin sore ini terlalu kencang, Zara bisa sakit. Kenapa Zara bisa keluar? Siapa yang izinkan Zara keluar?


"Zara!" panggil Lisa. Lisa berjalan semakin cepat, mendekati Zara yang berjalan menunduk. Mereka hampir dekat saat Lisa melihat sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi hampir menabrak Zara. Lisa refleks berlari dan menarik Zara, sayangnya Lisa justru terkena stang motor dan mengakibatkan Lisa terjatuh hingga lengan dan lututnya lecet menghantam aspal.

__ADS_1


"Zara. Zara bangun!" Lisa panik, Zara tak sadarkan diri. Orang-orang yang berada di sekitar tempat kejadian langsung mendekati Lisa dan Zara.


"Tolong, teman saya sedang sakit. Dia harus segera di bawa kerumah sakit!" ucap Lisa.


"Saya sudah panggil ambulance, anda tenang saja, sebentar lagi sampai." seorang supir taxi yang kebetulan ada di sana berjongkok di depan Zara. Lisa memangku kepala Zara sambil mengusap hijab yang menutupi kepalanya.


"Bu. Ibu juga harus ke rumah sakit, Ibu berdarah." Lisa tak menanggapi, terus berusaha membangunkan Zara.


"Anda pendarahan Bu." ucap supir Taxi. Lisa tertegun, menatap darah yang mengalir membasahi celana kulot yang ia kenakan.


"Anakku." Lisa mengusap perutnya sambil menangis. "Anakku tolong, tolong selamatkan anakku." Lisa hampir tumbang. Seorang warga menahannya.


"Pendarahannya semakin banyak. Ambulancenya kapan datang?" wanita yang menahan tubuh Lisa terlihat panik.


"Pakai mobil saya!" supir Taxi meminta beberapa orang untuk membantunya mengangkat kedua wanita itu.


"Ibu, masih sadar?" tanya supir taxi.


"Saya akan antar Ibu ke rumah sakit, Bapak ada yang bisa bantu saya membawa mereka ke Rumah sakit?"


"Saya Pak." seorang wanita muda mengajukan diri, "saya ikut dengan Bapak, saya mahasiswa kedokteran tingkat pertama. Saya akan mencoba memberikan pertolongan pertama."


"Baiklah, cepat masuk. Darurat."


***


"Suster ada dua korban kecelakaan di dalam mobil, salah satunya ibu hamil dan satu lagi pasien dari rumah sakit ini," jelas supir taxi. Beberapa suster dengan gerakan cepat berlari membawa dua brankar kosong.


"Pendarahannya cukup banyak, bawa ke ruang UGD."


"Dokter, pasien satunya lagi adalah Ibu Zara, pengidap kanker rahim stadium lanjut," jelas asisten Dokter.

__ADS_1


"Hubungi wali nya, kita harus lakukan operasi pengangkatan rahim secepatnya."


"Baik."


***


    Revan mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, membunyikan klakson beberapa kali agar pengendara yang lain memberikan jalan untuknya.


    Sesampainya di lobby, Revan bergegas keluar, memberikan kunci mobilnya pada seorang scurity. Pria itu berlari ke ruang rawat Zara.


"Dokter."


"Pak Revan, tidak ada waktu lagi, kita harus segera melakukan operasi pengangkatan rahim," tangan Revan bergetar. Menatap Zara lalu menggenggam tangan istrinya.


"Lakukan Dokter, lakukan yang terbaik."


"Anda harus menandatangani surat persetujuannya."


"Iya Dok, saya akan menandatangani suratnya."


"Suster, siapkan ruang operasi, kita akan lakukan operasinya sekarang."


"Baik Dokter," beberapa suster langsung bergegas. Dokter menatap Revan, lalu menghembuskan nafasnya.


"Pak Revan, sebaiknya anda ke ruang perawatan di kamar 304."


"Ada masalah apa Dokter?"


"Ibu Lisa sedang membutuhkan anda, beliau sudah menghubungi walinya, Dokter Anisa juga sudah merawatnya, tapi untuk lebih detilenya lebih baik Bapak menemuinya segera."


"Baik Dokter, terima kasih."

__ADS_1


To be Continue ....


__ADS_2