
***
Revan menatap pintu ruangan bertuliskan 304 dengan tubuh gemeter, pria itu dengan perlahan memutar handle pintu, dia melihat Lisa yang menangis sambil memeluk Nindi.
"Humaira ...," panggil Revan. Pria itu masih berdiri di ambang pintu. Lisa menoleh, tangisnya semakin pecah kala Revan mendekatinya. "Tante bisa tinggalkan kami ... berdua?" Nindi mengangguk. Melepas pelukannya lalu mengusap pipi Lisa.
"Kamu harus kuat, sayang. Kamu ngerti 'kan?" Lisa mengangguk pelan. Nindi menatap Revan sesaat, lalu mendekati pria itu.
"Aku mohon dengan sangat, saat ini dia sedang terguncang. Lebih baik, jangan bahas masalah apapun dulu," pinta Nindi. Revan mengangguk, Nindi meninggalkan ruangan, menyisakan Revan yang masih menatap Lisa dalam diam.
Lisa menunduk, menatap jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya. "Maira ...," panggil Revan pelan. Pria itu mendekat lalu berdiri di samping tempat tidur Lisa, dengan tangan bergetar Revan menyentuh tangan Lisa.
"Maaf ...," ucap Lisa pelan. Revan bingung mendengar permintaan maaf Lisa yang tiba-tiba.
"Mai ...."
"Maaf aku tidak bisa menjaga anak kita, maafkan aku. Aku bersalah, aku minta maaf." Revan menggeleng. Di rengkuhnya tubuh Lisa dengan erat.
"Tidak, kamu tidak salah. Seharusnya aku lebih memperhatikanmu dan Zara. Maafkan aku." Lisa semakin menangis. Rasa takutnya terganti dengan rasa bersalah terhadap suaminya. Revan sangat menyesal, bahkan dia belum sempat mendengar kabar istrinya itu hamil. Tapi Allah berkehendak lain, dengan mengambil anaknya sebelum dia mengetahuinya.
"Jika Mas mau hukum aku, hukum aku Mas." Lisa semakin menunduk. Revan menggeleng, dia tidak akan melakukan itu, dari segi manapun. Lisa yang saat ini paling terguncang.
"Lebih baik kamu istirahat." Revan membantu Lisa untuk berbaring. Mengusap dengan perlahan air mata yang mengalir di kedua pipinya.
"Mas ... Zara, bagaimana keadaannya?" tanya Lisa.
"Kamu jangan khawatirkan itu. Kamu harus istirahat agar tenagamu pulih kembali." Lisa mengangguk. Tangannya terus menggenggam tangan Revan dengan erat. Seakan dia tak ingin sendirian.
"Tidurlah ...." Revan duduk di tepi tempat tidur, lalu mengusap rambut Lisa yang tergerai. Memperhatikan wajah Lisa yang mulai tenang, sepertinya wanita itu sudah tertidur. Tapi, genggaman tangannya masih sangat erat, Revan tak tega meninggalkan Lisa untuk menemui Zara sekarang.
***
Satu tamparan mendarat di pipi kiri Revan. Arzhu yang melakukannya. "Apa yang sudah kamu lakukan Revan. Beraninya kamu menampakkan wajahmu di sini setelah membiarkan istrimu berada di ruangan operasi ini!" bentak Arzhu.
__ADS_1
"Anne ... tidak seperti itu, Maira ...."
"Wanita itu lagi! Sudah berapa kali aku katakan padamu! Dia bukan siapa-siapa dalam keluarga kita."
"Anne! Dia sudah sah menjadi istriku, dan sekarang kami sedang berduka karena kehilangan anak kami! Bisakah Anne mengerti ... sekali saja." Revan berucap frustasi.
"Tapi Zara juga membutuhkanmu, dia dalam keadaan kritis dan kamu meninggalkannya!"
"Anne ...."
"Maaf mengganggu, tapi ini di rumah sakit. Sebaiknya jangan membuat kegaduhan." peringat seorang perawat pria.
"Ahh iya maafkan kami." Revan meminta maaf pada perawat itu.
"Pak Revan." Dokter ahli bedah yang menangani Zara keluar dari ruang operasi. Dokter cantik bernama Sherina itu mendekati Arzhu, Revan dan Varah yang sejak tadi menangis duduk di kursi tunggu.
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Varah.
"Operasinya berhasil, keadaan pasien saat ini baik-baik saja, sampai sadar nanti."
"Pasien akan kami pindahkan ke ruang perawatan intensif agar pasien bisa terus kami pantau," ucap Sherina.
"Terima kasih, Dokter." Revan tersenyum lega mendengar kabar bahwa operasinya berhasil.
***
Lisa mengaduk bubur yang beberapa saat lalu di bawakan suster. Sudah dua hari dia di rawat, tapi suaminya bahkan tak menjenguknya sama sekali. Lisa yakin, pasti terjadi sesuatu dengan Zara, yang membuat Revan tak menemuinya sama sekali.
Asha dan Ezha sudah datang 2 kali, kemarin sore dan tadi pagi. Lisa merasa kesepian, Dokter Anisa yang merawatnya belum mengizinkan Lisa untuk pulang, walaupun biaya administrasi sudah lunas bahkan hingga satu minggu, Lisa justru merasa aneh. Apa dia akan di tinggalkan oleh Revan, lalu bagaimana dengan kedua anaknya. Apa mereka akan ikut dengan Revan?
Tidak! Itu tidak boleh terjadi, Lisa tidak akan membiarkan itu terjadi. Wanita cantik itu meletakkan mangkuk bubur yang belum ia makan itu kembali ke meja, lalu memilih turun, mengangkat kantung infusnya untuk ia bawa keluar. Dia bosan ada di dalam kamar sepanjang hari.
"Mana mungkin! Anne, aku tidak akan menceraikan siapapun!" Lisa menghentikan langkahnya tepat di persimpangan lorong. Lisa bersembunyi dibalik dinding, jelas itu suami dan Ibu mertuanya. Sedang apa mereka di sana?
__ADS_1
"Hayir!(tidak!)" bentak Arzhu, "kamu harus menceraikan wanita perusak rumah tanggamu itu."
"Maira tidak merusak apapun!"
"Revan!"
"Anne, aku mohon hentikan sekarang, sudah aku putuskan ...."
"Dede(kakek)mu tidak akan menyukai ini!"
"Aku tidak perduli. Sejak dulu, yang menginginkan warisan itu bukan aku, tapi Dayi(paman) dan Teyze(Bibi). Jadi biarkan aku tinggal di sini."
"Revan!"
"Anne, sekali saja."
"Ceraikan dia sekarang. Kalau kamu tidak mau, aku yang akan mengirim surat perceraian itu segera."
"Anne ...."
"Dokter! Pasien di kamar 304 mengalami pendarahan hebat, pasien di temukan di lorong dengan keadaan pingsan."
"Bukankah dia baru saja keguguran? Siapa yang membiarkan dia keluar?"
"Maaf Dokter."
"Beritahu walinya, kita akan periksa kembali dengan menyeluruh."
"Baik Dokter."
Revan menatap Arzhu yang juga menatapnya, jantungnya berdetak cepat, tak menentu, bahkan saat Arzhu mendekat ke arahnya.
"Jika kamu pergi, aku tidak akan memaafkanmu, Revan!"
__ADS_1
"Anne ... maafkan aku, Maira juga istriku, aku akan menemuinya."
To be Continue ....