
***
"Bagaimana kondisinya?" tanya Dokter Sheila setelah masuk ke dalam ruang rawat Lisa.
"Suhu tubuhnya sangat tinggi, tekanan darah rendah, dan tubuhnya terus bergetar," jelas Ruri, selaku asisten dokter. "Diagnosa sementara, Sepsis!" lanjutnya.
"Berapa suhu tubuhnya sekarang?"
"Sejak tadi, suhunya masih 38,9°. Pasien juga belum buang air kecil sejak kemarin."
"Bagaimana dengan tes darahnya?"
"Sedang di lakukan Dok, hasilnya akan segera keluar."
"Pasang Kateter urine(untuk mengukur jumlah urine) terus pantau, jika cairan infus habis, segera ganti."
"Baik Dokter."
"Tekanan darah?"
"Masih rendah Dok."
"Berikan norepinephrine."
"Baik Dok."
"Dokter, pernafasan terganggu!"
"Pasang alat bantu pernafasan."
"Ya Dok."
Dokter dan beberapa perawat bergerak cepat menangani keadaan Lisa saat ini. Dokter Anisa juga menyuntikan antibiotik.
"Lanjutkan pemeriksaan secera menyeluruh, lakukan ct Scan dan USG."
"Baik Dokter."
***
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" Revan yang sejak beberapa menit lalu menunggu di depan ruangan segera bertanya.
__ADS_1
"Pak, dari pemeriksaan yang kami lakukan, terdapat infeksi yang terjadi pada rahim Ibu Lisa. Kita harus melakukan operasi secepatnya agar infeksi tidak semakin menyebar."
"Operasi?"
"Iya Pak, operasi ini bertujuan untuk menghilangkan infeksi yang ada pada rahim istri Bapak."
"Apa istri saya tidak akan bisa hamil?" Revan benar-benar khawatir.
"Tentu saja bisa Pak, kami hanya akan mengangkat infeksi nya, bukan merusak rahimnya. Bapak tenang saja." Revan bernafas lega.
"Lakukan yang terbaik Dok."
"Akan kami lakukan yang terbaik, Pak."
***
Zara membuka matanya, tersenyum saat melihat Revan yang duduk sambil menggenggam tangannya. "Mas ...," bisiknya pelan. Revan tersenyum, menyambut istrinya yang baru terbangun pasca operasi kemarin.
"Bagaimana? Apa ada yang sakit?" tanya Revan sambil mengusap tangan sang istri. Zara menggeleng pelan.
"Mas, aku kangen anak-anak." Revan terdiam. Menatap Zara yang tampak berharap bertemu Asha dan Ezha.
"Aku ingin bertemu."
"Mereka sedang belajar untuk ujian!" Tidak! Mereka marah pada Arzhu, lebih tepatnya takut. Wanita paruh baya itu mengancam kedua bocah tak berdosa itu.
"Sebentar saja, apa tidak bisa?"
"Tidak, jika mereka meninggalkan belajar mereka, nilai-nilai mereka akan turun." Revan mengutuk dirinya. Sejak kapan dia pandai berbohong seperti itu. Tentu saja Nindi yang dengan tegas melarang kedua anak Lisa menemui Zara. Bukan tanpa alasa , semua itu karena perkataan Arzhu kemarin. Setelah Lisa keluar dari ruang operasi, Arzhu datang ke ruang perawatannya. Saat itu Nindi ada di sana menyaksikan semuanya.
Arzhu berkata akan mengirimkan surat perceraian Revan besok. Revan jadi gusar dibuatnya. "Di mana Lisa?" pertanyaan Zara mengembalikan Revan. Pria itu tampak tak baik, penampilannya juga tak Serapi biasanya.
"Dia sibuk." tentu saja Revan tak ingin membuat Zara drop mendengar kabar tentang Lisa.
"Sesibuk itu, aku ingin menemuinya. Bolehkan?"
"Zara ... Lisa tidak bisa ditemui untuk sekarang." Zara tak mengerti. Benar-benar tak mengerti.
"Sesibuk apa sampai dia tidak mau menemuiku?"
"Dia sedang bekerja."
__ADS_1
"Pekerjaannya lebih penting dari pada aku? Iya!" Zara tampak kesal. Revan menggenggam tangannya erat, seakan berkata 'jangan menjelekkan dia, dia istriku.' Tapi Revan tak mampu. Zara juga istrinya.
"Mas! Kenapa Mas nggak kasih tau Lisa, aku sedang sakit. Dia tidak perduli?"
"Cukup Zara!" Revan lepas kontrol. Tak sengaja membentak Zara yang tak seperti biasanya, "berhenti bersikap egois!"
"Egois?" Zara tak mengerti.
"Sudahlah, lebih baik kamu istirahat. Cepat sembuh." Revan mencium kening Zara, setelah itu pergi meninggalkan Zara begitu saja. Zara sendiri menatap suaminya dalam kebingungan, firasat tentang suaminya yang sudah menerima Lisa ternyata memang benar adanya. Zara baru pertama kali mendapat bentakan seperti itu dari suaminya. Sebelumnya jangankan membentak, berucap kasar saja Revan tak pernah.
"Aku ikhlas ...."
***
Lisa masih tertidur dengan tenang saat Arzhu datang bersama dua orang pria berjas rapi. Nindi yang tengah menemaninya langsung berdiri begitu Arzhu berdiri angkuh sambil bersedekap dada menatap Lisa.
"Maaf, ada keperluan apa anda kesini?" Nindi menatap Arzhu malas. Arzhu tak menjawab, hanya memerintahkan salah satu pria di belakangnya itu untuk memberikan sebuah map kepada Nindi. Nindi menerimanya dan segera membukanya.
"Huh! Apa maksud anda?" Nindi menggeleng pelan, lalu membanting map itu ke atas meja.
"Sepertinya saya tidak perlu menjelaskan. Dalam surat perjanjian itu sudah tertulis jelas." Nindi menggeleng tak percaya.
"Saya pikir, anda juga seorang Ibu. Seharusnya saya tidak perlu menjelaskan bagaimana seorang Ibu memperlakukan anaknya."
"Anda tidak berhak mengkritik bagaimana saya mendidik."
"Apa begini cara seorang Ibu mendidik! Dengan memaksanya?"
"Jangan ikut campur ...."
"Saya berhak! Karena saya wali dari Alisa Humaira. Keponakan saya, dan saya tidak akan menyetujui hak asuh anak Lisa jatuh ke tangan Anda, setelah perceraian mereka selesai. Asha dan Ezha akan tetap bersama kami."
"Kita lihat saja nanti."
To be Continue ....
Catatan :
Dalam kebanyakan kasus, infeksi tetap berada di satu area tertentu (rahim, misalnya). Namun, dalam kasus yang lebih parah, infeksi bakteri masuk ke aliran darah Anda dan berjalan ke seluruh tubuh. Ini yang disebut sebagai sepsis. Dan ketika infeksi terlanjur menyerang tubuh Anda semakin parah sehingga menyebabkan tekanan darah menurun sangat rendah, ini disebut sebagai syok sepsis. Syok sepsis setelah aborsi termasuk kondisi gawat darurat.
Ada dua faktor utama yang dapat berperan penting terhadap peningkatan risiko Anda terhadap sepsis dan pada akhirnya, syok sepsis setelah aborsi: aborsi yang tidak sempurna (potongan jaringan sisa kehamilan masih terperangkap dalam tubuh setelah aborsi) dan infeksi bakteri pada rahim selama aborsi (baik lewat pembedahan maupun dengan cara mandiri).
__ADS_1