Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)

Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)
28. Keraguan.


__ADS_3

****


    Revan duduk di kursi samping tempat tidur Lisa. Tiga jam yang lalu wanita itu sudah bangun, tapi sekarang sudah tidur lagi. Tentu saja itu bujukannya, Lisa bahkan belum tau tentang kehamilannya. Revan tidak ingin Lisa khawatir dan tertekan lagi.


"Bagaimana dia bisa pingsan?" Revan benar-benar tak mengerti.


"Androphobia, seharusnya kamu sudah tau."


"Tapi ... dengan Isac?"


"Kenapa, dia juga laki-laki, kamu menganggap Isac itu perempuan?" Faisal menggeleng pelan. Pria itu adalah orang kepercayaan Revan sejak dulu.


"Apa ada hubungan di antara mereka? Kenapa mereka bicara di tempat yang jarang di lalui orang seperti itu?"


"Kamu cemburu?" Revan mengernyit.


"Aku, cemburu? Jangan harap. Kamu pasti tau alasanku."


"Jangan menahan diri sendiri Tuan Emirkan. Kamu sudah tua untuk melakukan itu semua!" Faisal terkekeh pelan. Lalu menyerahkan beberapa amplop coklat yang sejak tadi ada di tangannya.


"Kamu tau aku tanpa ku beritahu bukan. Jadi, jangan banyak bicara, dan kerjakan saja apa yang harus kamu kerjakan?" Revan membuka amplop coklat yang di berikan Faisal.


"Aku pergi dulu sebelum Nyonya bangun," dengan segera Faisal meninggalkan kamar rawat Lisa sebelum istri bosnya itu terbangun.


   Revan menatap Lisa, lalu kembali menatap kertas-kertas yang ada di tangannya.


"Bagaimana aku bisa mempercayaimu, jika kamu saja tak ingin aku percaya."


***


    Sore ini, Lisa meminta suster mengantarnya keluar untuk berjalan-jalan. Sudah satu minggu Lisa berada di rumah sakit, tapi anehnya. Kedua anaknya sama sekali tidak menjenguknya, Lisa merindukan kedua buah hatinya. Terlebih, Revan juga jarang menemuinya.


"Nyonya, Tuan menitipkan ini untuk anda." Lisa menerima sebuket bunga mawar putih yang di berikan suster kepadanya.

__ADS_1


"Di mana suamiku?" Lisa tak ingin hanya mendapat kiriman, dia ingin bertemu Revan. Ingin bertanya kabar kedua anaknya.


"Beliau sedang tidak bisa datang, dan menitipkan bunga ini untuk Nyonya."


"Terima kasih, kamu boleh pergi."


"Tapi Nyonya."


"Berikan aku waktu sendiri. Jangan ganggu aku sebelum aku menghubungimu."


"Baik Nyonya, saya pergi dulu."


    Lisa menatap bunga mawar putih itu dengan pandangan kecewa. Apa mungkin Lisa merindukan Revan, sampai-sampai wanita itu berharap Revan ada di sana? Berharap pria itu sendiri yang memberikan bunga itu kepadanya.


"Bagaimana kabar anak-anak?" Lisa ingin tau.


"Kau di sini rupanya?" Lisa menoleh. Arzhu berdiri sambil bersedekap dada, menatap Lisa dengan pandangan meremehkan.


"Kenapa? Apa kau terkejut aku bisa datang?" Arzhu terkekeh, "tenang saja, aku datang membawa kabar bagus untukmu."


"Kabar bagus? Apa maksud Ibu?"


"Kedua anakmu sudah di kirim ke Amerika untuk bersekolah di sana, kamu seharusnya senang. Bukankah itu kemauan mu, membuat kedua anakmu bergelimang harta!" Lisa menatap Arzu tak percaya.


"Anda pasti bohong 'kan? Anak-anakku ...."


"Kamu kini hanya perlu duduk diam, dan kedua anakmu akan hidup bahagia."


"Tidak! Tidak mungkin!" Lisa langsung berdiri dari kursi rodanya, membuat sebuket bunga mawar yang ada di pangkuannya jatuh ke tanah.


"Hei!" Arzhu terkejut saat Lisa terjatuh sambil memegangi perutnya.


"Akh!" Lisa merasakan sakit yang teramat sangat di dalam perutnya. Arzhu segera memanggil perawat untuk membantu Lisa masuk kembali ke ruangan rawatnya.

__ADS_1


***


"Bagaimana keadaannya?" tak bisa di pungkiri, Revan sangat khawatir saat orang suruhannya menghubungi dirinya bahwa Arzhu datang dan membuat keadaan Lisa memburuk.


"Keadaannya kritis, kita akan berusaha untuk terus memantau kesehatan Nyonya." Revan terduduk lemas di kursi tunggu.


"Emirkan ...."


"Anne ... kenapa Anne ada di sini?"


"Maaf, aku tadinya datang hanya untuk bercanda, aku tidak tau jika dia sedang mengandung." Arzhu jujur akan hal itu.


"Bercanda? Anne pikir, Anne anak kecil? Membohongi orang sakit seperti itu."


"Anne akan minta maaf setelah dia sadar nanti."


"Jika dia sadar! Jika tidak?"


"Apa maksudmu?"


"Anne, Maira tidak akan bisa bertahan jika dia terlalu tertekan, dan Anne membuatnya berfikir yang tidak-tidak, bagaimana jika dia tidak bisa selamat." Arzhu terdiam. Dia sama sekali tidak bermaksud untuk membuat nyawa seseorang dalam bahaya, dia hanya ingin menekan Lisa, itu saja.


***


"Keadaannya sudah kembali stabil. Tapi sebaiknya, pasien jangan sampai memiliki beban pikiran yang berlebihan, itu akan mempengaruhi kondisi Ibu dan juga Janin yang ada di dalam kandungannya."


"Baiklah, lakukan cara apapun untuk menyelamatkan dia." Revan meninggalkan ruangan Asla dan segera pergi menuju kamar rawat Lisa. Revan benar-benar tidak mengerti kenapa Lisa tidak mau memberi tahukan dirinya tentang hubungannya dengan Isac. Bagaimana jika si kembar bukan anaknya, melainkan anak Isac?


    Kenapa juga semua data mengenai Lisa sebelum 8 tahun lalu dihapus? Menghilang, entah siapa yang mengunci semua itu. Yang jelas, Revan semakin penasaran. Kenapa data-data tentang Lisa disembunyikan sampai seperti itu? Sebenarnya siapa Lisa itu sebenarnya?


    Revan sangat membenci pembohong dan penghianat. Jika Lisa membohonginya, dia tak akan ragu untuk membuat Lisa menyesal, walaupun Lisa adalah orang yang sangat dicintainya.


To be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2