
****
Revan membuka pintu kamarnya bersama Lisa dengan perlahan. Kamar itu terlihat rapi, tidak ada tanda-tanda seseorang di sana.
"Maira ...." Revan melangkah semakin masuk. Di letakkannya tas laptop yang sejak tadi dibawanya. Tidak ada jawaban, kemana istrinya itu pergi. Revan mengendurkan dasi yang sejak pagi tadi membuatnya serasa tercekik seharian ini. Suara air terdengar dari arah kamar mandi, apa istrinya sedang mandi?
Revan melanjutkan aktifitasnya, melepas dasi, Jas, dan gespernya. Hari ini Revan kembali bekerja di rumah sakit. Sambil menemani istrinya, dia tidak pergi ke kantor, walaupun beberapa jam lalu akhirnya dia harus menghadiri pertemuan dan berakhir harus pulang ke rumah.
Suara pintu terbuka membuat Revan menoleh. Lisa keluar dari kamar mandi hanya di balut handuk yang melilit tubuhnya, juga melilit rambut kecoklatannya. Sepertinya Lisa tak menyadari kehadiran Revan, buktinya, wanita itu berjalan dengan santainya menuju ke lemari, mencari bajunya.
"Maira ...," panggil Revan pelan. Lisa terkejut, baju yang ada di tangannya terjatuh ke lantai.
"M.mas Revan ...?" panik, wanita itu terlihat memojokkan dirinya didekat lemari.
"Maira ...." Revan berjalan mendekat, berdiri persis di belakang Lisa. Lisa sendiri hanya diam, meremas handuk yang ia pakai. "Maaf ...." Revan menarik dasinya, menutup mata Lisa dengan dasi itu.
"Jika kamu takut melihatku, kamu tidak perlu melihatnya." Lisa terkejut saat Revan memeluknya. Mengusap kedua lengannya.
"M.mas ...."
"Biarkan seperti ini." Lisa tertegun. Hangat dan basah terasa di bahunya, suaminya menangiskah?
"Mas ...."
"Aku mohon, sebentar saja," benar. Lisa yakin, suaminya menangis. Apa dia sedih karena Zara? Tubuh Lisa kembali bergetar, Revan mengeratkan pelukannya. Pria itu berharap Lisa bisa menerimanya, dia sangat ingin melihat Lisa terbiasa dengan kehadirannya.
"Maira ...." Revan memutar tubuh Lisa. Membuat keduanya berhadapan. Handuk yang membalut rambutnya terjatuh, membuat rambut kecoklatan milik istrinya itu tergerai. Di tatapnya wajah sang istri yang tertutup dasi berwarna biru miliknya. Raut ketakutan jelas tergambar di wajah wanita cantik itu.
__ADS_1
"Bisakah kamu menerimaku," pinta Revan.
"Mas ... siapa yang temani Zara?" sebisa mungkin Lisa mencoba menenangkan dirinya.
"Ini bukan tentang Zara, Maira. Ini tentang kita, tentang anak-anak kita." Revan mulai tak sabar.
"Mas! Mereka bukan anak-anak kamu!" tegas Lisa.
"Aku nggak percaya!" Revan menangkup kedua pipi sang istri. Menyingkirkan beberapa helaian rambut yang menutupi wajah cantiknya.
"Mas ... kita sudah bahas ini sebelumnya dan kamu ...."
"Mereka anak-anakku Maira. Aku sudah melakukan tes DNA, dan hasilnya, mereka adalah anak-anakku. Darah dagingku, kamu tidak bisa menyangkal itu." Lisa diam membisu. Seakan tubuhnya sulit untuk dia gerakkan agar menjauh dari Revan.
"Aku mohon Maira ... terima aku," pinta Revan putus asa, "tidak perlu terburu-buru, aku tau apa yang kamu alami selama ini, dan aku juga tau. Akulah penyebab semua yang terjadi padamu. Maafkan aku." Revan memeluk Lisa dengan erat. Lisa tak bisa lagi berkutik, Revan membimbing Lisa untuk duduk ditepi tempat tidur. Pria itu menatap istrinya dengan lekat. Bibir tipis berwarna merah muda itu tampak bergetar, kulit seputih susu yang kini tengah di balut handuk berwarna biru biru muda itu tampak sedikit memerah. Revan perlahan duduk di samping Lisa, memutar tubuh wanita itu agar menghadapnya. Pria itu tersenyum kecil, wanita ini begitu kecil dan juga tampak sangat rapuh. Bagaimana jika Revan membuatnya hancur? Pria itu mengusap rambut Lisa dengan sangat perlahan, merasakan betapa halus rambut sang istri yang masih sedikit basah karena habis keramas. Revan menelusupkan tangannya kedalam sela-sela rambut Lisa lalu menarik Lisa agar semakin mendekat.
"Maafkan Aku ...," percayalah. Revan tulus meminta maaf, atas semua yang terjadi pada wanita yang kini ada di hadapannya. Duduk dengan kaku dengan tubuh bergetar, Revan mencium kening Lisa, sangat lembut dan perlahan. Pria itu tak ingin membuat kesan menakutkan untuk istrinya.
"Maira ... bolehkah aku ...." Revan ragu berucap. Tapi tak ingin berhenti, maka dengan perlahan Revan membaringkan tubuh istrinya. Membuat wanita cantik itu hanya bisa pasrah dan tak lagi menolak. Revan tersenyum mengusap rambut Lisa dengan sangat perlahan.
"Maaf jika aku menyakitimu." Lisa tak perduli lagi apa yang Revan katakan dan lakukan selanjutnya. Yang dia sadari saat terbangun dari tidurnya adalah, Revan yang memeluknya dengan posesif. Apa yang terjadi semalampun dia tidak ingat.
Lisa kembali menangis, melepaskan diri dari pelukan Revan yang membuat tubuhnya kaku bak dipaku di tempat. Lisa berusaha turun, saat menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, dia justru terjatuh. Revan yang terganggu dalam tidurnya terbangun.
"Maira!" tentu saja Revan panik. Melihat Lisa yang berbaring di lantai, dengan wajah pucat dan juga tak sadarkan diri.
***
__ADS_1
"Istri anda baik-baik saja. Terlebih mendengar penjelasan anda mengenai kondisi pasien saat ini. Demamnya akan segera turun, setelah meminum obat dengan teratur dan juga menjaga kesehatan, sebaiknya anda jangan temui dulu istri anda. Karena kemungkinan besar, hal ini bisa terjadi lagi nantinya," jelas Ervi, selaku dokter pribadi wanita keluarga Sanjaya.
"Terima kasih Dokter. Saya akan lakukan apa yang dokter katakan tadi."
"Baik Pak, kalau begitu, saya pergi dulu. Assalamualaikum ...."
"Waalaikumsalam ...."
Revan melangkah kembali menuju kamarnya setelah mengantar Dokter Ervi pulang. Langkahnya terhenti begitu dua anak kecil menghadang jalannya diujung tangga.
"Ayah, Bunda sakit?" tanya Asha sambil mengulurkan tangannya agar digandeng sang Ayah. Revan tersenyum, mencium kening kedua anaknya.
"Iya, Bunda lagi sakit, jadi kalian jangan ganggu Bunda dulu ya."
"Bunda sakit apa, Yah?" tanya Ezha kali ini.
"Bunda demam," jelas Revan.
"Kasihan Bunda, Asha nggak mau ganggu Bunda. Supaya Bunda cepet sembuh."
"Anak pintar." Revan mengusap kepala si kecil dengan sayang, "ya udah, sana main sama Mba. Jangan keluar-keluar ya," peringat Revan.
"Iya Ayah." Revan tersenyum. Menatap kedua anaknya yang menggandeng suster mereka untuk turun ke bawah. Pria itu kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Revan menatap Lisa yang masih tertidur dengan lelapnya. Selimut berwarna coklat muda membalut tubuh Lisa yang masih berkeringat dingin, istrinya demam tinggi, apa itu karena dirinya? Sekarang apa yang harus Revan lakukan jika istrinya bangun.
"Maira ... maafkan aku." Revan terlihat frustasi. Duduk di tepi tempat tidur, menatap Lisa yang tampak tenang dalam tidurnya.
__ADS_1
"Maafkan aku ...."
To be Continue ....