Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)

Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)
27. Mengandung.


__ADS_3

****


"Katakan!" perintah Revan tegas.


"Nyonya bersama Tuan Agrisac, sebelum beliau tak sadarkan diri?"


"Isac?" Revan menatap seorang pria yang menunduk di depannya.


"Benar Tuan, Nyonya dan Tuan Agrisac sempat berdebat, sebelum akhirnya Tuan Agrisac pergi meninggalkan Nyonya."


"Apa kamu tau apa yang mereka bicarakan?"


"Maaf Tuan, kami tidak mendengarnya karena Hujan." Revan menghela nafasnya.


"Baiklah, lain kali awasi nyonya dengan benar. Jika istriku terluka lagi. Aku akan membuat kalian semua menyesal."


"Maafkan saya, Tuan."


"Pergilah." Revan terduduk di kursi tunggu. Lisa masih di periksa di dalam, sudah hampir setengah jam berlalu, tapi Dokter maupun suster belum ada yang keluar.


"Emir." Revan menoleh, mendapati seorang wanita yang sebaya dengannya tengah berdiri sambil tersenyum, "sudah aku duga, itu kamu," wanita itu terkekeh pelan, lalu mendekati Revan dan duduk di sampingnya.


"Kamu ...."


"Kamu lupa padaku? Huh! Jahat sekali, padahal dulu kita lumayan dekat," tawa wanita itu.


"Asla?" Revan sedikit ingat.


"Ternyata masih ingat," wanita bernama Asla itu tersenyum, lalu mengulurkan tangannya, "apa kabar?"


"Ya, seperti yang kamu lihat."


"Tidak terlalu bagus, terlebih kesan pertama kita bertemu adalah di rumah sakit. Apa itu normal?" tawa Asla terdengar. Revan hanya tersenyum, lalu kembali menatap ruangan yang telah menelan istrinya beberapa saat lalu.


"Siapa yang sakit?"


"Istriku."

__ADS_1


"Aku dengar dia dari Indonesia."


"Ya, kamu benar."


"Apa terjadi sesuatu?"


"Tidak, kamu masih menjadi dokter ternyata." Asla tertawa lagi. Dokter yang ramah itu menepuk bahu Revan.


"Tentu saja, aku belum ingin pensiun, aku masih muda jika kamu lupa!" Revan ikut tertawa.


"Bagaimana kabar Muza?"


"Dia baik-baik saja, ya walaupun sekarang dia sering lembur. Perusahaannya sedang bermasalah."


   Kedua orang itu menoleh saat pintu ruang UGD terbuka. Revan langsung berdiri, Asla ikut menyambut Dokter yang baru saja memeriksa istri dari teman kuliahnya itu.


"Dokter, apa yang terjadi?"


"Keadaannya sempat kritis, tapi sekarang sudah baik-baik saja. Demamnya juga cukup tinggi, dan dari pemeriksaan yang kami lakukan, kami menduga pasien sedang mengandung. Untuk lebih jelasnya lebih baik Bapak membawa Istri bapak ke dokter kandungan."


"Me.mengandung?"


"Senior." Dokter yang tadi menangani Lisa memberi salam.


"Ya, aku akan memeriksa pasienmu."


"Baik senior."


***


   Revan mengikuti Asla yang berjalan ke arah ruangan wanita itu. Tentu saja setelah memeriksa keadaan Lisa.


"Hasilnya sudah keluar, lebih baik kita bicarakan dulu," ucap Asla.


"Ya, terserah kamu saja." Asla terkekeh pelan, lalu duduk di kursinya.


"Duduklah," katanya memerintah Revan untuk duduk, "aku pikir istrimu itu Zara, sejak kapan kamu selingkuh?" goda Asla sambil terkekeh.

__ADS_1


"Zara sudah meninggal, dan aku ingin tau, apa benar istriku hamil?"


"Zara meninggal? Kapan, aku tidak tau?"


"Tiga bulan yang lalu. Jadi, bagaimana keadaan Maira."


"Serius? Ya Allah, aku jahat sekali tidak tau, kamu juga tidak memberi tahuku apa-apa. Dan siapa Humaira, bagaimana mungkin baru 3 bulan istrimu meninggal kamu sudah menikah lagi. Arogan sekali."


"Asla! Katakan keadaan istriku sekarang, atau aku akan membawa istriku ke rumah sakit lain."


"Ya-ya baiklah, kenapa sih? Tidak biasanya kamu marah seperti ini."


"Katakan saja keadaannya!"


"Aku jadi bingung, ini kabar baik atau kabar buruk untukmu, aku tidak akan berbohong. Saat ini, istrimu memang sedang mengandung, tapi keadaannya tidak begitu baik."


"Apa maksudmu?"


"Kemungkinan kandungannya bertahan sangat kecil. Terlebih, sepertinya istrimu dalam keadaan tertekan. Itu tidak akan baik untuk keduanya."


"Keduanya? Apa maksudmu!"


"Jika bayi tidak bisa bertahan, kalian akan kehilangan anak kalian, tapi jika ibunya yang tidak bisa bertahan, sepertinya kamu akan kehilangan keduanya."


"Lakukan apapun, apapun asalkan selamatkan Istriku."


"Kau sungguh mencintai istrimu, Huh? Tidak seperti dirimu yang dulu." Asla tersenyum jahil.


"Bukan urusanmu! Pokoknya, kau harus selamatkan istriku, aku tidak terlalu perduli pada anak itu."


"Apa maksudmu."


"Sudah ku bilang itu bukan urusanmu, kerjakan saja apa yang harus kamu kerjakan."


"Baiklah Tuan Revan Sanjaya." Revan menatap Asla tajam, "aku tahu nama itu dari berkas yang pernah mampir ke kantor suamiku. Jangan marah begitu, bukankah itu nama yang bagus." Revan tak perduli. Dengan segera keluar dari ruangan Asla.


    Mengambil ponsel Revan langsung menghubungi seseorang, "cari tahu tentang hubungan antara istriku dan Agrisac. Serahkan hasilnya besok!"

__ADS_1


   Revan tidak tau kenapa memiliki firasat jika ada hubungan antara Maira dengan sepupunya. Revan harus tau, jika dia harus kembali ke jalan yang pernah di laluinya, kenapa tidak.


To be Continue ....


__ADS_2