
****
Tak terasa, hari demi hari terlewati begitu cepat. Lisa kini sudah lebih baik dari sebelumnya, walaupun dia tak boleh melakukan hal yang terlalu berat seperti yang dulu dia lakukan. Revan yang melarangnya.
"Mas ...," panggil Lisa saat Revan baru saja selesai mandi.
"Apa?"
"Hari ini jadwal aku chack up. Mas temani aku tidak?"
"Faisal akan temani kamu."
"Aku ingin sama Mas."
"Jangan membantah Maira, sudahlah aku sibuk. Kamu harus bisa urus dirimu sendiri!" Lisa tertohok. Seakan firasatnya selama ini benar, suaminya hanya memanfaatkannya untuk mengambil kedua anaknya.
"Mas, aku ...."
"Bersiaplah. Aku hanya akan mengantar, Faisal yang temani kamu di rumah sakit." Revan bergegas keluar setelah memakai pakaiannya.
Lisa duduk ditepi tempat tidur. Entah mengapa Lisa merasa ada yang aneh pada dirinya, seperti ada sisi kosong setelah Revan bersikap dingin seperti itu. Lisa ingin Revan yang seperti dulu, ingin diberi perhatian seperti dulu. Tapi, sekarang sudah mustahil terjadi, Revan sepertinya sudah membenci dirinya. Lisa harus terbiasa dengan ini jika dia ingin terus berada disisi kedua anaknya.
***
"Nyonya, saya akan tebus obatnya, anda menunggu sebentar." Faisal melangkah meninggalkan Lisa setelah mendapat anggukan dari wanita itu.
"Sorry, are you miss Humaira Mustafa?" Lisa mengernyit, menatap seorang wanita yang baru saja memanggilnya.
"Yes i'm?"
__ADS_1
"someone is looking for you.(seseorang mencari anda.)"
"Who?"
"A man, he said your husband.(seorang pria, dia bilang adalah suamimu.)" Lisa mengernyit. Revan? Kenapa tidak langsung datang sendiri, apa dia benar-benar tidak ingin bertemu dengannya, sehingga meminta orang untuk memanggilnya.
"Thanks Ma'am."
"Ya."
Lisa melihat sekeliling, Faisal belum kembali. Tapi dia tak ingin membuat suaminya marah, lebih baik dia pergi saja menemui Revan. Jika dia menunggu Faisal, Revan akan marah nanti.
Siang ini, cuaca di luar cukup dingin. Mantel coklat yang Lisa kenakan tak cukup mampu membuatnya hangat, seharusnya dia memakai baju yang lebih tebal tadi. Perlahan Lisa keluar dari lobby rumah sakit, mencari-cari mobil sang suami yang katanya sedang menunggunya, tapi tidak ada. Kemana?
Lisa berjalan sedikit ke arah jalan raya, keluar dari area rumah sakit. Dan benar, Revan ada di sana, sedang bicara dengan seorang pria. Lisa ingin mendekat, sayangnya tiba-tiba ada yang membekap mulutnya dari belakang dan langsung memasukkannya ke dalam sebuah mobil hitam. Lisa tak sempat berteriak, hanya menggedor kaca pintu berharap Revan menoleh dan menyelamatkannya. Sayangnya, kesadarannya mulai menghilang. Lisa tak tau lagi apa yang terjadi padanya setelah itu.
***
"Baik, Tuan!" setelah beberapa orang yang ada di ruangan Revan keluar, Revan tampak mengamuk. Membanting beberapa barang yang ada di atas mejanya. Lisa menghilang tepat saat dia tengah menjemputnya. Bodoh, ceroboh! Kenapa Revan tidak langsung masuk saja kedalam dan menjemput Lisa sendiri? Kenapa harus minta tolong pada suster? Kenapa dia harus bertemu teman lama? Kenapa! Kenapa!
"Aarrggh!" Revan menendang kursinya. Amarah yang sudah tak lagi bisa ditahan. Revan bergegas keluar, yang ada di fikirannya hanya satu.
"Agrisac!" Jika benar itu dia, maka Revan tak akan memberi ampun untuknya.
Revan menghubungi Faisal dan meminta orang kepercayaan nya itu untuk menyiapkan jet pribadi miliknya untuk pergi ke Paris. Di sana sepupunya tinggal, jika benar Agrisac yang menculik Lisa, kemungkinan istrinya sekarang ada di Paris.
Dering ponsel menandakan ada panggilan masuk. Revan sudah tiba di bandara dan hampir memasuki Kabin, Revan memilih mengangkat panggilannya sebelum menggunakan mode pesawat pada ponselnya.
"Ada apa?"
__ADS_1
'....'
"Kiriman video? Baiklah, kalian cari sampai kalian menemukannya."
'....'
Panggilan diakhiri begitu saja. Revan membuka kiriman video dari bawahannya, tapi sebelum itu, Revan memilih memasuki kabin terlebih dahulu lalu melihat rekaman cctv yang dikirimkan anak buahnya.
Terlihat jelas di rekaman itu bahwa Lisa dibekap dari belakang. Dan bodohnya, Revan ada di sana tapi tidak melihat Lisa yang di bawa begitu saja. Revan segera menghubungi Faisal, di dering ke dua panggilan sudah tersambung.
"Ical, cari tau pemilik mobil itu!"
'Plat nomornya tidak terdaftar Tuan! Sepertinya, penculikan itu sudah di rencanakan.'
"Sial!" Revan menutup matanya sesaat.
"Lalu, sudah sampai mana pencariannya?"
'Kami sudah mencari di beberapa kota, hampir sebagian Negara ini, Nyonya belum di temukan."
"Temukan secepatnya, kirim orang untuk mencarinya di Indonesia!"
'Baik Tuan!'
Revan menghela nafas, menatap laptopenya yang masih terputar rekaman cctv yang di putar berulang-ulang. Di mana terlihat jelas Lisa tampak memberontak untuk kabur, sayangnya tidak berhasil.
"Tuan, sebentar lagi pesawatnya akan lepas landas. Harap anda menggunakan sabuk pengaman!" Revan menatap seorang wanita dengan garang.
"Aku tau! Pergi!" usirnya. Revan berharap bisa menemukan Lisa secepatnya.
__ADS_1
To be Continue ....