
***
"Maira ... bolehkah aku bertanya?" Lisa menatap suaminya bingung, lalu kembali duduk di sampingnya.
"Apa itu?"
"Jika aku boleh tau, bagaimana keadaan ... anak kita?" Revan tau, mungkin pertanyaan itu tidak pantas dia utarakan. Tapi, dia ingin tau apa yang terjadi pada Lisa dan calon buah hatinya setelah hari penculikan itu. Lisa tampak diam, Revan tau, tak seharusnya dia bertanya. Melihat keadaan lisa saat ini, Revan yakin, anak mereka tidak bisa di selamatkan. Jadi, untuk apa lagi Revan bertanya yang jawabannya sudah jelas.
"Dia sehat!" Revan menatap Lisa tak percaya.
"Ap.apa maksudmu?"
"Dia baik-baik saja."
"Tapi dokter bilang ...."
"Mas, dokter bukan Tuhan! Bisa saja dokter salah mendiagnosa sakitku saat itu!" Benar! Kenapa Revan tidak berfikir kesana dan malah mengambil langkah gegabah untuk membiarkan bayi itu mati?
"Maafkan aku, Maira." Revan sangat menyesal.
"Tidak apa-apa, semua sudah lewat. Mulai saat ini, berjanjilah untuk tidak melakukan hal seperti itu lagi."
"Aku berjanji. Aku tidak akan mengulanginya lagi!" Lisa tersenyum. Lalu memeluk Revan sebentar, sebelum akhirnya membantu kedua anaknya.
Revan tertegun. Menatap Lisa yang kini sibuk membantu Asha menyusun kue di atas meja. Sejak kapan Lisa tersenyum begitu manis seperti itu, Lisa tampak lebih cantik saat tersenyum. Tidak seperti dulu, saat mereka baru pertama kali menikah. Bahkan, Lisa hanya tersenyum pada kedua anaknya, tidak dengannya. Apa Lisa sudah benar\-benar mencintainya?
****
Revan dan keluarga kecilnya berjalan menuju parkiran. Mereka baru saja mendarat di Indonesia setelah menempuh perjalanan hampir 34 Jam, itupun karena beberapa kali transit. Lisa yang menginginkan mereka pergi menggunakan penerbangan biasa, bukan menggunakan pesawat pribadi suaminya. Revan awalnya menolak dan meminta Lisa untuk pergi menggunakan Pesawat pribadi. Namun, pendapatnya kalah telak karena melawan kedua anaknya juga. Tentu saja Ezha dan Asha mengikuti sang Bunda.
"Apa kalian lapar? Kita bisa makan siang dulu sebentar sebelum pulang." tawar Revan. Asha yang tengah berjalan di samping Revan menggeleng cepat.
"Asha ngantuk! Asha pengen pulang! Asha pengen tidur!" rengek Asha. Lisa tersenyum menanggapi rengekan putrinya itu.
__ADS_1
"Ya sudah, kita pulang, nanti bisa masak di rumah!" Lisa mengusap kepala Asha dengan sayang. Setelah itu menatap Revan untuk meminta persetujuan.
"Makasih, Bunda!" Asha tersenyum membalas ucapan Lisa. Revan akhirnya mengalah lagi.
"Ya sudah. Kita langsung pulang!" Revan ikut tersenyum.
"Ayah, boleh nggak, kita tinggal di sini lebih lama?" Revan tersenyum.
"Sampai liburan kalian selesai, kita baru kembali ke Turki!" jawab Revan.
"Beneran, Yah?" Ezha tampak senang. Revan baru pertama kalinya melihat Ezha sesenang itu.
"Iya, boleh. Lagi pula, Ayah juga ingin bermain bersama kalian!"
***
Lisa diam, memandang sebuah ukiran nama yang sudah lama dia tak datangi. Zara Mustafa, sahabat yang dulu sering membantunya, Lisa merindukan Zara, oleh sebab itu dia meminta Revan untuk datang mengunjungi pemakaman sahabatnya itu.
"Apa kamu bahagia, Zara? Aku harap kamu bisa tenang di sana." Lisa tak bisa membendung air matanya. Perlahan, leleran air mata membasahi pipi wanita cantik itu. "Seandainya kamu di sini, mungkinkah kita masih bisa bersahabat?" Lisa menghapus air matanya. Keheningan tercipta setelah Lisa mulai tenang, di liriknya Revan yang sejak tadi hanya diam menatap pusara istri pertamanya. Mungkinkah Revan rindu dengan Zara?
"Aku datang untuk meminta izinmu, Zara. Aku berharap kamu mengizinkan aku untuk mencintai mas Revan. Aku akan berusaha untuk menjadi sepertimu, membangun rumah tangga yang kamu inginkan bersamanya, seperti amanah yang sudah kamu titipkan padaku dulu." Revan menatap Lisa yang kembali menangis. Perkataan Lisa yang sama sekali tidak Revan duga.
"Maira ...." Revan mengusap lengan Lisa dengan lembut. Lisa menoleh, tersenyum dan membalas mengusap tangan Revan.
"Aku bahagia Zara, maaf aku terlambat menyadarinya. Sepertinya, aku mencintai suamimu. Maafkan aku." Revan menarik Lisa kedalam pelukannya. Mengusap bahu sang istri agar wanita itu lebih tenang.
"Sebaiknya kita pulang, anak-anak pasti sudah menunggu." Lisa menyetujui ucapan Revan. Keduanya berjalan meninggalkan tempat peristirahatan terakhir Zara. Lisa masih sempat menatap ke arah makam Zara, berusaha memberi tahu sang sahabat, bahwa dia akan menjalankan amanah terakhirnya untuk membahagiakan Revan.
"Aku akan berusaha sebisaku, Zara."
****
Revan menubruk Lisa untuk masuk ke rumah mereka. Tenang, tidak ada suara berisik.
__ADS_1
"Kenapa sepi sekali, apa anak-anak belum pulang?" Revan berpikir bahwa kedua anaknya masih berada di rumah Nindi.
"Sepertinya mereka sudah pulang!" Lisa tersenyum hangat, lalu meningkatkan tangannya di lengan Revan. "Sepertinya dia sudah sampai."
"Dia siapa?" Revan tak tau, siapa yang lisa maksud dengan Dia.
"Atha!"
"Atha? Siapa dia?" Lisa hanya tersenyum. Membuat Revan semakin bingung.
"Jika Mas ingin tahu, ayo kita masuk!" Lisa menarik Revan untuk memasuki kamar mereka.
Lisa melepas rangkulan tangannya dan langsung menuju ke tempat tidurnya, di ruangan itu sudah ada dua orang perawat yang sedang membereskan sesuatu.
"Athala!" Lisa segera mendekati bayi mungil yang tengah berbaring di atas tempat tidurnya.
"Maira ... bayi itu ... siapa dia?" Lis aneh oleh menatap Revan yang masih berdiri di ambang pintu.
"Nita, Siva kalian boleh keluar. Aku ingin bicara dengan suamiku!" kedua perawat yang tadi sedang membereskan barang-barang milik Athala segera keluar dari kamar.
"Maira ... siapa?" tanya Revan sambil mendekat.
"Putra kita." Lisa tersenyum. Mengangkat Athala dan menggendongnya.
"Putra ... kita?" Revan semakin mendekat. Menatap bayi mungil yang tampak tertidur itu dengan pandangan takjub. "Apa benar, dia putra kita?" Lisa mengangguk.
"Namanya Athala. Athala Zakka Mustafa." Revan menyentuh pipi Atha, membuat bayi mungil itu menggeliat karena tangan Revan yang dingin. Tentu saja Revan berkeringat dingin. Tidak menyangka bahwa dia bisa melihat bayi mungil yang ada di gendongan istrinya itu adalah putranya.
"Athala! Aku ... aku benar-benar memiliki bayi!" Revan kali ini menggenggam pelan tangan Athala. Lisa mengangguk.
"Dia putramu. Athala!"
To be Continue ...
__ADS_1