Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)

Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)
22. Pilihan Sulit.


__ADS_3

***


"Apa yang kamu lakukan?"


"Aku bosan, jadi aku keluar untuk membaca. Ayah bilang di sini ada perpustakaan, jadi aku bertanya pada Ibu-ibu tadi," jelas Ezha.


"Ibu-ibu?"


"Iya, Ibu-ibu yang sedang membersihkan ruangan yang ada di depan kamar Ayah," pelayan maksudnya.


"Isac?" Revan menatap pria bernama Isac.


"Selam kuzen, nasılsın?(Hai sepupu, apa kabar?"  sapa Isac.


"Ben iyiyim, sen burada ne yapıyorsun? (Aku baik, sedang apa kau di sini?"


"Çocuğunuzla ilgileniyorum, o çok akıllı.  Annesinin kim olduğunu merak ettim. (Saya tertarik pada anak Anda, dia sangat pintar.  Saya bertanya-tanya siapa ibunya.)"


"Ailemi rahatsız etme.  git buradan, yaygara yapma havasında değilim. (jangan ganggu keluarga saya.  Pergi, aku sedang tidak ingin ribut.)" Isac terkekeh pelan. Menggeleng lalu meninggalkan ruang perpustakaan.


"Kamu baik-baik saja?"


"Aku nggak apa-apa Ayah, kenapa Ayah dan Paman Isac berdebat?"


"Tidak, kami baik-baik saja."


"Ayah, aku tau yang Ayah katakan tadi." Revan berkedip. Apa baru saja putranya bilang bahwa dia bisa bahasa Turki? Revan tersenyum. Dia baru tahu.


"Iya anak Ayah yang pintar, sudah ayo kita ke kamar. Bundamu sudah khawatir."


"Baiklah."


****


     Ruangan besar dengan meja panjang di pasangkan dengan 10 kursi di sisi kanan dan kiri, juga dua kepala kursi yang ada di kedua ujungnya. Di rangan itu sudah ada beberapa pelayan yang tengah menyiapkan makanan. Arzhu dan seorang wanita lainnya memasuki ruangan, duduk di ujung dekat dengan kepala kursi.


"Tuan Muda Isac dan Nona Azima datang." Suara kepala pelayan. Isac tampak menawan berbalut jas formal di dampingi sang istri yang tampak anggun dengan dress panjang berwarna abu-abu.


"Selamat malam Bibi Arzhu, apa kabar. Aku baru saja kembali dari Paris, ku dengar putra Bibi menikahi wanita Indonesia, lagi." Isac tersenyum, menatap Arzhu sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Jaga ucapanmu Agrisac Mustafa!" seorang wanita lainnya menatap Isac tak suka.


"Baiklah Ibu, ku hanya bercanda." Isa. Terkekeh pelan, lalu duduk di kursinya.


"Selamat malam Ibu, Ibu Mertua." sapa Azmir sopan, "lama tidak bertemu, apa kabar?"


"Baik, duduklah," ucap Arzhu sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tuan Coskun datang." Suara pelayan kembali terdengar.


"Ayah belum datang?" pria bertubuh tinggi tegap itu langsung duduk di kursi yang berada di sebrang Arzhu.


"Belum, di mana Iskender dan Harika?" tanya Emel. Wanita itu adalah menantu kedua di keluarga Mustafa. Coskun adalah suaminya, adik dari Arzhu.


"Entahlah, mungkin mereka akan sedikit terlambat," jawab Coskun. Pria itu adalah anak kedua dari keluarga Mustafa, sedangkan anak terakhir di keluarga itu bernama Iskander Mustafa. Pria yang kini menjadi pemilik peternakan terbesar di Turki. Iskander sudah menikahi seorang wanita yang usianya cukup jauh, saat ini usia Iskander 45 tahun, sedangkan istrinya baru 34 tahun. Bahkan istrinya lebih muda dari pada Lisa. Mereka sudah memiliki anak bernama Maryem Koksel Mustafa, gadis berusia 23 tahun yang belum menikah.


"Tuan Emirkan datang." Suara pelayan kembali terdengar. Revan datang menggandeng kedua anaknya. Isac tersenyum menyambut Ezha.


"Selamat dat ... ang." Isac langsung berdiri dari duduknya. Menatap Lisa tanpa berkedip, begitupun Lisa yang langsung mengikuti Revan di belakangnya.


"Bagaimana perjalanan kalian? Aku dengar kalian langsung beristirahat, pasti melelahkan." Coskun tersenyum menyambut cucu pertama keluarga itu.


"Ah ya, Paman, apa kabar," sapa Revan.


"Baik-baik, duduklah." Revan mengangkat Asha untuk duduk di kursi, sedangkan Ezha sudah bisa duduk sendiri. Lisa masih berdiri di samping Revan.


"Paman, Bibi, perkenalkan. Ini istriku Alisa Humaira." Lisa membungkuk tanpa kata dan tanpa senyuman. Seperti biasa, menampilkan wajah tanpa ekspresi.


"Ahh, selamat datang." Isac menyambutnya, "sayang sekali Feza dan Emru sedang tidak bisa datang. Jika mereka ada, kalian bisa bermain dengan anak-anak Paman."


"Lisa, perkenalkan. Dia Sepupuku, anak dari Paman Soskun dan Bibi Emel." Revan memperkenalkan.


"Selamat datang di keluarga kami, Kakak Ipar." Lisa mengangguk saja, "kenalkan, dia istriku, Azima. Semoga kalian bisa berteman."


"Bagaimana Kakak Ipar, apa perjalanannya melelahkan, dari Indonesia sampai ke sini?"


"Hanya sedikit," jawab Lisa.


"Semoga kamu terbiasa dengan keluarga kami." Coskun tersenyum hangat.


"Tuan besar datang," semua orang berdiri. Asha dan Ezha mengikuti saja, padahal mereka tidak tau.


"Duduklah!" perintah sang Kakek. Semua duduk, dan kembali, Revan mengangkat Asha agar duduk dikursinya.


"Selamat datang ke dalam keluarga besar Mustafa. Semoga kalian betah tinggal di sini," ucap Murat. Selaku kepala keluarga Murat.


"Terima kasih, Kakek."


   Makan malam tengah berlangsung saat anak termuda di keluarga itu muncul, dia adalah Iskander Mustafa dan istrinya Harika Nahla Mustafa. Lisa benar-benar merasa asing di tempat itu.


"Aku mau makan sendiri," tolak Asha.


"ama genç bayan ...(tapi Nona muda ....)"


"Aku udah besar, nggak mau di suapin!" tolak Asha lagi.

__ADS_1


"Biarkan dia makan sendiri," perintah Murat. Pelayan yang tadi ingin menyuapi Asha mengangguk, lalu segera kembali berdiri di tempatnya, yaitu di belakang kursi Asha.


    Makan malam berjalan dengan baik, semua tidak terjadi kesalahan. Asha dan Ezha cepat beradaptasi, mereka sama sekali tak menimbulkan masalah.


"Emir, setelah kalian selesai makan, temui aku di ruang kerja. Bawa istrimu juga.." Murat berdiri dari duduknya lalu meninggalkan ruang makan.


"Evet Dede.(ya Kakek.)"


***


    Revan mengetuk pelan pintu ruang kerja sang Kakek. Murat mempersilakan cucu kesayangannya itu untuk masuk.


"Duduklah!" perintah Murat. Revan menarik kursi agar Lisa bisa duduk. Setelah itu, Revan segera duduk di samping Lisa.


"Ada apa Kakek?" tanya Revan.


"Aku ingin bertanya satu hal pada kalian." Murat mengambil sebuah amplop coklat dari dalam laci meja kerjanya, "kalian melakukan pernikahan secara diam-diam, dan tiba-tiba kamu memasukkan orang asing ke dalam rumah ini. Apa kalian berfikir, aku akan diam saja?" Revan terdiam sesaat. Dia memang bersalah, tapi Lisa tidak bersalah.


"Maaf Kakek. Saya bersalah, tapi mohon jangan lakukan apapun pada Maira."


"Ini, bukalah," perintah Murat. Menyodorkan amplop coklat pada Revan, pria itu mengambilnya dan segera membukanya.


"Kakek, ini ...."


"Nama istrimu sekarang adalah Humaira Mustafa, jangan mempermalukan keluarga ini. Mengerti" ucap Murat tegas, menatap Lisa yang hanya bisa mengangguk.


"Terima kasih Kakek."


"Tapi ... kalian harus tinggal di sini."


"Apa?"


"Sebagai syarat, aku merestui hubungan kalian, kalian berdua harus tinggal di sini."


"Kakek, itu tidak mungkin. Bagaimana perkerjaanku di sana, dan sekolah anak-anak?"


"Biar Fauza yang mengurus Kantormu di sana, dan anak-anakmu, mereka akan sekolah di sini."


"Kakek ...."


"Maaf, tapi aku tidak bisa tinggal di sini." Lisa ikut bicara. Dia tak mungkin meninggalkan pekerjaannya dan tinggal di negara yang sama sekali tidak dikenalinya.


"Kalau begitu, tinggalkan Cucuku."


"Kakek!" Revan berdiri dari duduknya. "Kek, maaf jika aku membantah perintahmu. Tapi, aku mencintai istriku, sama seperti dulu aku mencintai Zara. Walaupun aku harus meninggalkan Negaraku untuk yang kedua kalinya." Revan menarik Lisa agar berdiri.


"Tinggalkan Cucuku, atau aku akan memisahkanmu dengan kedua anakmu."

__ADS_1


To be Continue ....


__ADS_2