
***
Lisa mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar Zara. Putri kecilnya masih ada di dalam, tapi Lisa menghentikan langkahnya begitu mendengar suara tangisan Zara. Lisa membuka pintu kamar Zara sedikit, melihat bagaimana bahu sahabatnya itu bergetar.
'Ya allah, apa aku telah melakukan kesalahan?' batin Lisa merasa menyesal. Tapi semua sudah terjadi, Revan sudah menjadi suaminya sekarang.
"Bunda ...." Lisa terkejut, seseorang menarik baju tidurnya. Dengan perlahan, wanita itu menutup pintu kamar Zara, Asha sudah tidur dengan sahabatnya itu. Lisa jadi tak enak hati.
"Ezha? Belum tidur sayang?"
"Ezha enggak bisa tidur Bunda. Ezha pengen pulang." tengek Ezha.
"Sayang ... sekarang 'kan udah malem. Ezha tidur dulu, besok baru kita pulang." Lisa menggandeng Ezha, dan melangkah menuju kamarnya dan Revan.
"Ezha mau tidur dipeluk Bunda." Lisa tersenyum.
"Iya udah, Ezha boleh tidur sama Bunda. Asalkan, Ezha nggak boleh rewel ya."
"Siap Bunda sayang ...." Lisa tersenyum. Membuka pintu, ternyata Revan sedang memainkan ponselnya. Bersandar pada sandaran tempat tidur.
Ezha yang tadi tersenyum senang langsung berhenti melangkah dan menatap Revan yang juga tengah menatapnya.
"Bunda ... kenapa Om ini ada di sini?" Lisa terdiam sesaat.
"Sebentar sayang ...." Lisa melangkah mendekati Revan.
"Mas, Ezha minta tidur bareng ... nggak apa-apa 'kan?" tanya Lisa.
"Iya, nggak apa-apa." Revan malah senang. Bertahun-tahun dia menginginkan seorang anak, tapi Allah belum memberinya kepercayaan itu.
"Ezha nggak mau tidur sama Om. Ezha mau sama Bunda!" Ezha menggeleng cepat. Menarik tangan Lisa agar keluar dari kamar itu.
"Ezha ... Ezha sayang, dengerin Bunda." Lisa berjongkok, mengusap kedua pipi Ezha penuh kelembutan. Revan meletakkan ponselnya ke atas meja, turun dari tempat tidur dan mendekati keluarga barunya.
"Ezha sayang sama Bunda?" tanya Lisa. Tentu saja Ezha mengangguk. "Kalo Ezha sayang sama Bunda. Ezha harus nurut." Ezha mengangguk lagi.
__ADS_1
"Mulai sekarang, Om Revan sudah jadi Ayah Ezha ...."
"Nggak mau!" tolak Ezha.
"Ezha ...," tegur Lisa pelan.
"Om nggak boleh sama Bunda!" Ezha menatap Lisa dengan kekesalannya.
"Ezha ...." Revan ikut berjongkok di samping Lisa. Membuat Ezha langsung bergerak mundur.
"Om jangan deket-deket sama Bunda!" Ezha memeluk leher Lisa erat.
"Ezha. Ezha sayang nggak boleh begini ya," peringat Lisa.
"Nggak boleh, pokoknya Ezha nggak mau Om Revan jadi Ayah Ezha sama Asha!" Ezha menggeleng cepat. Memeluk Lisa erat, menyembunyikan wajahnya diantara leher dan bahu Lisa.
Lisa mengusap kepala Ezha dengan sayang. Lalu melepas pelukannya, tersenyum Lisa menatap putra sulungnya itu sambil merapihkan rambut si bocah yang sedikit berantakan.
"Ezha cari Ayah 'kan?" tanya Lisa. Ezha mengangguk. "Ayah di sini sekarang ... Ezha nggak mau peluk Ayah?" Ezha terdiam. Melirik Revan yang tertegun mendengar pernyataan dari Lisa.
"Bunda bohong!"
"Ayah ...?" Ezha ragu, ingin mendekat, tapi takut.
Revan tak mau membuang kesempatan. Dengan cepat memeluk Ezha, dan entah kenapa air matanya ikut menetes. Kenapa Revan menangis? Apa ini adalah jawaban dari setiap doanya selama ini?
***
Lisa dan Revan berbaring bersisian, di batasi Ezha yang sudah terlelap sambil memeluk Revan. Bocah itu sejak tadi tak mau melepaskan pelukannya, dia bilang takut Ayah pergi lagi.
"Maaf ...." Lisa berucap.
"Untuk apa?" Revan melirik istrinya. Keduanya terdiam sesaat, Lisa menghela nafasnya.
"Aku tau sudah salah membohongi Ezha, tapi ini demi kebaikan."
__ADS_1
"Berbohong?" Revan tak mengerti, mengapa Lisa berkata seperti itu. "Semua bukan kebohongan Maira. Mereka memang anak-anakku. Kamu tidak bisa menyangkalnya." Revan menatap langit-langit kamarnya. Seharusnya malam ini adalah malam yang hanya mereka habiskan berdua. Tapi, keduanya kini di batasi oleh Ezha yang tampak sangat lelap dalam tidurnya.
"Mas ...."
"Jangan berbohong, kumohon." Lisa terdiam. Kenapa Revan terdengar seputus asa itu?
"Aku dan Zara sudah menikah hampir 8 tahun. Tapi ... selama ini Allah belum mempercayakan kami untuk menjadi orang tua." Lisa terdiam. Keduanya masih menatap langit-langit kamar itu.
"Bukankah Mas sudah menerima Zara apa adanya, kenapa tiba-tiba membahas anak?"
"Maira. Semua orang tua menginginkan anak, termasuk juga, aku." Revan memutar tubuhnya, berbaring miring menghadap Ezha dan Lisa. "Aku tau, ini terdengar egois. Tapi, aku benar-benar berharap memiliki anak, darah dagingku sendiri." Lisa menatap suaminya. Mata Revan tak bisa berbohong, kesedihan dan keinginan kuat. Apa yang terjadi dengan pernikahan sahabatnya?
"Apa yang terjadi?" tanya Lisa. Tiba-tiba wanita itu sadar sudah salah bertanya, "maaf, lupakan saja. Seharusnya, aku tidak bertanya." Revan menggeleng pelan.
"Tidak, sekarang kamu adalah bagian dari keluarga kami." Revan menghela nafasnya. "Aku dan Zara mengharapkan kehadiran anggota baru dalam keluarga kecil kami. Tapi, Allah berkehendak lain." Lisa memutar tubuhnya, berbaring miring menghadap Ezha dan Revan.
"Apa maksudnya?"
"Zara tidak bisa hamil," ucap Revan sedih. Lisa baru mengetahui satu fakta itu. "Aku menerimanya. Kami bahagia, sampai suatu hari Zara bertanya tentang hari itu. Hari di mana kesalahan terbesarku ... terhadapmu." Revan mengulurkan tangannya. Menyentuh pipi Lisa, membuat wanita itu tersentak kaget. Tubuhnya bergetar tanpa bisa ia kendalikan.
"Maafkan aku Maira ... aku tau mungkin, permintaan maaf saja tidak cukup untuk menebus semua dosaku. Tapi, izinkan aku untuk bertanggung jawab dan juga menjaga kalian." Lisa masih diam.
"Mas ...."
"Aku mohon." Revan menarik tangan Lisa, menggenggamnya sambil menatap mata istrinya itu. Revan baru menyadarinya, warna mata Lisa yang kecoklatan denga bibir tipis dan juga rambut yang bergelombang itu membuat Lisa tampak sangat cantik.
"Demi anak-anak."
"Apa?"
"Aku melakukan semua ini demi anak-anak. Mereka membutuhkan Ayahnya." Revan melepas genggaman tangannya.
"Aku berjanji tidak akan membiarkan kalian terluka." Lisa memejamkan mata begitu Revan mencium keningnya. Keduanya lalu terlelap, tidak. Ternyata hanya Revan yang tertidur. Lisa masih terjaga, dengan gerakan perlahan, Lisa berjalan keluar dan duduk di kursi yang ada di balkon kamar. ternyata kamar ini begitu luas.
Lia menatap langit, tubuhnya masih bergetar tanpa berniat untuk berhenti. "Apa aku masih sama?" Lisa bermonolog, "sudah 8 tahun. Tapi, kenapa trauma ini tidak menghilang?" salah satu alasan mengapa Lisa tidak dekat dengan pria, adalah karena dia takut dengan laki-laki. Dia tak pernah dekat dengan pria manapun, bahkan semua karyawan yang bekerja di kantornya adalah wanita. Sampai scurity-nyapun wanita. Dia tak mau berhubungan terlalu dekat dengan seorang pria.
__ADS_1
Lisa mengusap pipinya, kenapa dia menangis? Apa setakut itu dia pada Revan. Lisa harus bertahan, demi kedua buah hatinya. Walaupun dia harus mengorbankan diri sendiri.
To be continue .....