
***
"Hei kamu!" Asha menatap anak laki-laki yang tadi menabraknya. Anak itu tampak mengatur nafasnya yang memburu, mungkin karena berlarian.
"Apa!" ketus si anak laki-laki.
"Kamu 'kan salah, kenapa nggak minta maaf!" Asha menatap kesal si anak itu.
"Siapa suruh kamu berdiri di situ!" Asha melotot. Mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.
"Yah ... layar hpnya pecah!" Asha menatap anak itu semakin kesal.
"Itu bukan salah aku! Kamu sendiri yang salah!" Asha melipat kedua tanganya di depan dada. Kedua lengan anak laki-laki itu di pegang oleh bawahan Enru. Tentu saja menahan agar anak itu tidak kabur.
"Udah salah, tapi nggak mau minta maaf!" Asha menggelegkan kepalanya lalu berjalan mendekat, Enru menahannya.
"Nona, biar kami yang urus," katanya.
"Nggak! Pokoknya dia harus minta maaf!" Asha menatap anak itu.
"Tuan muda!" dua orang pria berlari mendekat sambil terengah-engah.
"Gara-gara kamu!" ucap anak laki-laki itu sambil menatap Asha tajam.
"Lepaskan Tuan muda kami!" seorang pria segera menyelamatkan anak laki-laki yang masih berada di tangan bawahan Enru.
"Tuan muda kalian bersalah, dan sudah seharusnya meminta maaf pada Nona muda kami!" ucap pria yang tadi memegang anak laki-laki itu.
"Saya mewakili Tuan muda, untuk meminta maaf!"
"Nggak mau! Aku mau, dia sendiri yang minta maaf!" ucap Asha keras kepala.
"Nggak mau!" tolak si anak laki-laki. Asha benar-benar habis kesabaran.
"Bunda bilang, kalo salah harus minta maaf!" tetiaknya kesal.
"Nona ...." Nina menahan tubuh Asha yang hampir mendekati si anak laki-laki.
"Itu 'kan kata Bunda kamu. Mamaku bilang, anak laki-laki tidak boleh mengalah pada anak perempuan!" jawab si anak laki-laki.
__ADS_1
"Tuan Miko," seorang pria yang berada di samping anak bernama Miko itu tampak kebingungan.
"Pokoknya, kalo dia nggak mau minta maaf, aku nggak mau pulang!" Asha bersedekap dada.
"Nona, sebaiknya kita pergi dari sini." Asha menggeleng.
"Dia itu sombong, dan anak yang sombong itu harus dikasih pelajaran!" Asha berjalan mendekat, lalu mendongak sedikit menatap Miko, "aku nggak suka sama anak kayak kamu! Sombong." Asha berjalan meninggalkan tempat itu, diikuti Nina dan Enru yang segera mengejar Asha. Sedangkan anak bernama Miko langsung berucap dengan kesal.
"Cari tau tentang anak itu. Aku mau dia minta maaf!" merasa dipermalukan, anak betusia 10 tahun itu mengepalkan tangannya kesal.
"Baik, Tuan muda."
***
Ezha duduk dikursi belajarnya, memegang sebuah buku yang sedang dibacanya.
"Sebentar lagi kita akan berangkat untuk makan malam. Kamu sudah selesai belajar?" Ezha menoleh. Seorang pria berdiri di ambang pintu kamar belajarnya.
"Nanti aku datang!" Ezha kembali sibuk dengan bukunya. Pria yang tadi bertanya kini berjalan masuk, mendekati Ezha dan menatap bocah kecil itu.
"Sudah lima bulan tapi kamu tidak bilang apa-apa." tanya pria itu. Ezha tersenyum simpul, menutup bukunya lalu berdiri untuk meletakkan buku itu ke tempatnya semula.
"Buat apa Paman bertanya?" Ezha memasukkan kedua tangannya ke saku celana yang dia pakai.
"Kamu tidak rindu pada Ibumu?" tanya pria yang dipanggil Paman oleh Ezha. Bocah berumur 8 tahun itu tersenyum.
"Aku yakin Bunda baik-baik saja," hanya itu yang dikatakan Ezha. Anak itu berjalan keluar dari ruang belajarnya dan menuju ke ruang tamu. Yang lain sudah menunggu di sana untuk berangkat menuju Nix Garden. Dia dengar, adiknya mendapat masalah di luar. Jadi dia harus melihat apa adiknya baik-baik saja atau tidak.
"Aku bilang, dia yang menabrakku duluan!" suara Asha terdengar, begitu Ezha memasuki ruang tamu. Semua yang ada di sana menatap Ezha, Asha langsung turun dari kursinya dan mendekati saudara kembarnya.
"Kamu nggak apa-apa 'kan?" tanya Ezha. Asha mengangguk.
"Iya, tapi anak itu ngeselin banget, udah salah tapi nggak mau minta maaf!" gerutu Asha kesal.
"Yang penting, kamu baik-baik saja!" Ezha berjalan meninggalkan ruang tamu dan keluar dari rumah, mobil miliknya sudah terparkir menyambutnya. Dengan pintu yang sudah terbuka.
***
"Bagaimana pelajaran kamu hari ini?" tanya Emel. Mereka sudah ada di Nix Garden sekarang.
__ADS_1
"Biasa saja," jawab Ezha. Revan masuk ke ruang makan dengan wajah yang seperti biasa, sedikit berantakan tapi menawan.
"Ayah!" Asha tersenyum menyambut Ayah tersayangnya.
"Asha, jaga sikapmu!" peringat Arzhu. Asha langsung mengangguk dan diam.
"Maaf terlambat!" Revan duduk di kursinya. "Ayah dengar, kamu bermasalah dengan anak dari keluarga Kasela?" tanya Revan. Asha menunduk dan mengangguk pelan.
"Tapi aku nggak salah, Miko kasela itu yang salah!" ucap Asha membela diri.
"Salah atau tidak, seharusnya kamu jaga sikap!" Arzhu menatap Asha sambil menggeleng pelan.
"Maaf ...," tentu saja Asha takut pada Arzhu.
"Lain kali, biar Enru yang urus, kamu jangan melakukan apapun," peringat Revan lalu mengusap kerudung coklat yang di pakai Asha malam ini.
"Iya Ayah, aku janji nggak bakal ulangin lagi." Revan tersenyum, dia tau, Asha pasti akan menurut.
"Tuan besar, datang!" semua yang hadir segera berdiri. Murat tersenyum sambil duduk di kursinya. Semua kembali duduk, lalu mulai makan malam mereka.
"Ezha, hari ini nilai kamu semakin bagus, kakek senang mendengar kamu mendapat nilai tertinggi di sekolah," ucap Murat setelah menyeka mulutnya dengan serbet makannya. Ezha hanya tersenyum, Revan bangga sendiri, tentu saja. Saat selesai meeteng dengan grup Emperor siang tadi, Revan mendapat kiriman data tentang nilai yang Ezha dapatkan. Semua nilainya sempurna, bahkan Revan tidak percaya bahwa Ezha menguasai beberapa bahasa asing
"Sebaiknya, Ezha masuk sekolah bisnis saja," usul Coksun.
"Tidak! Dia masih muda!" tolak Revan, "biarkan dia sekolah di sekolah umum biasa," lanjutnya. Pria itu tidak setuju jika Ezha harus masuk ke sekolah bisnis. Tentu saja sekolah itu hanya untuk anak-anak dari keluarga kaya dan juga calon penerus perusahaan keluarga.
"Ezha memiliki semua kritetia dari calon pewaris!" ucap Emel. Arzhu tersenyum.
"Tentu saja, dia cucuku!" kata Arzhu bangga.
"Ayah, besok ada pertemuan wali murid. Ayah mau datang atau tidak?" tanya Ezha.
"Ayah usahakan."
"Asha mau sama Bunda!" ucap Asha tiba-tiba. Suasana jadi hening. Revan menghela nafasnya.
"Besok Ayah yang datang!" ucap pria itu sebelum meninggalkan ruang makan.
To be Continue ....
__ADS_1