Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)

Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)
36. Pelaku.


__ADS_3

***


    Ezha menatap Murat tanpa senyuman. Meletakkan buku besar yang sejak tadi di bacanya ke atas meja.


"Lion, bilang Ayah kalo aku pergi bermain."


"Baik, Tuan muda." Lion segera keluar dari ruangan untuk mengangkat panggilan dari atasannya itu.


"Jadi, kapan kamu akan bebaskan Bunda kamu?" Murat tersenyum ramah.


"Tunggu Ayah menyerah, cari Bunda," jawab Ezha acuh.


"Kamu ini anak-anak tapi sifatnya sangat arogan!" Murat menggelengkan kepalanya.


"Bunda sudah bangun?" tanya Ezha.


"Sudah, dia bahkan sudah sehat. Kamu membuatnya koma selama ini, durhaka."


"Aku melindungi Bunda sama Adek. Kalo Bunda sakit, kasihan Adek."


"Ya-ya. Dasar bocah! Jadi kapan Ibumu akan bebas?" Ezha tersenyum.


"Dia tampan 'kan?" Ezha memperlihatkan layar ponselnya pada sang Kakek.


"Dia tidak mirip denganmu!" Ezha cemberut.


"Tentu saja, Athala akan jadi adik yang manis dan tampan!"


"Iya! Tidak sepertimu, menyebalkan dan sok dewasa!"


"Aku tidak sok dewasa, Kakek."


"Memerintah orang tua untuk menculik Ibunya sendiri. Kamu benar-benar tau segalanya." Ezha tersenyum.


"Saat di bandara dulu, orang-orang yang jemput aku itu ... suruhan Kakek 'kan?" Murat tertawa.


"Kamu sadar ternyata. Mereka memang pengawal pribadi."


"Bohong! Jelas-jelas mereka itu agen rahasia yang Kakek kirim untuk selidiki Bunda di Jakarta dulu."


"Kamu sangat pintar ya."


"Aku tak sengaja melihat mereka waktu pulang sekolah dulu." Ezha tersenyum.


"Kamu kabur ke sini, apa Ayahmu tidak curiga?"


"Ini namanya strategi Kakek."


"Strategi apa?"


"Untuk memancing Ayah. Supaya dia tidak mencari Bunda jauh-jauh."

__ADS_1


"Memancing Ayahmu? Bagaimana caranya?"


"Ayah pasti akan meminta orang-orangnya untuk mencari ku, dia tidak akan percaya pada Lion. Jadi dia pasti akan menyelidiki kesini."


"Kamu curang sekali." Ezha tersenyum.


"Jangan remehkan anak kecil, Kakek."


"Benar-benar di luar dugaan!"


"Aku bebaskan Bunda setelah Ayah merasaka kehilangan Bunda."


"Kamu terlalu kecil, untuk memikirkan itu, Nak."


"Ini balasan buat Ayah. Siapa suruh Ayah ingin membunuh Adek!"


"Ayahmu terpaksa."


"Buktinya sekarang Adek lahir, selamat dan berwajah tampan seperti aku." Ezha tersenyum bangga.


"Benar-benar anak yang cerdik."


"Untung Ayah selalu pakai klip dasi yang aku berikan. Jadi aku tau apa saja yang Ayah lakukan dan bicarakan."


"Kamu memasang alat sadap di sana?"


"Em'mm."


"Sepertinya aku belajar dengan baik seperti Kakek." Ezha bangun dari duduknya, "aku pulang dulu. Ayah sudah di rumah, dia sedang mengomel sekarang," kekehnya. Murat menggeleng pelan, menatap erphone tanpa kabel yang terpasang di telinga Ezha.


"Calon agen yang cukup bagus."


"Aku calon pewaris perusahaan, bukan calon agen rahasia yang Kekek inginkan."


"Baiklah-baiklah." Murat ikut berdiri, berjalan perlahan dan mendekati Ezha, "hati-hati di jalan. Lion bilang ada yang mengincarmu dan adikmu akhir-akhir ini." Ezha mengangguk.


"Aku akan hati-hati." Ezha langsung bergegas keluar. Lion sudah menunggu sambil membawa beberapa paper bag di tangannya.


"Apa itu?" tanya Ezha.


"Titipan Nyonya untuk anda." Ezha tersenyum. Mengambil paper bag itu dari tangan Lion.


"Syal?"


****


"Maaf, Tuan." Lion menunduk saat berhadapan dngan Revan.


"Kenapa tidak memberi tau padaku! Ezha pergi ke kantor Kakek!" Revan menatap Lion jengkel.


"Tuan muda melarang saya mengatakannya pada anda, Tuan."

__ADS_1


"Dan kamu membiarkannya! Lion, sebenarnya siapa yang menyuruhmu mengawasi anakku!" Revan tak habis fikir, "mulai sekarang, apapun yang Ezha lakukan laporkan padaku!"


"Baik, Tuan!"


"Pergilah, dan panggil Ezha untuk kesini."


"Baik, Tuan."


    Ezha masuk ke ruangan Revan setelah Lion membukakan pintu untuknya. Revan menatap putranya yang berjalan ke arah meja kerjanya dan langsung duduk di kursi depan mejanya. Revan sendiri sampai binging melihat tingkah putranya.


"Bisa jelaskan, alasan kamu pergi ke kantor Kakek?" Revan masih menatap Ezha.


"Tidak ada alasan." Ezha mengambil berkas yang ada di atas meja Ayahnya.


"Arezha!" Revan berdiri. Memutari mejanya lalu berhadapan langsung dengan putranya, "kamu bersikap seperti orang lain setelah Bunda hilang."


"Siapa yang membuat Bunda hilang!" Ezha berdiri dari duduknya. Meletakkan kembali berkas ke atas meja. Lalu mendongak menatap sang Ayah.


"Ayah minta maaf, itu memang kesalahan Ayah. Tapi tidak ada alasan kamu pergi seenaknya ke tempat kakekmu, kamu tau di sana berbahaya."


"Aku tau! Aku pergi dulu."


"Arezha!" bentak Revan. Emosinya sedang tidak stabil, sejak makan malam kemarin, saat membahas Lisa. Revan jadi sulit mengendalikan Emosinya.


"Ayah kangen Bunda 'kan?" tanya Ezha.


"Kita tidak membahas Bunda sekarang!"


"Terus kapan? Ayah yang bikin Bunda diculik. Terus sekarang Ayah nggak mau bahas Bunda?"


"Ezha, dengarkan Ayah. Sekarang Ayah sedang berusaha mencari Bunda."


"Udah 5 bulan Yah, bisa jadi Bunda malah sudah tidak ada."


"Arezha! Kamu bicara apa!"


"Ayah 'kan nggak mau Adek yang ada di perut Bunda lahir!"


"Kamu tau Bunda hamil?"


"Kenapa? Ayah kaget." Ezha melangkah menuju pintu, "Ayah salah besar sama Bunda. Mungkin Allah lagi hukum Ayah," katanya sebelum pergi.


    Revan berdiri kaku menatap kepergian sang putra yang hari ini lebih banyak bicara dari biasanya. Dan sekalinta bicara begitu pedas dan menusuk, sebenanrya Ezha meniru siapa?


'Dari awal, aku sudah tau Ezha sulit di kendalikan jika bukan oleh Humaira,' batin Revan. Pria itu semakin merasa bersalah kini. Terlebih ucapan terakhir Ezha tadi.


   Allah memang sedang menghukumnya, bagaimana mungkin seorang Ayah berkata bahwa dia tak menginginkan anak yang ada di dalam rahim istrinya? Revan sudah sangat berdosa.


"Humaira ... kamu di mana?"


To be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2