Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)

Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)
23. Humairaku.


__ADS_3

***


    Revan mengetuk pelan pintu ruang kerja sang Kakek. Murat mempersilakan cucu kesayangannya itu untuk masuk.


"Duduklah!" perintah Murat. Revan menarik kursi agar Lisa bisa duduk. Setelah itu, Revan segera duduk di samping Lisa.


"Ada apa Kakek?" tanya Revan.


"Aku ingin bertanya satu hal pada kalian." Murat mengambil sebuah amplop coklat dari dalam laci meja kerjanya, "kalian melakukan pernikahan secara diam-diam, dan tiba-tiba kamu memasukkan orang asing ke dalam rumah ini. Apa kalian berfikir, aku akan diam saja?" Revan terdiam sesaat. Dia memang bersalah, tapi Lisa tidak bersalah.


"Maaf Kakek. Saya bersalah, tapi mohon jangan lakukan apapun pada Maira.


"Ini, bukalah," perintah Murat. Menyodorkan amplop coklat pada Revan, pria itu mengambilnya dan segera membukanya.


"Kakek, ini ...."


"Nama istrimu sekarang adalah Humaira Mustafa, jangan mempermalukan keluarga ini. Mengerti" ucap Murat tegas, menatap Lisa yang hanya bisa mengangguk.


"Terima kasih Kakek."


"Tapi ... kalian harus tinggal di sini."


"Apa?"


"Sebagai syarat aku merestui hubungan kalian, kalian berdua harus tinggal di sini."


"Kakek, itu tidak mungkin. Bagaimana perkerjaanku di sana, dan sekolah anak-anak?"


"Biar Fauza yang mengurus Kantormu di sana, dan anak-anakmu, mereka akan sekolah di sini."

__ADS_1


"Kakek ...."


"Maaf, tapi aku tidak bisa tinggal di sini." Lisa ikut bicara. Dia tak mungkin meninggalkan pekerjaannya dan tinggal di negara yang sama sekali tidak dikenalinya.


"Kalau begitu, tinggalkan Cucuku."


"Kakek!" Revan berdiri dari duduknya. "Kek, maaf jika aku membantah perintahmu. Tapi, aku mencintai istriku, sama seperti dulu aku mencintai Zara. Walaupun aku harus meninggalkan Negaraku untuk yang kedua kalinya." Revan menarik Lisa agar berdiri.


"Tinggalkan Cucuku, atau aku akan memisahkanmu dengan kedua anakmu." Lisa menghetikan langkahnya. Revan yang mendengar itu langsung menoleh kembali, menatap Murat yang masih duduk dengan tenang di kursinya.


"Kakek!" Lisa berbalik. Menatap Revan dengan amarah yang tak bisa dia tahan.


"Maaf Mas, aku tidak bisa. Aku lebih baik kehilangan apapun di dunia ini, asalkan jangan pisahkan aku dari anak-anak. Aku mohon!" Lisa menggenggam tangan Revan. Revan membalas genggaman tangan Lisa.


"Percaya padaku Maira. Aku janji, kita akan tetap bersama, dengan anak-anak juga."


"Kakek ...." Lisa berjalan cepat dan berdiri di depan meja Murat. Wanita itu tiba-tiba bersedeku dan membungkuk, "aku akan melakukan apapun, asalkan anda tidak memisahkan ku dari anak-anak. Aku mohon."


"Maira! Apa yang kamu lakukan!" Revan ikut bersedeku di samping Lisa, lalu merangkul sang istri.


"Mas, aku janji tidak akan pergi kemanapun, tapi jangan ambil anak-anak, aku mohon." Lisa tak dapat menahan air matanya. Revan segera memeluk sang istri yang masih bersedeku di lantai.


"Tidak, itu tidak akan terjadi Maira, aku tidak akan membiarkannya terjadi."


"Bangunlah." Murat menatap kedua orang yang ada dihadapannya.


"Dede! Apapun yang Dede katakan, aku tidak akan menurutinya. Sekalipun aku harus keluar dari keluarga ini."


"Sudah cukup!" Murat menggeleng pelan, "apa seperti itu kamu bicara pada kakekmu?"

__ADS_1


"Dede, aku sedang tidak bercanda!"


"Kamu pikir aku sedang tidak bercanda!" Revan dan Lisa terdiam.


"Maksud Kakek?" Revan tak mengerti.


"Itu hukuman untuk anak yang melupakan rumahnya setelah menikah!" Murat tersenyum, "selamat datang Humaira, aku senang atas kedatanganku dan kedua anakmu. Mulai sekarang, rumah ini juga adalah rumahmu." Lisa kembali menangis, Revan segera memeluknya.


"Ssstt, kamu dengar 'kan?"


"Terima kasih Mas, terima kasih." Lisa membalas memeluk Revan dengan erat. Meredam tangisan nya kedalam pelukan pria itu. Dia tak menyangka Kepala keluarga itu akan menerimanya, dia bahagia.


***


"Kamu senang sekarang?" tanya Revan sambil memeluk Lisa dari belakang.


"Iya, terima kasih."


"Jangan berterima kasih, aku tidak melakukan apapun." Revan mencium rambut Lisa yang tergerai. Pria itu menyukai wangi rambut istrinya, sangat lembut dan menenangkan.


"Mas ...." Revan tersenyum, dengan perlahan membimbing Lisa untuk berbaring di tempat tidur mereka.


"Anak-anak ...."


"Zifa akan mengurusnya. Sekarang, aku ingin menghabiskan waktu denganmu." Lisa hanya diam saja, memejamkan mata menikmati setiap perlakuan manis Revan padanya.


"Aku ... mencintaimu Humairaku."


To be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2