
***
"Pertemuan dengan grup Emperor, akan di adakan setelah jam makan siang," ucap Faisal sambil menggeser-geser layar tablet yang ada di tangannya.
"Baiklah, apa ada yang lain?" tanya Revan malas.
"Ada acara makan malam keluarga, di Nix Garden."
"Makan malam keluarga? Batalkan saja! Aku tidak tertarik."
"Tapi Tuan, Nyonya Arzhu ingin anda hadir."
"Lupakan saja. Besok ada jadwal apa?" Faisal tampak menggeser layar tabletnya.
"Baik, Tuan. Besok ada meeting bersama dengan perusahaan Jaya yang datang dari Indonesia."
"Ada lagi?"
"Makan siang bersama Tuan Jacob, malamnya anda harus pergi ke Club Tuan Manaf, anda membuat janji bertemu." Revan mengangguk.
"Baiklah, kamu boleh pergi."
"Baik Tuan, saya permisi."
Revan menghela nafasnya, meletakkan berkas-berkas yang sejak tadi ada di tangannya itu ke atas meja. Pria itu memutar kursinya, pandangannya beralih pada kaca jendela besar yang ada di belakang meja kerjanya.
"Kamu di mana?" pertanyaan itu hampir setiap saat mampir di otak Revan. Sudah hampir 5 bulan Lisa menghilang. Akan tetapi, sampai sekarang, jejaknya tak pernah ditemukan. Revan menatap langit yang berwarna abu-abu gelap, sudah pasti sebentar lagi akan turun hujan.
"Sudah Lima bulan ...," pria itu kembali menghela nafas. Memijat pangkal hidungnya, Revan tak pernah tau akan ada kejadian seperti ini. Seharusnya, saat itu Revan tak perlu saja membawa Lisa ke Negaranya. Jika tau akan begini, lebih baik dia hidup di Indonesia dengan statusnya sebagai Revan sanjaya. Bukan Emirkan Mustafa pewaris Green Garden yang menjadi salah satu perusahaan terbesar di Dunia.
Suara ketukan pintu menyadarkan Revan dari lamunannya. "Masuk!" titahnya sambil kembali memutar kursi kerjanya.
"Tuan, Nona Asha datang."
"Asha? Biarkan dia masuk."
__ADS_1
"Baik, Tuan." Revan tersenyum begitu Asha masuk ke dalam ruangannya. Baju berwarna peach yang di kenakan putrinya sangat cocok dengan gadis kecil itu.
"Ayah!" Asha mendekati Revan dan memeluknya.
"Ada apa nih, kesayangan Ayah. Tumben dateng kesini?"
"Ayah pulangnya malem terus, Aku bosen. Kakak sibuk belajar sama Kakek," jelas Asha. Menyerukan kebosanannya.
"Nanti Ayah bilangin Kakak, biar main sama Adek."
"Nggak mau, Aku mau jalan-jalan."
"Tapi Ayah lagi sibuk. Gimana kalo main aja di rumah, panggil temen-temen sekolah Adek?"
"Nggak! Mau ke Mall, sama Kak Nina." Revan tampak berfikir.
"Ya sudah, tapi sama Om Enru juga ya."
"Hmm, ok!" Asha tersenyum senang. Berjalan keluar dari kantor sang Ayah.
Asha melangkah meninggalkan kantor sang Ayah yang sangat besar itu. Pintu mobil di buka oleh bodyguard kesayangannya, yang sering di panggil Om Enru olehnya.
"Kita jalan-jalan ke Mall, Om!" seru Asha senang. Saat gadis kecil itu sudah menaiki mobil miliknya, yang dibelikan sang Paman saat ulang tahunnya yang ke 8, 4 bulan lalu.
"Baik, Nona," jawab Enru sambil menutup pintu mobil. Setelah itu pria berusia 30 tahun itu segera masuk ke bagian kemudi, sedangkan suster yang mengurus Asha duduk di samping kursi kemudi.
"Om, Kakak masih belum kasih tau Bunda kemana?" tanya Asha. Gadis kecil itu mengambil ponselnya yang disembunyikan di dalam tas kecil yang selalu dibawa olehnya kemanapun.
"Belum Nona, apa Nona ingin bertemu Tuan Muda Arezha?"
"Oh, nggak usah Om, kita langsung ke Mall aja!" Asha acuh dan langsung sibuk dengan ponselnya. Nina, suster baru Asha hanya diam dan memperhatikan apa yang mereka bicarakan.
"Kak Nina, nanti kalo Ayah tanya apa-apa sama Kak Nina, jangan di jawab ya!"
"Tapi, Nona ...."
__ADS_1
"Nggak ada tapi-tapian! Pokoknya kalo Ayah atau siapapun tanya tentang aku, bilang aja nggak tau, atau apa gitu."
"Baik, Nona!"
"Sudah sampai, Nona ...," ucap Enru setelah mobilnya berhenti di depan lobby mall. Enru dengan segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Asha, selanjutnya mobil di bawa ke tempat parkiran VIP yang sudah di siapkan. Asha berjalan di samping Nina yang membawa tas untuk baju ganti Asha.
"Nona, sebaiknya Nona beritahu saya ingin pergi ke tempat apa?" tanya Enru.
"Aku mau makan!" jawab Asha cuek.
"Saya akan antar Nona, ke restoran keluarga."
"Nggak! Aku mau makan di sini!"
"Tapi Nona, Tuan akan marah jika Nona makan sembarangan."
"Aku nggak makan sembarangan! Kalo sama Bunda boleh, kenapa sama Ayah nggak boleh!" Asha kembali acuh, berjalan mendahului Enru, Nina segera mengikutinya. 4 pria lainnya mengikuti Nina, 2 di samping kiri dan kanan sedangkan 2 di belakang. Enru mengacak rambutnya bingung.
"Nona, saya bisa di pecat jika Tuan tau."
"Kalo gitu, nggak usah kasih tau Ayah!" Asha keras kepala. Berjalan menuju eskalator, orang-orang yang menghalangi jalan si Nona muda, tampak menyingkir, tentu saja oleh dua pria bawahan Enru.
Begitu menaiki eskalator, Asha di tabrak seseorang hingga jatuh duduk dilantai.
"Nona!" Enru dan Nina segera membantu Asha berdiri, dua orang lainnya menangkap bocah kecil yang menabraknya.
"Nona, apa anda baik-baik saja?" tanya Nina.
"Nggak kok, aku nggak apa-apa!" Asha menepuk kedua tangannya. Membersihkannya dari debu. Nina dengan sigap mengambil tisu basah dan mengelap tangan bos kecilnya itu.
"Ini, Nona." Nina mengulurkan tas kecil milik Asha yang terjatuh di lantai.
"Hei kamu!"
To be Continue ....
__ADS_1