Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)

Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)
19. Keputusan.


__ADS_3

***


"Maaf Dede(kakek dalam bahasa turki) aku tidak bisa pulang sekarang."


"...."


"Aku akan pulang setelah semuanya selesai."


"...."


"Baiklah, selamat malam." Revan meletakkan ponselnya di atas nakas setelah panggilan berakhir. Pria itu duduk bersandar pada sandaran tempat tidur.


"Maira ... kamu sudah tidur?" pertanyaan itu membuat Maira menggeleng. Wanita itu memang memejamkan matanya, tapi dia belum tidur.


"Belum ...," jawab Lisa sambil membuka mata. Menghela nafasnya, Lisa menatap sang suami.


"Ada apa?" Revan menyadari ada sesuatu yang ingin Lisa sampaikan. Dengan penuh kasih sayang, pria itu mengusap pipi lisa yang terlihat lebih tirus dari biasanya.


"Tidak ada, aku hanya merindukan anak-anak." Revan tersenyum. Memang kedua anaknya ada di Bandung, bersama Nindi dan Akbar.


"Kamu harus banyak makan. Lihatlah kamu lebih kurus dari kemarin." Lisa tak menanggapi.


"Kira-kira apa jenis kelamin anak kita?" Lisa menatap plafon berwarna abu-abu yang ada di atas.


"Maira ...."


"Aku kadang memikirkan apa dia bahagia?" Revan ikut berbaring di samping Lisa. Memiringkan tubuhnya menghadap sang istri.


"Dia pasti bahagia, aku yakin." Revan mengusap pipi kiri Lisa lalu mencium pipi kanannya. "Maira ... bolehkan aku bicara sesuatu?"


"Apa?" Lisa menatap suaminya.


"40 hari sudah terlewati setelah Zara meninggal. Kakekku memintaku pulang. Apa kamu mau ikut denganku." Lisa terdiam, apa dia harus ikut?


"Kenapa?"


"Kamu istriku, dan aku akan memperkenalkan kamu dengan keluargaku."


"Tidak!"


"Kenapa? Kamu istriku dan kamu harus tau tentang keluargaku."

__ADS_1


"Kita sudah hampir bercerai, aku tidak tau apa yang akan terjadi jika aku pergi bersamamu."


"Aku akan menjamin keselamatannu dan anak-anak."


"Maksudmu kamu akan membawa anak-anak pergi, tidak!"


"Bukan, bukan begitu. Jika kamu mengizinkan, Kekekku ingin bertemu dengan anak-anak."


"Aku tidak tau ...." Revan mengernyit, menatap istrinya yang kini tampak ragu.


"Aku janji tidak akan memisahkan kalian. Kalian adalah harta berhargaku mulai sekarang sampai kapanpun." Revan mendekap Lisa dengan erat, menyalurkan kasih sayang yang selama ini dia tahan karena menghargai Zara. Kini Zara sudah tidak ada, dan Revan akan mencurahkan kasih sayang yang selama ini belum pernah Lisa rasakan pada wanita itu.


"Maira ... ngomong-ngomong, kamu sudah tidak takut lagi denganku?" Revan baru menyadarinya.


"Mas ingin aku terus ketakutan?"


"Bukan begitu, hanya saja ... aku senang saat memelukmu dan kamu tidak ketakutan lagi."


"Hidup itu adalah proses, dan semua yang sudah terjadi membuatku perlahan menerima kamu, Mas. Mungkin ... tidak dengan orang lain." Yang artinya Revan istimewa bagi Lisa. Revan tersenyum, mendekap Lisa semakin erat.


"Terima kasih sudah menerimaku."


"Tidak ada alasan untuk aku tidak menerima kamu Mas, seharusnya aku yang berterima kasih. Kamu banyak membantu." Revan hanya diam, dari mana dia banyak membantu, yang dia tau, dia hanya terus merepotkan Lisa. Bahkan membuat wanita itu terluka tanpa dia sadari.


"Mas ... serius?" Revan terkekeh. Dia baru pertama kali melihat ekspresi Lisa yang tampak senang seperti itu.


"Aku tidak bercanda, sayang ...," entah mengapa, tiba-tiba saja pipi Lisa terasa panas. Wanita itu segera menyembunyikan wajahnya di dada Revan. Kenapa dia sekarang seperti remaja yang sedang jatuh cinta?


***


"Bunda, Ayah!" Asha berlari dengan cepat dan langsung memeluk Lisa. Revan tersenyum, lalu mengusap hijab berwarna merah muda yang sore ini gadis kecil itu pakai.


"Ayah sama Bunda kemana aja? Adek kangen tau!" Asha memeluk Lisa erat, lalu beralih memeluk Revan.


"Kakak mana?" tanya Revan.


"Kakak lagi belajar," jawab Asha. Lisa menggeleng, dia sangat tau bagaimana sifat Ezha.


"Ezha, dia itu sangat pintar. Aku bahkan sampai kewalahan dengan sikapnya," jujur dan Lisa mungkin akan merasa lebih baik saat Revan ada bersamanya.


"Memangnya ...."

__ADS_1


"Lisa, akhirnya kamu dateng juga!" Nindi muncul, segera memeluk keponakan tersayangnya itu.


"Maaf Tante, udah ngerepotin."


"Nggak sama sekali sayang. Dan, kenapa kamu membawanya?" Nindi menatap Revan tidak suka.


"Tante, Mas Revan suami Lisa, wajar kalau Mas Revan dateng ke sini."


"Tante masih nggak suka liat dia."


"Tante ...."


"Ya sudah, terserah kalian saja. Wanita tua ini hanya mengingatkan untuk kalian tidak berbuat bodoh. Mengerti!"


"Pasti Tante."


    Lisa mengangguk, langkahnya menuntunnya menuju kamar putra pertamanya. Arezha Zakky yang bulan depan genap berusia 8 tahun. Lisa tersenyum, begitu membuka pintu, wanita itu melihat Ezha sedang serius membaca.


"Asalamualaikum jagoan Bunda ...." Ezha menoleh, tersenyum dan langsung berlari ke arah Lisa.


"Bunda, kapan dateng?"


"Baru aja sampe."


"Ayah mana?" Lisa tersenyum, mengusap rambut Ezha yang sedikit bergelombang.


"Di depan, sama Adek."


"Ezha mau ketemu Ayah." Ezha dengan terburu-buru berlari keluar, dia ingin cepat-cepat bertemu sang Ayah.


"Hati-hati sayang, jangan lari-lari bahaya." Ezha tak memperdulikan, justru berlari cepat dan saat melihat Revan, bocah laki-laki itu tersenyum.


"Ayah!" panggilnya. Revan menoleh dan tersenyum, melihat kedatangan putranya yang berlari dan langsung memeluknya, "Ayah kenapa lama banget?"


"Maafin Ayah ya, Ayah kerja."


"Ayah nggak bakal tinggalin Kakak sama Adek lagi 'kan?" Revan menggeleng.


"Enggak, Ayah janji."


"Yeey!" pekik kedua anaknya sambil memeluk Revan. Lisa memperhatikan itu, apa dia harus menuruti keinginan suaminya. Apa dia dan anak-anak harus ikut ke Turki? Lisa bingung.

__ADS_1


To be Continue ....


__ADS_2