
***
Revan dan Lisa saling diam. Sejak 10 menit yang lalu, Revan tak bersuara sama sekali. Begitu juga Lisa yang hanya diam menatap keluar jendela. Revan duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat tidur sang istri, pria itu melirik Lisa, benar. Revan benar-benar merasa Lisa sangat asing baginya. Apa Lisa memiliki tujuan tertentu di keluarganya? Revan ingin tau masalalu Lisa, tapi kenapa semua yang berhubungan dengan wanita itu lenyap? Apa yang terjadi sebenarnya?
"Bagaimana keadaan anak-anak?" pertanyaan yang di lontarkan Lisa tiba-tiba itu membuat Revan segera mengalihkan pandangannya, menatap majalah bisnis yang ada di depannya.
"Mereka baik-baik saja," jawab Revan seadanya. Tidak ada lagi kelembutan seperti waktu pertama mereka bersama. Lisa menunduk, apa semua orang itu sama?
"Mas mau pergi?"
"Pergi?" Revan tidak tau, kenapa tiba-tiba Lisa bertanya akan pergi.
"Iya, Ibu bilang, Mas akan mengirim anak-anak Ke Amerika." Revan terdiam, berdiri dan berjalan mendekati Lisa.
"Kamu pikir begitu?" Lisa yang sejak tadi menatap jendela langsung menatap Revan. Matanya berkaca-kaca lalu menggeleng.
"Aku percaya, Mas tidak akan mengingkari janji, Mas tidak akan memisahkan kami. Benar 'kan?" Revan tak menjawab, hanya menatap Lisa tanpa ekspresi.
"Haruskah aku menepati janjiku?"
"Maksud Mas apa?"
"Maira ... kamu harus tau satu hal tentangku. Aku sangat membenci pembohong, dan juga penghianat."
"Penghianat? Makasudnya apa?"
__ADS_1
"Istirahatlah. Besok aku akan membawa anak-anak datang." Revan pergi begitu saja. Tanpa permisi, tanpa kecupan hangat seperti dulu. Lisa merasa sedih, apa mungkin Revan selama ini hanya pura-pura menyayanginya agar mendapatkan kedua anaknya? Kenapa Revan melakukan itu?
Apa sebaiknya Lisa tanyakan saja pada Revan? Tapi sepertinya, pria itu sedang dalam mood tidak bersahabat. Apa mungkin Lisa bisa bertanya?
***
Revan duduk di kursi kerjanya dengan pikiran yang kacau, antara percaya dan tidak. Tapi, foto di mana Isac mencium Lisa di bawah hujan itu sudah membuktikan penghianatan, dan sudah dikatakan bahwa Revan sangat membenci penghianat.
Revan menghubungi Faisal dan meminta orang kepercayaannya itu untuk membawa kedua anaknya menemui Lisa. Revan tak ingin melihat Lisa dulu untuk saat ini. Dia tak ingin percaya, tapi jika Lisa dan Isac benar-benar memiliki hubungan, lalu sekarang Revan harus bersikap bagaiaman? Terlebih, data tentang kehidupan Lisa dikunci rapat.
"Tuan, Nyonya ingin bertemu dengan anda." Faisal menghubungi Revan. Pria itu menghela napasnya.
"Katakan saja aku sibuk."
"Baik, Tuan."
Jujur saja, Revan tidak sebaik itu untuk menerima Lisa begitu saja. Awalnya, bahkan Revan tak pernah ingin menikah dengan Zara, akan tetapi karena paksaan kedua orang tuanya, Revan akhirnya menerima pernikahannya dengan Zara. Revan itu orang yang Ambisius, tidak memikirkan hubungan seperti itu, hingga Kakeknya menjodohkan dirinya dengan Zara. Revan awalnya tak menyukai Zara, wanita itu terlalu penurut, manja dan tidak bisa apa-apa selain menjadi ibu rumah tangga. Revan ingin sesuatu yang lebih dari pada Zara. Tapi, lama kelamaan, Revan jatuh cinta pada Zara, gadis polos yang dia nikahi. Hingga 8 tahun lamanya, sampai Revan bertemu Lisa.
Lisa sangat berbeda dengan Zara, wanita itu mandiri, bekerja keras, tegas dan juga menyayangi anak-anak. Revan jadi sering memperhatikan Lisa tanpa dia sadari, hingga perasaan asing muncul di hatinya untuk Lisa. Revan tidak bisa mengatakan itu cinta. Karena dulu, dia tak pernah mengenal kata itu, sebelum bertemu Zara.
Revan mengepalkan kedua tangannya, sebentar lagi Lisa akan keluar dari rumah sakit. Apa yang harus dia lakukan setelah itu? Memberi tahu bahwa Lisa tengah mengandung? Atau membiarkan istrinya tidak tau saja. Sudah hampir dua bulan lamanya Lisa di rawat di ruah sakit, kandungannya semakin kuat dan kesehatan Lisa juga membaik.
Anehnya, Revan tidak mendengar kabar bahwa Isac menemui atau menjenguk istrinya, ponsel dan alat komunikasi lainnyapun sudah Revan ambil dari kamar rawat Lisa. Lalu, jika mereka benar ada hubungan, bagaimana cara mereka berkomunikasi?
"Tuan ... apa anda akan tetap merahasiakan tentang kandungan Nyonya?" Revan menatap Faisal sesaat. Ada keraguan dan juga kekhawatiran di mata Revan.
__ADS_1
"Tunggu waktu yang tepat. Untuk saat ini, biarkan dia tidak tau saja."
"Baik, Tuan."
Revan menghembuskan nafasnya, mengambil beberapa berkas di atas mejanya lalu berdiri dari duduknya.
"Kita kembali dulu ke kantor. Besok, jemputlah istriku dari rumah sakit."
"Anda tidak akan menjemputnya Tuan?"
"Lakukan saja tugasmu!"
"Baik Tuan." Revan berjalan mendahului Faisal. Saat membuka pintu, Ezha berdiri sambil mengangkat tangannya, hampir bocah kecil itu mengetuk pintu.
"Ezha? Sedang apa kamu di sini?" Revan menatap putranya bingung.
"Panggil Ayah, makan malam bersama."
"Tidak! Ayah harus kerja, kamu makanlah dengan Asha."
"Ya, baiklah. Ayah jangan lupa istirahat, dan ... jangan lupa jenguk Bunda." Revan terdiam menatap Ezha yang tampak serius menatapnya, mata bening yang sangat mirip dengan Lisa namun bentuk wajah, hidung bahkan mulutnya sama persis dengannya.
"Iya, pasti Ayah jenguk, nanti." Ezha mengangguk.
"Aku pergi dulu, Ayah hati-hati."
__ADS_1
"Ya."
To be Continue ....