
***
Revan melangkah memasuki sebuah ruangan gelap yang hanya di terangi satu lampu di tengah ruangan, Faisal mengikutinya dari belakang. Di ruangan itu sudah ada tiga orang yang langsung beridir begitu Revan dan Faisal mendekat.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Revan, dia langsung duduk di kursinya. Pria itu tetap menawan, menggunakan kemeja hitam di lapisi kemeja abu-abu yang melekat pas di tubuhnya. Walaupun wajahnya tidak dihiasi senyuman, tapi dia tetap tampak tampan. Tiga pria lainnya kembali duduk di kursi masing-masing, Faisal ikut duduk di samping kursi Revan.
"Mobil yang digunakan pelaku adalah mobil van dengan seri **007 adalah milik keluarga Adzaradi," jelas Amed, seorang detektif yang bekerja di bawah kantor keamanan Scorp Company. "Tapi, keluarga Adzaradi mengaku bahwa mobil itu dicuri oleh orang lain dan dikembalikan setelah dua hari," lanjutnya.
"Mobil yang sebelumnya berseri **471 itu, dicuri saat seorang supir dari keluarga Adzaradi akan pulang, sayangnya di tengah jalan dia ditahan oleh beberapa polisi dan langsung membawa kabur mobil itu." jelas Rezi. Detektif lain yang melanjutkan penjelasan Amed.
"Jadi, mobil itu milik keluarga Adzaradi?" Revan bergumam.
"Betul Tuan, menurut kesaksian dari keluarga Adzaradi, mobil itu hilang selama dua hari dan ditemukan sudah berada di halaman rumah saat paginya," tambah Amed.
"Bukankah ada dua mobil?" tanya Revan.
"Mobil yang satu lagi berseri **44 adalah milik keluarga Kasela." Rezi menyerahkan beberapa lembar foto kepada Revan, "itu adalah hasil gambar dari rekaman CCTV dan foto asli dari mobil yang kami selidiki Tuan." Revan menatap beberapa foto itu. Lagi-lagi mengingat tentang Lisa, wanita itu. Kemana sebenarnya dia pergi?
"Kenapa ada mobil keluarga Kasela?"
"Kasusnya hampir sama, sepertinya orang menculik Nyonya sudah merencanakan ini dengan matang," jelas Dito, Detektif lain yang menyelidiki kasus penculikan Lisa.
__ADS_1
"Lalu, apa yang kamu dapat?" Revan menatap Dito. Faisal juga menatap Dito serius, pria itu hanya bicara jika atasannya meminta. Jika tidak, dia akan tetap diam.
"Saya pastikan mobil-mobil itu tidak pergi keluar negri. Kerena dipenerbangan manapun tidak ada nama Nyonya, saya sudah menyebarkan orang-orang saya ke berbagai kota, untuk memastikan Nyonya tidak keluar Negri." Revan mengangguk.
"Apa sudah ada petunjuk?"
"Dari lima keluarga besar yang ada, dua di antaranya terlibat, Keluarga besar Kasela dan Adzaradi kemungkinan besar ada dibalik penculikan. Tapi bukti masih belum cukup, sedangkan masih ada tiga keluarga lagi. Keluarga Reuji, keluarga Amar, dan keluarga anda sendiri, yaitu keluarga Mustafa." Revan terdiam. Benar, seharusnya bukan keluarga lain yang harus di curigai. Justru keluarganyalah yang harus dia curigai.
"Saat istriku diculik, apa yang sedang keluargaku lakukan?"
"Saat penculikan terjadi, Tuan Murat sedang bermain dengan Tuan Muda Arezha. Tuan Coskun dan istrinya sedang berada di Bali, sedangkan Nyonya Arzhu entah pergi kemana. Beliau tidak terlihat." Revan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Merasa harus menenangkan diri, semuanya rumit. Penculikan yang terjadi pada Lisa, membawa nama 5 keluarga besar. Revan harus berhati-hati agar tidak membuat mereka saling melahap satu sama lain.
"Ada laporan dari Indonesia. Mereka bilang, Tuan Akbar dan istrinya sudah pindah rumah, dan tidak tau sekarang tinggal di mana," ucap Faisal.
"Tapi Tuan ...." Revan menatap Faisal tajam.
"Kerjakan saja tugasmu! Bawa mereka kesini."
"Baik, Tuan!"
***
__ADS_1
Ruangan berdominasi hitam dan putih itu tampak senyap. Seorang pria berbaring dengan tenang, nafasnya teratur sambil memeluk seorang wanita yang juga tengah terlelap. Pria itu perlahan mengerjapkan matanya, membuka mata dan tersenyum, melihat wanita yang berada dalam dekapannya.
"Selamat pagi," sapa sang wanita sambil tersenyum. Pria itu, Revan. Balas tersenyum, mengusap pipi sang istri yang menatap dirinya. Sesekali berkedip dan mengusap tangan Revan.
Revan menyelipkan rambut sang istri yang menutupi mata ke belakang telinga. Revan kembali tersenyum, mengusap rambut Lisa yang semakin memanjang.
"Pagi ...," balas Revan setelah beberapa saat terjadi keheningan. "Bagaimana tidurmu? Apa nyenyak?" tanya Revan menyatukan keningnya dengan kening Lisa.
"Sangat nyaman," pelan Lisa. Wanita itu tampak cantik memakai gaun tidur satin berwarna baby purple bergambar bunga tulip yang tampak pas di pakai Lisa. Tubuhnya yang ramping dan rambut coklat madunya membuat Lisa tampak semakin cantik.
"Mas mau sarapan apa?" tanya Lisa sambil mengeratkan tali gaun tidurnya.
"Apapun yang kamu masak, aku pasti menyukainya." Lisa tersenyum. Berjalan melangkah sedikit menjauh dari tempat tidur, baru beberapa langkah, tiba-tiba ada bayangan hitam yang menarik Lisa menuju jendela. Revan segera berdiri, sayangnya terlambat. Lisa sudah tertarik keluar.
"Maira!" teriak Revan saat melihat tubuh Lisa semakin tertarik keluar. Revan mencoba menggapai-gapai tubuh istrinya itu. Sayangnya terlambat, Lisa menghilang tanpa jejak.
"Maira!" Revan membuka matanya, ternyata mimpi. Pria itu meneggakkan duduknya, ternyata dia tertidur lagi di meja kerjanya. Revan menghela nafas beratnya, di tatapnya foto pernikahan dirinya dengan Lisa beberapa bulan lalu, wanita itu tampak cantik. Memakai kebaya berwarna putih dengan riasan make up yang membuatnya semakin tampak menawan.
"Dimana kamu sebenarnya?" Revan sudah putus asa mencari. Sudah 3 bulan Lisa hilang, dan dia belum juga ditemukan. Revan takut dan khawatir, semoga saja Lisa baik-baik saja. Semoga saja dia bisa bertemu lagi dengan istrinya itu.
"Aku pasti akan menemukanmu. Apa kamu tidak merindukan anak-anak?" Revan mengambil bingkai foto yang sejak tadi dipandanginya. Dengan perlahan, Revan mengusap foto pernikahannya itu.
__ADS_1
"Maafkan aku ... Humairaku."
To be Continue ....