
***
"Apa?"
"Humaira, apa kamu tidak bertanya kemana anak yang dulu ada di dalam kandunganmu?" wanita itu, Lisa. Dia tampak tertegun.
"Bukankah anak itu sudah menghilang? Dokter Asla bilang bahwa anakku tidak bisa di selamatkan?" Murat tersenyum.
"Ada seseorang, yang memiliki cara untuk menyelamatkan kalian berdua."
"Apa maksudnya? Seseorang, siapa?"
"Kamu tidak perlu tau. Yang jelas, dia membuatmu koma selama 5 bulan agar menjaga kestabilan tubuhmu dan juga bayi yang ada di dalam perutmu. Jika dalam keadaan sadar kesempatan untuk menyelamatkan bayi itu hanya berkisar antara 25-30% keberhasilan. Sedangkan, setelah 'dia' mencari tahu. Kamu bisa di selamatkan dengan keberhasilan mencapai 50%. Setengah-setengah, untuk hidupmu dan anak dalam kandunganmu." Lisa terdiam. Menatap tak percaya Murat.
"Lalu ... lalu di mana anakku?"
"Namanya Athala Zakka Mustafa. Dia lahir prematur 7 bulan. Karena pada saat melahirkannya, tubuhmu sudah mulai tidak kuat. Jadi, dia lahir sebelum waktunya. Beratnya hanya 2,3 kg, dan tubuhnya sangat kecil. Jadi, dia harus menggunakan tabung." Lisa membekap mulutnya sendiri. Satu tangannya menyentuh perutnya yang sudah rata, tak ada tanda kehidupan lagi di sana.
"Apa aku bisa bertemu dengannya?" Murat menggeleng pelan.
"Untuk saat ini, lebih baik kamu fokus untuk kesehatanmu. Jangan pikirkan yang lain." Lisa merasa sedih. Tapi toh Murat sudah menyelamatkan dirinya dan juga anak dalam kandungannya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang dulu."
"Hati-hati di jalan, jangan sampai bertemu bahaya. Ilyas dan Umar akan menemani kamu sampai ke mansion."
"Baik Kakek. Terimakasih atas bantuan yang Kakek berikan."
***
"Enak?" tanya Revan sambil menatap putri tercintanya.
"Enak Yah. Besok beliin pudding lagi ya," pinta Asha. Revan mengangguk.
"Iya, kamu minta sama Nina."
"Ok Ayah!" Asha tersenyum senang. Kembali sibuk dengan pudding yang sedang dia makan. "Oh iya. Kakak mana sih? Inikan liburan, masa di kamar terus?" Asha tampak cemberut.
"Ical!" panggil Revan. Faisal yang sejak tadi berdiri tak jauh dari meja makan langsung mendekat.
"Ya, Tuan."
"Panggil Ezha kesini."
"Baik, Tuan." Faisal langsung bergegas pergi. Menuju kamar sang Tuan muda yang sejak mereka sampai di Paris terus berdiam diri di dalam kamarnya.
Faisal masuk ke dalam kamar Ezha setelah mengetuk. Lion berdiri di depannya.
"Tuan muda, sedang belajar," ucap Lion.
__ADS_1
"Tuan dan Nona muda sudah menunggu di ruang makan," jelas Faisal.
"Akan saya sampaikan." Lion segera masuk ke ruang belajar Ezha. Bocah itu tengah mengutak-atik laptop yang ada di depannya.
"Aku sudah bilang, jangan ganggu!" protes Ezha begitu Lion berdiri di dekat mejanya.
"Tuan dan Nona Ashakira sudah menunggu anda di ruang makan, Tuan muda." Ezha menghentikan kegiatannya. Segera menyimpan file yang tengah di kerjakannya dalam flash disk dan memberikannya pada Lion.
"Kirimkan ini pada Kakek. Jangan sampai Ayah tau."
"Baik, Tuan muda." Ezha langsung keluar dari ruang belajarnya. Di depan kamarnya Faisal masih berdiri, menunggu sang Tuan muda yang langsung berjalan mendahuluinya.
"Kakak!" pekik Asha begitu melihat Ezha muncul di ruang tamu.
"Makan, jangan sambil ngomong!" Ezha mendekat. Mengusap bawah bibir Asha yang belopotan karena pudding coklatnya. Asha tersenyum lalu mengangguk.
"Kakak mau?" tawar Asha.
"Boleh."
"Rasa apa?"
"Terserah." Asha langsung tampak berpikir. Beberapa saat langsung mengambil pudding berwarna biru muda, "ini rasa bubble gum. Kakak pasti suka!" ucapnya antusias. Ezha mengangguk, lalu memakan apa yang Asha pilihkan untuknya.
Semua itu tak luput dari penglihatan Revan. Sejak pembicaraannya bersama Ezha beberapa hari lalu. Hubungan keduanya tidak terlalu baik. Ezha selalu punya alasan untuk tidak bertemu dengannya, jika bukan karena Asha. Revan yakin, Ezha tidak akan datang ke ruang makan.
"Nanti malam kita makan malam di luar," ucap Revan membuat Asha langsung menatapnya.
"Siapa?"
"Ayah akan tau nanti. Aku sudah selesai, terimakasih puddingnya. Terlalu manis, kamu jangan sering-sering makan ini. Tidak baik untuk kesehatan."
"Iya Kakak." Asha langsung meletakkan sendoknya. Revan benar-benar salut, Asha sangat penurut dan manis di dpan Ezha.
"Ayah, aku mau siap-siap buat makan malem," ucap Asha sambil turun dari kursinya.
"Ya sudah sana." Revan tersenyum. Menatap Asha yang berjalan meninggalkan meja makan, Enru segera membuka pintu untuk Nona mudanya. Lalu mengikuti gadis itu keluar dari ruang makan.
***
Revan berjalan menuju ke sebuah restauran yang dia pesan untuk makan malamnya bersama kedua anaknya. Ezha dan Asha berjalan di sampingnya, Asha menggandeng tangannya sedangkan Ezha berjalan seperti biasa. Tanpa perduli sekitarnya.
"Ezha, jangan dengarkan musik terus!" peringat Revan. Sejak tadi, Ezha memang memakai earphone tanpa kabel di telinganya.
"Sudah aku matikan," jawab Ezha.
"Ayo masuk!" ketiganya masuk.
"Oh ya Ezha, bagaimana dengan temanmu yang kamu undang itu?"
__ADS_1
"Dia sudah ada di dalam."
"Di dalam?"
"Iya." Ezha tersenyum. Menatap Asha yang tampak senang malam ini, "Asha ...," panggilnya.
"Kenapa Kak?"
"Kamu lupa?"
"Lupa? Apa?"
"Hari ini 'kan ulang tahun Bunda." Revan terdiam. Kenapa dia bisa lupa dengan hari sepenting itu.
"Oh iya!" Asha tertawa kecil.
"Kakak udah bawa kado spesial, buat Bunda," kata Ezha sambil tersenyum.
"Yaaah, aku lupa nggak bikin kado." Asha cemberut.
"Kalo gitu, kado Kakak kita bagi dua aja." usul Ezha.
"Emang boleh?"
"Iya boleh dong."
"Ya udah deh, aku ikutan Kakak aja." Ketiganya berjalan menuju ke arah lift, Revan memang memesan ruang private karena dari informasi yang dia dapatkan. Akhir-akhir ini banyak orang gang mengintai keluarga kecilnya. Revan tidak ingin ambil resiko kehilangan seseorang lagi.
"Ayah bawa kado apa buat Bunda?" tanya Asha antusias. Revan yang tengah melamun langsung tersadar.
"Kalian kadonya," canda Revan.
"Masa aku sama Kakak dikadoin! Nggak muat Ayah," rajuk Asha.
"Iya-iya, nanti Ayah beli kado." Revan tersenyum. Tentu saja secara paksa. Seandainya Lisa masih ada, mungkin Revan akan memberikan kado apapun yang diinginkan istrinya itu.
"Silahkan, Tuan." Faisal mempersilahkan. Revan dan kedua anaknya langsung masuk.
"Bunda ...." Asha langsung berlari ke arah Lisa begitu melihat wanita itu sedang duduk menikmati secangkir teh yang di sediakan untuknya. Revan terdiam di tempat, menatap Lisa tanpa berkedip sedikitpun. Sedangkan Ezha mendekati Lisa dan mencium punggung tangannya.
"Bunda ...," sapa Ezha pelan.
"Ezha, Asha. Kalian baik-baik aja 'kan, waktu Bunda nggak ada? Kalian nggak susahin Ayah 'kan?"
"Nggak kok Bunda, 'kan aku udah besar!" Asha berdiri dengan tegak lalu mengukur tinggi badannya.
"Bagus." Lisa mengusap kepala Asha sayang. Kini Lisa menatap Revan, wanita itu tersenyum. Berdiri dari duduknya lalu berjalan perlahan ke arah Revan.
"Mas ... aku, akh!"
__ADS_1
To be Continue ....