
****
"Mas ... aku, akh!" Lisa terkejut, begitu berdiri di depan Revan, pria itu langsung menariknya, dan memeluknya dengan sangat erat.
"Kamu ... kamu beneran Humaira?" Lisa terdiam. Lalu membalas pelukan Revan.
"Iya ...." Revan semakin mengeratkan pelukannya.
"Kamu selama ini, di mana?" Revan sudah frustasi mencari Lisa kemana-mana. Tapi dia tak menemukan keberadaan sang istri.
"Maaf ...."
"Seharusnya aku yang minta maaf. Maafkan aku ...." Revan tak ingin lagi Lisa pergi. Dia harus melakukan apapun agar Lisa tetap di sampingnya. Selain sebagai istri, Lisa berperan sebagai seorang wanita yang bisa mengendalikan Ezha. Jika anak itu berjalan di jalan yang jauh darinya.
"Apa yang terjadi, sebenarnya?" Revan ingin tau.
"Ayah, Asha udah laper nih. Kapan makannya?" Asha menarik-narik jas yang Revan kenakan.
"Ah, iya maaf." Revan melapas pelukannya. Lalu berjalan menuju meja makan yang sudah di siapkan.
"Selamat ulang tahun Bunda. Kado dari Kakak sama aku adalah Ayah," ucap Asha sambil tersenyum. Lisa terkekeh pelan, sedangkan Ezha hanya diam saja.
"Kalian sudah tau Bunda ...."
"Kakak yang kasih tau aku."
"Asha!" peringat Ezha. Asha langsung diam, sedangkan Revan menatap kedua anaknya curiga.
"Udahlah Mas, mereka masih kecil. Mas jangan liatin mereka kayak gitu, mereka takut nanti." Revan tersadar lalu mengangguk sambil tersenyum. Duduk di kursi yang ada di samping Lisa.
"Mas, mau makan apa?"
"Apa yang kamu ambil." Lisa tersenyum. Mengambil beberapa makanan untuk Revan.
"Baiklah." Lisa mengambil beberapa makanan untuk Revan. Mereka makan dengan nyaman, Revan hampir tak percaya, orang yang duduk di sampingnya ini adalah Lisa. Dia sudah lama mencari, bahkan sampai mengerahkan banyak orang untuk menemukan Lisa. Tapi, kini tanpa dia cari, justru sudah menunggunya. Apa maksud dari semua ini?
"Mas jangan ngelamun, anak-anak tanya."
"Apa?" Revan benar-benar tidak sadar.
"Ayah, besok kita jalan-jalan keluar ya."
"Iya sayang." Revan tersenyum.
"Aku nggak pergi!" Ezha mengelap meminum air putihnya.
"Kenapa Kak?"
__ADS_1
"Mau jagain Bunda di rumah. Kalian pergi berdua aja," ucap Ezha sambil tersenyum.
"Bunda nggak ikut?" tanya Asha.
"Nggak sayang." Lisa tersenyum hangat.
"Yaaaah." Asha mengeluh kecewa.
"Bunda capek, Sha," jelas Ezha.
"Nanti kalo Bunda udah nggak capek, temenin Asha jalan-jalan ya."
"Iya."
"Janji?"
"Iya."
"Yeeay."
***
Lisa terdiam saat Revan tiba-tiba saja memeluknya dari belakang. Mereka sudah kembali setelah makan malam usai. Revan tampak tersenyum, menumpukan dagunya di bahu sang istri.
"Kamu ... kemana saja selama ini?"
"Aku percaya sama kamu."
"Waktu itu, apa Mas juga percaya sama aku?" Revan terdiam. Perasaan bersalah hadir begitu saja. Revan sangat tau apa maksud dari perkataan Lisa.
"Maaf aku pernah meragukan kamu."
"Seandainya dulu Mas juga percaya ...."
"Aku tau. Jadi, tolong maafkan suamimu ini yang tidak punya perasaan." Lisa memutar tubuhnya. Kini keduanya berhadapan.
"Mas tau hari ini adalah hari ulang tahunku 'kan?" Revan mengangguk, "aku ingin kado."
"Katakan?"
"Tapi, Mas setuju atau tidak?"
"Katakan dulu, aku akan melakukan apapun."
"Bisa kita pulang ke Indonesia?"
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Kira sudah lama, tidak menemui Zara." Benar, Revan tersenyum, lalu memutar tubuh istrinya untuk berhadapan dengannya.
"Baiklah, kita akan pergi secepatnya."
"Bagaimana jika minggu depan?" Revan terdiam sesaat lalu tersenyum sambil mengusap kedua pipi Lisa.
"Tentu, kita akan kesana minggu depan." Lisa tersenyum singkat. Menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
"Apa Mas kehilanganku saat aku tidak ada?" Revan mengangguk.
"Aku sangat kehilanganmu. Aku mencintaimu!" Pria itu mencium puncuk kepala sang istri dengan sayang. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk mencintai dan juga menyayangi istrinya, menjaga dan melindungi keluarga kecilnya.
"Apa Mas benar-benar mencintaiku?"
"Sangat! Aku sangat mencintaimu. Hindarilah." Senyuman terbit di wajah cantik Lisa. Sambil memejamkan matanya, menghirup aroma suaminya yang sangat ia rindukan. Lisa melepas pelukannya, menjauhkan tubuhnya dari Revan lalu menatap pria itu dengan penuh kerinduan.
"Mas, aku juga mencintaimu." Revan tidak salah dengar. Lisa mengatakan bahwa wanita itu mencintainya juga! Setelah sekian lama.
"Benarkah?"
"Mas tidak percaya padaku?"
"Percaya! Aku percaya padamu, terima kasih!" Revan kembali memeluk Lisa, sesekali mencium rambut istrinya itu dengan penuh rasa syukur. Allah memang telah menghukumnya dengan menjatuhkannya dari Lisa. Tapi, sekarang dia yakin, Allah telah memberikan kebahagiaan pada kehidupan rumah tangganya.
***
Siang ini, Hotel yang di tinggal Revan sekeluarga untuk liburan terasa sangat ramai. Revan meminta faisal mendekorasi tempat itu untuk acara ulang tahun Lisa yang terlambat satu hari. Walaupun acara itu hanya akan di hadiri anggota keluarganya saja, tapi Lisa sudah sangat bersyukur dan berterima kasih karena Revan sudah berusaha menyenangkannya.
"Selamat ulang tahun isteriku." Revan mencium pelipis Lisa dengan sayang. Lisa tersenyum dan membalas mencium pipi Revan.
"Terima kasih Mas, dan ini terlalu berlebihan. Kenapa kamu membuat pesta seperti ini?" Revan terkekeh pelan.
"Aku ingin membuatku senang, sudah lama kita tidak bertemu, aku ingin kita habiskan hari ini berempat." Revan menatap kedua buah hatinya yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Raga tampak sedang menghias meja dengan berbagai potongan kertas yang dia buat sendiri. Sedangkan adha sedang membantu menyusun kue untuk ulang tahun Lisa.
"Terima kasih, Mas masih mau menerimaku."
"Tentu saja, aku tidak ingin kehilangannya lagi, sayang." Lisa hanya tersenyum simpul saat Revan mengusap pipinya.
"Terima kasih." Lisa berdiri dari duduknya, keduanya sejak tadi memang tengah duduk di sofa. Memperhatikan kedua buah hati mereka membantu menyiapkan pesta kecil mereka. Revan menahan lengan Lisa yang hampir pergi.
"Maira ... bolehkah aku bertanya?" Lisa menatap suaminya bingung, lalu kembali duduk di samping Revan.
"Apa itu?"
"Jika aku boleh tau, bagaimana keadaan ... anak kita?"
To be Continue ....
__ADS_1