Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)

Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)
09. Keluarga kecil.


__ADS_3

***


    Revan hari ini tidak pergi ke kantor. Tentu saja dia meliburkan diri sendiri, kemarin dia baru saja menikah, dia akan menikmati waktu liburnya dulu.


    Siang ini, Revan sedang duduk bersama Zara di ruang keluarga, keduanya tengah menonton film. Kesehatan Zara akhir-akhir ini semakin memburuk, walaupun begitu, wanita itu tetap menemani suaminya.


"Assalamualaikum ...." Revan menatap Zara.


"Lisa, sudah pulang?" tanya Zara.


"Mungkin." Revan berdiri dari duduknya.


"Waalaikum salam," balas Revan sambil keluar dari ruang keluarga.


"Lisa? Pulang cepat?" tanya Zara.


"Sebentar lagi anak-anak pulang, aku harus menyiapkan makan siang." Zara terdiam. Menatap Lisa yang berjalan membawa beberapa kantung belanjaan.


"Aku akan bantu," ucap Zara semangat.


"Tidak perlu Zara. Lagi pula, ini hanya makanan sederhana. Sekedar untuk makan siang anak-anak," jelas Lisa. Revan hanya diam, apa setiap hari Lisa melakukan hal ini?


***


"Assalamualaikum, Ayah!" Asha berlari dan langsung memeluk Revan. Pria itu sedang memainkan laptopnya.


"Waalaikum salam anak Ayah." Revan tersenyum, memangku putri kecilnya.


"Ayah lagi apa? Kok nggak jemput Adek sih?" tanya Asha.


"Maaf ya, janji deh besok jemput."


"Assalamualaikum ...." Ezha datang bersama Lisa yang membawa tas kedua putrinya.


"Waalaikum salam ...," balas Revan. Putranya itu segera mengulurkan tangannya pada Revan dan menciumnya, duduk di sofa dan langsung melepas sepatu sekolahnya. Lisa juga mencium tangan Revan.


"Mas, ini Mba Laras, susternya anak-anak." Lisa memperkenalkan seorang wanita yang datang bersamanya.


"Oh ya, salam kenal Mba." Revan mengangguk.


"Mas, masih ada kamar buat Mba Laras?" tanya Lisa.


"Oh sepertinya ada, di deket dapur, di samping kamar Mbok Kas," jawab Revan.

__ADS_1


"Oh, ya sudah aku antar Mba Laras dulu." Lisa meninggalkan ruang tamu dan menuju dapur.


    Di sana ada Mbok Kas yang sedang membereskan dapur. Setelah mengantar Laras, Lisa segera menuju ke kamar untuk meletakkan tas sekolah kedua anaknya. Sedangkan di ruang tamu Asha masih memeluk Revan tanpa mau melepaskannya.


"Besok Ayah jemput, tapikan besok libur, Ayah," ucap Asha melanjutkan obrolannya.


"Libur? Ada acara apa?" tanya Zara yang baru muncul membawa setopes biskuit.


"Katanya ada ujian Kakak kelas, terus jadi diliburin," jelas Asha.


"Oh, gitu. Nih Bunda ada biskuit mau nggak?" Zara duduk di samping suaminya.


"Mau!" Asha ingin mengambil biskuit dari toples yang Zara pegang. Tapi Ezha menahannya, "kenapa Kak?"


"Cuci tangan dulu," peringat Ezha. Asha terkekeh pelan.


"Lupa!" gadis kecil itu segera berlari ke dapur. Mencuci tangannya dan kembali ke ruang tamu. Ezha melakukan hal yang sama.


    Lisa sudah mengganti bajunya kembali dengan baju kerja. Wanita itu memang selalu sibuk.


"Mas aku berangkat lagi ...," pamit Lisa.


"Langsung berangkat?" tanya Revan.


"Kakak jagain Adek ya, Bunda udah siapin baju ganti di kamar, abis makan cemilan langsung ganti baju."


"Iya Bunda. Makasih ... Adek sayang sama Bunda!" Asha memeluk Lisa lalu mencium kedua pipi sang Bunda.


"Bunda juga sayang Adek. Kalo gitu, Bunda kerja dulu, jangan nakal sama Ayah sama Bunda Zara ya."


"Iya Bunda," jawab kedua putra-putrinya kompak.


"Jangan lupa makan, nanti Mba Laras yang siapin. Kakak sama Adek nggak boleh manja." Lisa menoel hidung mancung Asha, membuat gadis kecil itu terkekeh.


"Siap Bunda." Lisa tersenyum lalu segera pergi meninggalkan rumah itu. Revan masih tidak mengerti dengan sikap Lisa yang seakan terus menghindarinya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita itu. Kenapa Revan merasa Lisa selalu menutup diri darinya? Apa Lisa sengaja ingin menghindar, tapi kenapa?


***


    Hari cepat berganti, waktu demi waktu terlewati. Lisa mulai terbiasa dengan perannya, mengurus keluarga kecilnya. Setiap pagi bangun untuk menyiapkan sarapan dan peralatan sekolah untuk kedua buah hatinya. Menyiapkan baju kantor suaminya, lalu menyiapkan pekerjaannya sendiri.


    Walaupun Lisa merasa lelah, tapi dia harus tetap menjalaninya. Terlebih, kesehatan Zara kian hari kian memburuk. Lisa juga harus menjaga sahabatnya itu.


    Pagi ini Lisa membuat nasi goreng ayam untuk sarapan keluarga kecilnya. Lisa tidak menyangka akan bertahan selama seminggu bersama keluarga kecil itu. Dia berfikir mungkin akan pergi, tentu saja karena ketakutannya.

__ADS_1


"Lisa ...." Lisa menoleh, Zara datang sambil tersenyum, "kamu sedang apa?"


"Membuat sarapan," jawab Lisa seadanya.


"Aku ingin bantu juga," pinta Zara.


"Baiklah." Lisa mengangguk. Masih sibuk memotong ayam yang akan dia masak.


"Besok, Mas Revan ada acara pengajian," ucap Zara. Membuat Lisa menoleh.


"Benarkah? Aku tidak tau." Zara merutuki suaminya. Kenapa juga dia tidak memberi tahu Lisa tentang itu.


"Kamu ... bisa temani Mas Revan ke acara itu." Lisa menghentikan kegiatannya.


"Kenapa aku?" di sana pasti banyak pria.


"Karena kamu juga istri Mas Revan," entah kenapa Lisa tidak terlalu menyukai status itu.


"Aku tidak ingin pergi."


"Tapi kamu harus dan ...."


"Awas!" Lisa menarik Zara yang hampir terkena wajan panas. Karena tarikan itu bahu kiri Lisa justru terkena sudut lemari.


"Ma.maaf Lisa, aku tidak sengaja."


"Berhati-hatilah Zara!" peringat Lisa sambil memegang bahunya.


"Darah? Kamu terluka." Zara panik.


"Siapa yang terluka?" Revan yang baru saja turun dari lantai atas mendengar keributan itu segera mendekat.


"Aku baik-baik saja, aku akan mengobatinya sekarang." Lisa mematikan kompor, untung saja hari ini anak-anak libur, jadi dia tak perlu buru-buru membuat sarapan.


"Mas, bantu Lisa!" perintah Zara.


"Tapi ... kamu baik-baik saja 'kan?" tanta Revan khawatir.


"Aku baik-baik saja. Tapi Lisa terluka, tadi bahunya berdarah." Revan mengangguk.


"Kembalilah ke kamar, hari ini kita ke rumah sakit. Jangan terlalu lelah." Zara mengangguk. Menatap kepergian Revan yang terlihat buru-buru.


"Kenapa aku merasa cemburu? Apa ini wajar, Lisa juga istri Mas Revan. Tapi, aku merasa tidak suka melihat Mas Revan menghawatirkan wanita lain."

__ADS_1


Chapter 09 end.


__ADS_2