
***
Lisa sudah selesai menyiapkan sarapan, tentu saja porsinya berbeda. Jika biasanya Lisa hanya memasak untuk 3 orang, pagi ini Lisa memasak untuk 5 orang. Lisa bahkan bangun lebih pagi dari biasanya. Dia menyiapkan alat sekolah untuk putra-putrinya. Pagi tadi, dia meminta sekertarisnya Nara untuk mengambil perlengkapan sekolah Ezha dan Asha, sekaligus baju sekolahnya. Setelah itu, tak lupa Lisa menunaikan ibadah, barulah Lisa menyiapkan bekal sehat. Bekal sudah jadi, tas sekolah sudah datang, waktunya membangunkan anak-anak.
Lisa menepuk pipi Ezha pelan, membangunkan jagoan yang sedang bermimpi indah. Terbukti dari bibirnya yang terus menyunggingkan senyum.
Bukan Ezha yang terbangun, justru Revan yang membuka matanya, "ahh, sudah pagi?" Revan merasa nyenyak tidurnya malam ini.
"Mas mau shalat dulu? Ezha harus sekolah juga." Revan melihat jam di ponselnya yang tergeletak di atas meja.
"Jam setengah 6, sekolah?" Revan tak mengerti. Kenapa sekolah sepagi ini?
"Ada acara pensi, Ezha dan Asha harus berangkat lebih pagi. Seharusnya mereka sudah siap sejak tadi, tapi aku tunggu baju yang di antar Nara.
"Bunda ...." Ezha membuka matanya. Lisa tersenyum, membantu Ezha duduk lalu mengusap punggungnya.
"Assalamualaikum jagoan Bunda. Bangun ya, 'kan hari ini sekolah."
"Waalaikum salam Bunda ...." Ezha mengucek matanya, lalu menguap. "Asha mana?" Lisa terkekeh, setiap pagi yang dicari bocah kecil itu pasti adiknya.
"Masih tidur sama Tante Zara." Ezha langsung ingat.
"Ayah! Ayah mana?" Revan yang sejak tadi hanya memperhatikan langsung mendekati putranya.
"Ayah di sini." Revan mengusap kepala Ezha.
"Ayah kita bangunin Adek yuk. Dia pasti kaget Ayah udah pulang!" Ezha melompat turun dari tempat tidur. Lisa sampai terkejut, takut putranya itu jatuh.
"Ya, ya ok jagoan." Revan mengikuti Ezha yang berlari menuju kamar Zara. Sedangkan Lisa menyiapkan seragam sekolah untuk anak-anaknya.
***
Lisa tertegun, menatap pemandangan yang ada di balik pintu itu. Bagaimana mungkin Lisa menyetujui permintaan Zara, apa keputusannya ini adalah jurang yang dia bangun untuk memisahkannya dari kedua anaknya sendiri?
Lihat saja, Zara tampak bahagia bersama keduaanaknya, di dampingi Revan yang tengah menggandeng Ezha. Kenapa mereka tampak seperti keluarga yang sangat bahagia. Lalu, dia berperan sebagai apa?
Lisa memutar tubuhnya, mengusap air mata yang tak sengaja menetes membasahi pipinya. Dengan kekuatan dan keberanian yang dimilikinya, Lisa menerobos masuk. Maaf jika dia mengganggu, yang sedang mereka ajak bermain itu adalah anak-anak Lisa.
"Ezha, Asha. Sudah siang kalian tidak sekolah?" tegur Lisa. Asha tersenyum, bergegas turun dari tempat tidur dan menyapa sang Bunda.
"Assalamualaikum, selamat pagi Bunda ...." Lisa tersenyum, mengangkat putrinya kedalam gendongannya.
"Waalaikum salam princess-nya Bunda yang cantik. Gimana tidurnya, nyenyak?" tanya Lisa. Revan dan Zara mendekat, menatap interaksi ibu dan anak itu.
__ADS_1
"Nyenyak banget, nanti malem Asha boleh 'kan bobo sama Bunda Zara juga." Lisa terdiam, apa yang Asha katakan.
"Ahh itu, Ezha yang bilang," jelas Revan. Tubuh Lisa kembali bergetar, kenapa dia setakut ini.
"Anak-anak, kalian harus mandi. Acara pensi di mulai jam 7, kalian harus mandi sekarang."
"Iya Bunda ...," keduanya segera bergegas pergi. Mengikuti Lisa yang lebih dulu meninggalkan kamar Zara.
***
Asha tampak membenarkan tatanan hijab dengan satu tangannya, sedangkan Ezha membaca bukunya dengan satu tangan. Sebelah tangan mereka di gandeng oleh Lisa, wanita cantik itu juga sudah siap dengan pakaian kantornya.
"Sarapan dulu ya, Bunda udah bikinin sarapan kesukaan Ezha sama Asha." Lisa mendudukkan kedua anaknya di kursi makan.
"Bunda, Ayah sama Bunda Zara mana?" sepertinya Zara dan Revan masih di kamar mereka.
"Bunda panggil Ayah sama Bunda Zara dulu." Lisa melangkah meninggalkan ruang makan, berjalan menuju kamar Zara. Menghembuskan nafasnya, Lisa mengetuk pintu.
Zara yang membuka pintunya, "Lisa?"
"Sarapan sudah siap. Sebaiknya kamu turun, anak-anak mencari kalian," jelas Lisa. Zara tersenyum lalu mengangguk.
"Baiklah, aku akan turun bersama Mas Revan." Lisa mengangguk, segera meninggalkan kamar sahabatnya itu.
"Loh, kok makanannya nggak di makan? Kakak sama Adek nggak suka masakan Bunda?" tanya Lisa.
"Bukan Bunda, kita tunggu Ayah sama Bunda Zara. Biar sarapan sama-sama," jelas Asha, Lisa tersenyum, lalu duduk di antara Asha dan Ezha.
"Waah, Anak-anak Ayah udah siap ya." Revan berjalan mendekat, mencium kening Asha dan Ezha bergentian. Lalu saat berhadapan dengan Lisa, wanita itu segera menunduk. Lagi-lagi ketakutannya muncul di saat yang tidak tepat.
"Ezha mau di suapin Ayah," pinta Ezha. Lisa menatap putranya bingung.
"Biasanya Kakak makan sendiri?" tanya Lisa.
"Ezha mau di suapin Ayah." Lisa menghela nafasnya.
"Bunda aja ya yang suapi," tawar Lisa.
"Nggak mau, maunya sama Ayah."
"Ya udah, biarin aja. Biar aku yang suapi." Revan menahan bahu Lisa saat wanita itu mengambil sendok.
"Asha mau di suapi Buna Zara," kali ini Lisa menatap Asha yang bergerak turun dari kursinya. Mengambil piring makannya dan mendekati Zara.
__ADS_1
"Asha ...," peringat Lisa.
"Udah Lis, biarin aja. Aku mau kok suapin Asha," bukan! Bukan itu, kenapa sekarang kedua anaknya tak mau mendengarkan ucapannya. Lisa merasa asing dengan kedua anaknya.
Meremas taplak meja yang menjuntai ke lantai, Lisa menunduk, mengatur nafasnya yang mulai memburu.
"Bunda tunggu di mobil ya," sebaiknya Lisa pergi dari ruangan itu.
"Asha pengen di anter Ayah sekolah," pinta Asha. Lisa menghentikan langkahnya.
"Asha, Bunda sekalian mau ke kantor."
"Nggak mau, Asha maunya di anter sama Ayah!" tegas Asha. Revan tersenyum, senangnya jika pagi-pagi seperti ini selalu ada celotehan anak kecil seperti ini.
"Asha!" Revan terkejut. Menatap Lisa yang tampak kesal, mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya, "kalian berdua, Bunda yang anter, sebentar lagi masuk, jangan sampai terlambat!" Lisa melembutkan suaranya. Dia tak ingin lepas kontrol dan memarahi kedua anaknya tanpa sebab.
Ezha mendorong piring makannya, walaupun masih kecil, Ezha itu sangat peka. Dia tau Bundanya sedang marah.
"Ezha udah selesai makan. Ayo Dek, kita berangkat."
"Eh, Ezha belum abis sarapannya." Revan menatap Ezha yang turun dari kursi.
"Nanti ada katering kok, lagian kasihan Bunda, udah capek dari pagi. Pasti Bunda bangun pagi-pagi lagi." Ezha sudah tau bagaimana Lisa. Bundanya itu sangat disiplin. Bundanya juga selalu pulang larut malam, biasanya setelah menjemput Ezha dan Asha sekolah, Lisa akan kembali ke kantor dan pulang saat malam. Dan saat pagi, Ezha selalu melihat Lisa yang terbangun lebih pagi dari pada ayam. Dan tentu saja mengerjakan design baju-bajunya.
"Tapi Kak ...."
"Asha! Jangan ngeyel kalo dibilangin, kamu nggak kasihan sama Bunda?" Ezha menutup bukunya. Memasukkan buku yang selalu dia bawa itu ke dalam tas.
"Iya Kak." Asha mengangguk pasrah, lalu meninggalkan Revan dan Zara yang hanya diamenatap kepergian dua bocah itu.
Revan menghela nafasnya, menatap Zara yang masih melihat kemana dua bocah itu pergi.
"Sepertinya dia terlalu sulit di dekati," ucap Revan tiba-tiba. Zara menoleh, menatap suaminya yang menunduk.
"Lisa baik Mas ... mungkin dia hanya belum terbiasa."
"Pagi ini dia meminta izin untuk bekerja, padahal seharusnya dia tidak pergi."
"Seharusnya Mas larang."
"Aku merasa tidak bisa menolak keinginannya." keduanya lalu diam. Zara menatap suaminya dalam diam. Dia sudah siap, jika suatu saat Revan akan mencintai sahabatnya.
Chapter 08 end.
__ADS_1