Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)

Seni Seviyorum (Aku Mencintaimu)
25. Özür Dilerim.


__ADS_3

***


"Kamu ... apa tidak bahagia?" tanya Revan pelan. Lisa menggeleng pelan.


"Sudahlah, kita harus pulang setelah ini," tidak! Revan masih ingin tahu. Tapi sepertinya, saat ini bukan waktu yang tepat untuk mereka bicarakan. Revan seakan merasa jauh dari istrinya, walaupun Lisa ada di depan matanya. Tapi seakan jarak memisahkan mereka bermil-mil jauhnya.


    Tidak tahu lagi apa yang terjadi kedepannya. Yang saat ini Revan tau, dia mencintai Lisa, sangat mencintainya. Anggap saja Revan mudah memberikan hati kepada seseorang, toh sejak kejadian delapan tahun yang lalu, Revan sudah mencari sosok Lisa. Sayangnya, mungkin takdir baru mempertemukannya dengan Lisa setelah  bertahun-tahun lamanya. Walaupun sakit melihat wanita itu pertama kalinya, terlebih mengetahui ketakutannya terhadap lawan jenis. Membuat Revan seakan dihantam batu besar.


   Kemana saja dia selama ini? Apa Revan sungguh-sungguh mencari wanita yang tak sengaja 'ditiduri' olehnya itu? Tentu saja jawabannya tidak terlalu. Baginya, Zara lebih penting dari siapapun. Di dunia ini. Tapi, setelah Revan tau keberadaan wanita yang selama itu dia coba lupakan, tiba-tiba hatinya merasa lega, seakan beban yang selama ini ada di pundaknya perlahan runtuh dan jatuh.Membuat Revan merasa tenang bernafas, terlebih mengetahui bahwa Lisa mempertahankan anak-anaknya yang dia tidak ketahui keberadaannya selama 8 tahun.


"Mas ... kita sudah selesai," perkataan Lisa membuat Revan tersadar. Pria itu tersenyum, lalu mengangkat Asha.


"Ayo kita pulang." Lisa mengangguk, dia tau suaminya itu meragukannya. Tapi Lisa tak mungkin bercerita tentang Isac, pria yang telah mencuri hatinya, pria yang dulu pernah dia berikan cinta dengan tulus, dan pria yang telah membuat luka yang begitu besar di hatinya, menghancurkan kepercayaannya yang sudah lama dia bangun.


"Kamu baik-baik saja? Wajahmu pucat." Revan mengusap pipi Lisa penuh kelembutan. Lisa hanya menggeleng pelan, apa mungkin Lisa akan mencintai lagi, setelah cinta yang dulu dia berikan pada seseorang di sia-siakan begitu saja?


"Ayah, besok kita beli tas baru. Kan minggu depan aku udah masuk sekolah." Revan tersenyum. Sebisa mungkin menyembunyikan kegusarannya di depan kedua anaknya.


"Iya, sayang. Tentu saja, apapun untukmu!"


"Yeeeay!" sorak Asha senang.


"Dasar manja!" ketus Ezha sambil menaiki mobil yang pintu ya sudah di buka oleh Revan.

__ADS_1


"Biarin wlee!" Asha menjulurkan lidahnya. Meledek sang kakak yang tampak tak perduli.


"Sudah cukup, kita pulang sekarang. Kalian tidur saja, ya." Revan mendudukkan Asha di kursi belakang, di sampingnya ada Ezha yang sudah siap tertidur. Lisa langsung masuk ke dalam mobil samping kemudi, membuat Revan benar-benar bingung dengan sikap istrinya itu. Tidak biasanya Lisa mengacuhkan kedua anaknya, secuek-cueknya Lisa, dia tak akan membiarkan kedua anaknya begitu saja.


"Langsung pulang?" tanya Revan.


"Ya, aku sedikit lelah," benar. Revan yakin ada sesuatu dengan istrinya.


"Beristirahatlah." Revan tak ingin mengganggu. Di usapnya rambut sang istri dengan sayang, lalu mulai menyalakan mesin mobilnya.


"Maafkan aku Mas ...." Lisa berbisik pelan. Perlahan memandang keluar jendela, menatap jalanan yang sedikit padat. Lisa memejamkan matanya, mencoba mengalihkan fikirannya yang terus berkecuk. Antara mengingat masalalu dan membiarkan semuanya berlalu.


***


    Lisa terganggu dengan suara ponsel yang tentu saja bukan miliknya, wanita itu mengedarkan pandangannya. Dan, saat itu tatapannya bertemu dengan tatapan seseorang yang dulu sangat ia kenali.


"Maaf, apa ... aku mengganggumu?"


"Mungkin!" Lisa tak ingin membuat dirinya terus berada dalam zona kebimbangan. Saat ini, dia sudah menikah, begitupun dengan Isac. Keduanya sudah memiliki kehidupan masing-masing.


"Maaf jika mengganggu. Apa kamu punya waktu sebentar?"


"Aku sedang bekerja. Maaf tidak bisa!" jawab Lisa tegas. Isac terkekeh pelan. Lalu duduk tak jauh dari tempat Lisa berada, wanita itu tengah menikmati paginya di gazebo sambil membuat design-nya, sayangnya sepertinya paginya terganggu oleh kedatangan Isac.

__ADS_1


"Sebentar saja. Aku mohon," pinta Isac memelas.


"Baiklah." Lisa meletakkan bukunya, lalu bangkit berdiri, "jangan di sini," tentu saja tempat itu bisa kapan saja di lalui oleh Arzhu. Dan Lisa tidak ingin membuat keributan.


***


"Ada apa?" tak ingin berlama-lama, Lisa hanya ingin Isac mengatakan tujuannya dengan cepat dan menyelesaikan urusan mereka.


"Apa kamu tau, dulu ... aku sangat menyesal telah meninggalkanmu." Lisa menggeleng pelan. Wanita itu tampak berdiri di depan kursi taman sambil bersedekap dada.


"Waktu sudah berlalu, aku sudah mrlupakannya. Jadi, tolong jangan ganggu kehidupanku lagi."


"Tapi ... seni hala çok seviyorum.(aku masih sangat mencintaimu.)"


Plak!


    Satu tamparan mendarat di pipi kiri Isac, entah sudah berapa lama Lisa menahannya. Bertahun-tahun, mungkin perasaan cintanya sudah lama hilang, tapi rasa sakitnya, belum juga tetobati.


"Jangan ganggu kehidupanku, Agrisac!"


"Özür dilerim.(maafkan aku.)"


To be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2