
****
Lisa terkejut saat tengah memasak ada yang memeluknya dari belakang. "Sedang apa?" pertanyaan macam apa itu.
"Mas jangan ngagetin!" protes wanita itu kesal. Revan sang pelaku hanya terkekeh menanggapi ucapan istrinya.
"Maaf, kamu sedang apa?"
"Masak, Mas mau bantu?" seperti biasa, tak ada senyum berarti untuk wanita itu. Wajah datar tanpa senyum, dan matanya yang bergerak serius memperhatikan sesuatu yang tengah dia kerjakan.
"Mau bantu liatin kamu masak." Revan mencium pipi Lisa, lalu melepas pelukannya.
"Anak-anak sudah bangun?"
"Belum, mereka kelelahan. Mungkin karena di mobil bermain terus."
"Biarkan saja kalau begitu." Lisa kembali serius dengan pekerjaannya.
"Maira ... bagaimana keputusan kamu, kita akan berangkat satu minggu lagi." Lisa menghela nafasnya.
"Haruskah kita pergi?"
"Harus. Kakekku ingin bertemu denganmu dan juga anak-anak."
"Tapi aku takut ...."
"Ada aku, sayang. Tenang saja." Revan mengusap rambut Lisa yang kini di gulung asal.
"Baiklah, aku setuju." Revan tersenyum, dengan segera memeluk Lisa dengan erat.
"Terima kasih, Humairaku ...," pipi Lisa mendadak panas. Apa lagi ini? Kenapa setiap kali Revan berucap aneh seperti itu, Lisa merasa malu dan juga panas di pipinya. Aneh sekali.
***
"Waaah, Bunda, Ayah. Cepat kesini, pantainya bagus!" Asha menarik-narik tangan Lisa dan Revan agar mengikuti bocah itu.
"Iya sayang, bagus." Lisa menggeleng pelan. Sejak dulu, Asha memang sangat suka pantai. Hari ini, keluarga kecil itu memilih pergi ke pantai sebelum mereka ke Turki. Asha tampak menikmati hari liburnya. Sedangkan Ezha tampak tak suka.
"Ezha nggak main?" tanya Revan.
"Aku nggak suka pantai!" jawab Ezha. Bocah kecil itu memilih duduk di atas pasir putih, membuka tas yang sejak tadi di bawanya lalu mengeluarkan sebuah buku dan langsung membacanya.
"Ezha memang seperti itu Mas, sejak dia bisa membaca, buku apapun yang menurutnya menarik, pasti akan dia baca."
"Tapi, yang dia baca itu bukan untuk anak-anak."
"Aku tau ...." Lisa menghembuskan nafasnya.
"Maksud kamu, dia ...."
__ADS_1
"Dia dewasa sebelum waktunya, buku itu di berikan oleh dokter yang menanganinya dulu."
"Dokter?"
"Aku pernah membawanya ke Dokter psikologi, aku tidak tau jika dia lebih suka membaca dari pada bermain dengan anak seusianya."
"Tapi, dia kehilangan masa bermainnya."
"Dia tidak terlalu suka bergaul. Bahkan jika bukan karena Asha, mungkin Ezha tidak akan punya teman." Revan menatap putranya. Sebenarnya, dia ingin tau apa yang dipikiran bocah sekecil itu.
"Kita nikmati saja dulu liburan ini, tiga hari lagi kita akan pergi dari sini." Revan mengusap bahu Lisa. Wanita itu mengangguk dan mendekati Asha yang masih bermain dengan pasir putihnya.
Revan menatap Ezha sesaat, sebelum memutuskan mendekati putranya dan duduk di sampingnya.
"Tidak ikut main?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Membosankan."
"Itu menyenangkan." Ezha menghentikan bacaannya. Menatap Revan dengan tatapan bertanya, Revan terkekeh. "Asha menikmatinya, kenapa kamu tidak?"
"Aku tidak menyukai pantai Ayah."
"Membaca di perpustakaan," jawab Ezha tampa ragu.
"Bukankah itu membosankan?"
"Membaca membuat kita jadi pintar, jika terus bermain kita tidak akan pintar." Revan mengusap rambutnya sendiri. Kenapa anak sekecil ini bisa berfikiran seperti itu?
"Kita bisa bermain, untuk membuat hati senang." Revan masih ingin tau.
"Aku senang saat membaca." Ezha kembali membuka bukunya.
"Buku apa yang kamu baca?" walaupun Revan sudah tau. Tapi dia ingin tau alasan mengapa Ezha memilih buku itu.
"Aspek Hukum Bisnis." Revan sudah pernah membacanya.
"Kenapa memilih buku itu, kamu tidak ingin membaca buku anak-anak saja?"
"Itu membosankan."
"Tidak, aku menyukainya." Revan menghela nafasnya. Kenapa bocah kecil ini suka membaca buku-buku berat.
"Kamu suka buku, kita akan membelinya saat pulang nanti." Ezha langsung menoleh.
"Benarkah?"
__ADS_1
"Iya, tentu saja."
"Terima kasih Ayah." Revan tersenyum. Baiklah, setiap anak memang memiliki kesukaan masing-masing.
***
"Ayah, kita mau kemana?" Ezha menatap Revan dengan serius.
"Kita mau ke rumah Kakek," jawab Revan sambil tersenyum.
"Rumah Kakek jauh Yah? Kok pake pesawat?" kali ini si kecil Asha yang bertanya.
"Jauh sayang." Revan benar-benar gemas dengan kedua anaknya.
"Berapa lama?" tanya Ezha lagi.
"Mmm, mungkin 15 jam."
"Hah, bosan." Asha menyandarkan kepalanya di lengan Revan. Pria itu hanya tersenyum.
"Adek bisa tidur dulu 'kan?" ucap Lisa. Asha menggeleng.
"Asha nggak pengen tidur, Asha pengen main."
"Jangan kebanyakan main, nanti nggak pinter!" komentar Ezha sambil menatap Asha serius.
"Ih ... Kakak, 'kan Asha masih kecil."
"Kakak juga masih kecil, tapi Kakak belajar, nggak kayak Adek."
"Nggak, Adek udah pinter. Nggak usah belajar juga Adek pinter."
"Kata siapa, kalo nggak belajar ya nggak pinter."
"Bunda, Kakaknya!" adu Asha akhirnya. Gadis kecil itu segera memeluk Lisa.
"Udah-udah sayang. Anak bunda semuanya pinter," hibur Lisa. Revan tersenyum, menatap keluarga kecilnya yang kini tengah duduk di balik kursi penumpang. Mereka akan berangkat ke Turki. Tentu saja menggunakan penerbangan Turki. Revan yang mengaturnya, Lisa hanya membantu mempersiapkan saja.
"Ayah, buku yang kita beli kemarin, ketinggalan di mobil." Ezha mencari-cari bukunya di dalam tas. Tapi tidak dia temukan.
"Nanti kita beli lagi."
"Nggak boleh, kata Bunda kita nggak boleh boros. Di rumah Kakek ada perpustakaan nggak?" tanya Ezha.
"Ada, sayang."
"Yes!" lagi dan lagi, Revan selalu takjub dengan kedua anaknya. Apa yang selama ini Lisa ajarkan, kedua anaknya tumbuh dengan sangat baik. Bahkan melebihi apa yang dia bayangkan tentang mendidik anak. Revan sudah menginginkan ahli warisnya sejak dulu, sejak awal pernikahannya dengan Zara. Tapi, Allah berkehendak lain dengan memberi takdir yang tidak diinginkan.
To be Continue ....
__ADS_1