Seperti Menikahi Bocah

Seperti Menikahi Bocah
SMB 10


__ADS_3

"Diamlah. Tangisanmu membuatku pusing." Gatra memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut. Mendengar perintah Gatra, tangisan Agnes pun seketika mereda. Gadis itu menatap Gatra sangat lekat.


"Kepalamu pusing?" tanya Agnes khawatir.


"Ya."


"Tunggu sebentar." Agnes berjalan cepat meninggalkan Gatra di ruangan itu sendirian. Perasaan Gatra mendadak tidak nyaman saat mengamati gerak-gerik gadis itu.


"Minumlah obat ini agar sakit kepalamu reda." Agnes memberikan satu pack obat sakit kepala dan Gatra membulatkan penuh kedua bola matanya. Padahal yang membuat Gatra sakit kepala adalah tingkah gadis itu, bukan sebuah penyakit migrain atau apa pun itu.


"Ini tidak akan menyembuhkan sakit kepalaku," kata Gatra ketus.


"Lalu? Itu obat paling mujarab menurutku. Tidak ada yang lebih mujarab lagi." Agnes menatap Gatra yang saat ini sudah tersenyum licik. Entah mengapa, melihat senyuman itu membuat Agnes mendadak gelisah.


"Tentu saja ada yang lebih mujarab," kata Gatra. Tatapan anehnya membuat Agnes menaruh curiga kepada lelaki itu.


"Apa?"

__ADS_1


"Cium keningku maka sakit di kepalaku ini langsung sembuh." Gatra tergelak keras karena jawabannya sendiri, sedangkan Agnes sudah mencebik kesal.


Rasanya aku ingin sekali mencincang lelaki ini dan aku jadikan gulai daging manusia.


Agnes mengumpat dalam hati. Namun, sepersekian detik selanjutnya gadis itu mual-mual saat membayangkan gulai daging manusia tersaji di depannya.


"Hei! Kamu mau ke mana?" Gatra mengejar Agnes. Merasa khawatir karena gadis itu tiba-tiba mual bahkan sudah mengeluarkan makanannya.


"Ya Tuhan ...." Agnes bersandar wastafel. Wajahnya sudah memucat.


"Kamu baik-baik saja?" Gatra tampak cemas. Dia segera memberi minyak di pelipis Agnes.


"Kamu hamil?" tanya Gatra begitu menuntut jawaban. Entah mengapa lelaki itu merasa sangat tidak sabar.


"Ish, mulutmu jahat sekali. Mana mungkin aku hamil. Berciuman saja aku belum pernah," timpal Agnes setengah kesal. Gatra pun mengembuskan napas lega saat mendengar jawaban itu.


"Ya kali aja kamu hamil anak setan," celetuk Gatra asal.

__ADS_1


"Kamu sangat menyebalkan!" Agnes memukuli Gatra sekuat tenaga. Tidak peduli meskipun lelaki itu sudah meminta ampun dan menyuruhnya berhenti.


"Kamu tidak dengar aku menyuruhmu berhenti." Gatra mencekal kedua tangan Agnes hingga gadis itu tidak bisa melakukan perlawanan. Setelahnya, Gatra memajukan wajahnya seolah hendak mencium gadis itu. Agnes pun segera memundurkan bahunya dan mereka saling bertatapan mesra.


"Kamu tampan sekali," gumam Agnes lirih saat mengamati wajah Gatra dari dekat. Senyuman Gatra pun terlihat jelas ketika mendengar itu bahkan dia merasa seperti orang yang sedang kasmaran.


"Aku memang tampan. Kamu baru sadar," kata Gatra bangga. Agnes yang menyadari itu pun segera mengembuskan napas kasar dan mendorong lelaki itu agar menjauh darinya.


"Awas! Aku mau kerja lagi." Agnes berusaha menghindar dan tidak mau jika sampai terpikat lagi kepada lelaki itu.


"Tunggu dulu." Gatra menahan. Agnes pun berbalik dan menatap sebal ke arah atasannya.


"Apa lagi? Aku tidak mau kalau sampai keseringan di sini dan tidak melalukan tugasku. Nanti kamu akan memotong gajiku, memotongnya lagi, dan lagi sampai semua gajiku habis kamu potong."


"Astaga." Gatra mengusap dada, memberi kesabaran pada dirinya menghadapi gadis seperti Agnes. "Apa bibirmu tidak capek berbicara sepanjang itu. Kamu pantas jika bekerja di bagian marketing."


"Diamlah. Jangan membuatku dongkol padamu lagi." Agnes berjalan menghentak meninggalkan Gatra. Tidak peduli meskipun lelaki itu terus memanggilnya.

__ADS_1


"Ya Tuhan. Semoga keputusan yang kuambil ini sudah tepat," gumam Gatra.


Lelaki itu pun bergegas kembali ke ruangan dan bersiap karena sebentar lagi restoran akan tutup.


__ADS_2