
Gatra memijat pelipis. Ia merasa pusing karena masalah yang sedang dihadapinya saat ini. Ia yakin, kalau Agnes pasti sedang menangis.
Tidak mau terus merasa gelisah, Gatra pun berniat untuk menyusul Agnes. Ia membereskan semua pakaian miliknya yang berada di ruangan itu dan bersiap untuk pulang sore nanti. Namun, Gatra tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan Selly, wanita yang kemarin bertabrakan dengan Agnes.
"Kamu mau ke mana, Mas?" tanya Selly heran.
"Aku akan pulang karena harus menyusul istriku. Aku tidak bisa tenang jika dia sedang marah seperti ini," sahut Gatra. Kembali memijat pelipisnya.
"Buat apa? Aku lihat istrimu itu sangat manja dan cengeng. Wanita seperti itu lebih baik ditinggalkan saja," kata Selly memanasi. Ia bahkan dengan berani mengusap tangan Gatra.
"Jangan kelewatan!" umpat Gatra. Menjauhkan tangannya dari Selly. Namun, Selly justru tersenyum sinis.
"Kenapa, Mas? Apa kamu tidak mau denganku? Hampir sebulan bersama, aku yakin kalau kamu memiliki sedikit rasa untukku." Dengan genitnya, Selly mengerlingkan sebelah mata.
Gatra pun sampai bergidik ngeri ketika melihatnya karena sejak bersama, baru kali ini Gatra melihat Selly yang segenit itu. Dulu, Selly sangatlah lembut dan terlihat seperti wanita pekerja keras.
"Apa kamu kerasukan, Sel? Kenapa kamu terlihat sangat berbeda?" tanya Gatra. Memasang kuda-kuda dan bersiap untuk menjauh.
Selly dengan genitnya memainkan rambut. "Karena aku menaruh rasa padamu, Mas. Kupikir, istrimu itu wanita berkelas dan sangat dewasa hingga aku tidak sanggup menandinginya, ternyata masih kekanak-kanakan."
__ADS_1
Brak!
Gatra menggebrak meja. Ia merasa geram atas ucapan Selly yang terdengar seperti sebuah penghinaan untuk Agnes. Gatra benar-benar tidak terima.
"Kenapa—"
"Pergi dari sini dan mulai saat ini kamu ... kupecat, Sel!" bentak Gatra mengusir.
Selly menatap Gatra dengan sorot mata tajam. "Apa maksudnya ini? Ingat, Mas. Aku yang membantumu di sini mengurus restoran ini."
"Aku tidak peduli. Lebih baik aku kehilangan sebagian hartaku daripada aku harus kehilangan istriku. Sekarang kamu pergilah karena aku tidak mau melihatmu lagi!" usir Gatra setengah membentak.
Selly berdecak kesal. Bahkan, tangannya sudah mengepal erat dan giginya saling bergemerutuk. "Awas kamu, Mas!"
***
"Kamu yakin?" Suara Janu terdengar menggelegar di ruang tamu. Ia menoleh ke belakang khawatir ada Agnes di sana. "Kalau begitu, kamu awasi wanita itu. Jangan sampai ia menyakiti Agnes maupun Gatra."
"Pa ...."
__ADS_1
Janu langsung mematikan panggilannya ketika mendengar suara Agnes yang terdengar seperti sedang merengek. Ia pun berusaha terlihat tetap tenang agar Agnes tidak menaruh curiga kepadanya.
"Kamu belum tidur, Sayang?" tanya Janu lembut. Mendekati putrinya dan mencium puncak kepala wanita itu dengan penuh kasih sayang.
"Aku tidak bisa tidur, Pa. Aku kepikiran Mas Gatra terus. Aku nyesel. Aku ngerasa udah keterlaluan sama dia," keluh Agnes. Janu pun tersenyum ketika melihat putrinya yang terkesan sangat manja.
"Kamu tenang saja. Pasti, Gatra sebentar lagi akan pulang. Jangan khawatir," ucap Janu berusaha menenangkan hati Agnes.
Agnes tidak berbicara apa pun. Ia justru sibuk dengan ponselnya. Namun, Agnes langsung berdecak kesal ketika ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.
"Ternyata Mas Gatra selingkuh dariku!" umpat Agnes kesal. Mengalihkan perhatian Janu kala itu juga.
"Apa maksudnya, Nes?"
"Lihatlah, Pa." Agnes menyerahkan ponselnya dengan kasar. Janu pun mengamati dengan seksama dan ia tersenyum sinis setelahnya.
Di gambar itu terlihat Gatra sedang berdua dengan Selly. Posisi mereka sangat dekat, tetapi Janu bisa melihat jelas raut wajah Gatra yang terlihat tidak nyaman.
"Aku marah sama Mas Gatra! Aku kesel! Kesel! Kesel!"
__ADS_1
"Sabar, Sayang. Nanti kamu harus minta penjelasan kalau Gatra pulang," ucap Janu. Berusaha menenangkan putrinya.
Agnes tidak menjawab. Ia hanya mendengkus kasar beberapa kali untuk meluapkan kekesalannya.