Seperti Menikahi Bocah

Seperti Menikahi Bocah
SMB 06


__ADS_3

Hati Agnes merasa sangat kecewa pada keadaan karena hidupnya sekarang berbanding terbalik. Sangat berbeda. Tidak ada yang memberi kejutan apalagi ucapan selamat ulang tahun. Bahkan, Agnes tidak yakin ada orang yang tahu kalau sekarang adalah hari ulang tahunnya.


Agnes menatap pintu nanar. Dalam hati kecilnya berharap sang papa akan muncul dari balik pintu tersebut sambil membawa kue dan menyanyikan lagu ulang tahun. Mengecup kedua pipinya penuh cinta dan memberi kado ulang tahun yang biasanya berisi barang kesukaannya. Namun, helaan napas Agnes terdengar memecah keheningan kamar saat dia menyadari kalau semua itu hanyalah sebatas angan yang tidak akan mungkin jadi nyata.


"Kenapa aku sebodoh ini, berharap hal yang tidak akan mungkin kudapatkan lagi." Agnes menghapus cairan bening yang kembali mengalir melalui sudut matanya. Walaupun dia sudah berusaha menghentikannya, tetapi ternyata tidak bisa. Air mata tersebut seolah mengajaknya bercanda.


Tidak ingin semakin larut pada kesedihan, Agnes pun memilih untuk memejamkan mata. Berusaha agar bisa kembali tertidur lelap dan esok hari akan mendapatkan kejutan yang luar biasa. Ya, meskipun semua itu hanyalah mimpi.


***


"Etha, aku mau berangkat kerja dulu." Agnes berpamitan kepada Margaretha yang sedang sibuk sarapan bersama Andra. Agnes merasa heran karena tidak biasanya Margaretha bersikap tak acuh seperti itu. Bahkan, Margaretha tidak mengajak atau sekadar menawari sarapan kepadanya.


"Ya, berhati-hatilah." Margaretha berbicara cuek lalu sibuk mengobrol dengan Andra. Perasaan Agnes pun tidak nyaman saat melihat itu karena merasa Margaretha seperti sedang marah padanya.


"Baiklah. Etha, mungkin nanti aku akan sedikit terlambat pulang." Agnes berbicara menunduk karena takut akan mendapat banyak pertanyaan ataupun omelan dari Margaretha.


"Baiklah."


Agnes mendongak dan langsung menatap Margaretha. Tidak percaya saat Margaretha langsung mengiyakan begitu saja. Tidak bertanya akan ke mana ataupun curiga padanya. Agnes pun tidak lagi membuka suara. Dia mencium pipi Margaretha lalu bergegas pergi begitu saja.

__ADS_1


Mungkin Etha sudah tidak sayang padaku lagi.


Batin Agnes terus menerka. Dia tampak kebingungan bahkan sampai masuk ke mobil Gatra. Agnes menoleh dan menatap Gatra yang sedang sibuk mengetik sesuatu di ponsel, entah siapa yang sedang dihubungi lelaki itu kenapa bisa serius seperti itu. Namun, Agnes pun mencoba diam dan tidak ingin ikut campur.


"Kapan kita berangkat? Jangan sampai kita terlambat." Suara Agnes terdengar ketus karena cukup lama menunggu, Gatra masih saja sibuk dengan ponselnya.


Gatra pun segera mengalihkan pandangan ke arah Agnes, "Eh, kamu sudah di sini?" Gatra menaruh ponselnya kembali ke saku kemeja yang dikenakan. Agnes tidak menjawab, hanya mengangguk pelan sebagai tanggapan. Setelahnya, Gatra pun melajukan mobil tersebut tanpa bertanya lagi.


Selama dalam perjalanan, tidak ada percakapan di antara mereka. Sikap Gatra terasa dingin sama seperti sikap Margaretha tadi. Agnes pun merasa sedih. Hari ulang tahun ini terasa paling menyedihkan pertama kali untuknya. Tidak ada ucapan selamat dan yang dia terima justru sikap tidak peduli dari orang-orang terdekat. Agnes memejamkan mata dan berusaha agar pikiran dan hatinya merasa tenang. Jangan sampai dia terlihat sedih di depan orang lain.


Lima menit memejamkan mata, Agnes terkejut saat membukanya dan dia melihat jalan yang dilalui mobil Gatra bukanlah jalan menuju ke restoran. Dia merasa begitu asing. Agnes pun meoleh dan menatap Gatra yang sedang fokus pada setir kemudi.


"Sarapan." Gatra menjawab singkat.


"Tapi—"


"Aku tidak menerima penolakan." Gatra menyela ucapan Agnes begitu saja. Membuat Agnes terdiam saat itu juga. Agnes pun tidak bisa lagi berbicara apa pun. Hanya diam dan menurut.


Gatra memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran yang cukup terkenal. Agnes tidak berbicara apa pun termasuk saat Gatra memesan cukup banyak makanan karena hati Agnes sudah merasa kesal terlebih dahulu.

__ADS_1


"Ini jus Alpukat, tanpa gula dan es, Tuan."


Ucapan seorang pelayan mampu mengalihkan perhatian Agnes yang saat itu sedang sibuk dengan ponsel meskipun tidak tahu apa yang dilihatnya karena Agnes hanya menggulir layar tanpa alasan yang jelas. Senyum Gatra tampak samar saat melihat raut kebingungan yang memenuhi wajah Agnes membuat gadis itu terlihat sangat menggemaskan.


"Kamu yang memesankan ini?" Agnes menunjuk segelas jus alpukat yang sudah berada di depannya.


"Ya, Alpukat sangat baik dikonsumsi untuk penderita jantung sepertimu. Tapi, sebelum itu kamu harus mengisi perutmu dengan nasi karena jus ini saja tidak akan membuat perutmu kenyang," suruh Gatra.


Agnes terdiam, tetapi bola matanya tampak berkaca-kaca karena terharu dengan perhatian Gatra.


"Terima kasih kamu sudah perhatian padaku." Agnes mengambil sepiring sarapan untuknya.


"Jangan Ge-Er dulu, aku perhatian seperti ini karena tidak ingin terjadi apa-apa denganmu. Kalau terjadi apa-apa pasti aku yang disalahkan dan harus bertanggung jawab. Karena bocah seperti kamu mana mungkin bisa menjaga diri dengan baik," kata Gatra setengah meledek.


Agnes mendelik saat mendengar ucapan Gatra yang sangat ceplas-ceplos. Dia pun menggigit bahu Gatra untuk meluapkan kekesalan. Gatra yang terkejut atas apa yang dilakukan Agnes, hanya bisa merintih kesakitan karena gigitan Agnes bukanlah main-main. Namun, Agnes tidak peduli dan tetap menggigitnya seperti daging ayam yang sangat enak sekali.


"Ya Tuhan, sakit sekali." Gatra mengusap bahunya. Dia yakin pasti sudah ada bekas merah di sana.


"Rasakan! Dasar pria menyebalkan!"

__ADS_1


Agnes bersedekap sembari mengerucutkan bibir yang menandakan kalau gadis itu sedang merajuk saat ini.


__ADS_2