
Duhai senangnya pengantin baru. Sampai melupakan segalanya dan merasa dunia ini hanyalah milik berdua. Yang lain? Ngontrak.
Sama halnya seperti Gatra dan Agnes. Mereka berbagi keromantisan lewat perdebatan, adu pendapat, dan sejenisnya. Kesabaran Gatra nyatanya harus diuji ketika menghadapi sikap Agnes yang benar-benar seperti anak kecil.
"Aku sudah bilang, aku akan tetap bekerja dan menjadi karyawanmu!" Agnes menghempaskan tubuhnya di kasur dan bersedekap kesal. Bibirnya sudah maju beberapa centi hingga membuat Gatra mencubitnya karena gemas.
"Mana ada seorang istri bekerja di restoran suaminya. Tanpa kamu bekerja pun aku akan memberi nafkah untukmu." Gatra pun tidak mau kalah. Entah sudah keberapa kali dua orang itu mendebatkan hal tersebut.
"Ish! Aku tidak butuh uang. Papaku punya banyak uang," angkuhnya.
Gatra berdecak keras. "Sombongnya."
"Aku bukan sombong asal kamu tahu, tapi aku berbicara kenyataan. Aku hanya ingin punya pengalaman bekerja." Agnes masih saja bersikukuh.
"Ya Tuhan, kenapa kamu ini kepala batu." Agnes ingin sekali merem*s istrinya. Ah, ingin merem*s yang anu. Stop!
"Kepalaku bukan batu! Kamu pikir aku ini Malin Kundang?"
"Astaga. Sudahlah. Lebih baik sekarang kita berangkat. Kalau terus berdebat sampai nanti sore kita hanya akan duduk di sini saja." Gatra memilih memungkasi semuanya. Semakin diladeni maka Agnes akan semakin ngeyel.
__ADS_1
***
Setibanya di toko Agnes benar-benar sibuk bekerja sampai melupakan makan siang. Ia terus saja melayani pembeli yang datang silih berganti. Hal itulah yang membuat Gatra merasa kesal. Ia sudah menyuruh Agnes untuk beristirahat, tetapi wanita itu tidak peduli pada perintah suaminya.
"Agnesia Rebecca Januar." Suara Gatra meninggi. Mengalihkan perhatian Agnes yang saat itu sedang sibuk melayani pembeli. Teriakan itu pun membuat beberapa pengunjung restoran menatap ke arahnya.
"Kenapa kamu membentakku?" Bola mata Agnes berkaca-kaca. Bahkan, air matanya hampir tumpah saat itu juga. Sebelum hal itu terjadi, Gatra langsung menarik tubuh Agnes masuk dalam dekap eratnya.
"Ka-kamu, jahat." Agnes memukul dada Gatra sambil terisak keras.
"Maaf, aku hanya ingin kamu mendengarkanku saat ini. Berhenti bekerja dan sudah waktunya untuk makan siang. Bisakah kamu menurut sebentar saja." Gatra mendes*hkan napas ke udara secara kasar. Lalu mengangguk cepat.
Wajah Agnes masih terlihat kusut dan ada jejak air mata di sana. Dengan lembut, Gatra menghapus air mata wanita itu dan tersenyum simpul.
Agnes benar-benar lucu dan seperti anak kecil.
Setelah dirasa istrinya sudah tenang, Gatra pun segera menyiapkan makan siang untuk dirinya dan Agnes. Dengan telaten, Gatra menyuapi Agnes karena wanita itu masih merajuk dan tidak mau makan.
"Apa kamu mau jalan-jalan?" tawar Gatra disertai senyuman licik.
__ADS_1
Agnes duduk tegak dan mengangguk cepat. "Tentu saja."
"Kalau begitu, makanlah yang banyak, setelah itu kita akan olahraga dan nanti malam kita akan berkencan," kata Gatra.
Kening Agnes justru mengerut dalam. "Olahraga? Berkencan? Apa maksudmu?"
"Tidak ada. Sudahlah sekarang kamu makan saja." Gatra tidak ingin menjawab karena baginya semua percuma.
"Katakan dulu apa maksudnya? Aku tidak mau olahraga yang berat. Apalagi berkencan. Kita bukan lagi pacaran," protes Agnes.
"Hah! Kamu sangat menguji kesabaranku." Gatra mencubit hidung Agnes untuk meredam emosinya.
"Sakit! Kenapa kamu jahat selalu menyakitiku. Aku akan mengadu pada papa." Telunjuk Agnes mengarah tepat di depan wajah Gatra.
"Ya Tuhan." Gatra menggeleng sambil berdecak. "Selalu saja mengadu pada papa. Dasar anak kecil."
"Aku bukan anak kecil! Aku sudah gede, lihatlah." Agnes membusungkan dada sambil menepuk salah satu buah yang menggantung di sana.
Gatra melongo sebelum akhirnya terkekeh. "Jangan memancingku, atau aku akan membuat kamu mendes*h di sini, Sayang."
__ADS_1
Melihat senyuman licik di sudut bibir suaminya, membuat Agnes seketika menelan ludahnya kasar.